
"Mbak, udah lama banget kita ga ketemu kaya gini?"
"Sukses ya, selama ini kita hanya komunikasi aja, tanpa bertemu. Mbak bangga, kamu bisa move on. Trus rencana setelah menikah gimana?"
"Banyak mbak, Hanum masih was was. Khawatir juga sama sikap mama yang selalu aja sebut papa. Hanum takut, cemas ga mau tinggalin mama sendirian."
"Wajar Han, orangtua mbak juga seperti itu. Banyak beban saat menjelang pernikahan. Tapi calon suami kamu itu terlihat baik. Dia ga keberatan kan, ajak mama kamu?"
"Ya, mbak. Tapi kan mana tau setelah beberapa bulan berubah. Hanum takut deh." menutup wajahnya.
Nazim segera memegang tangan Hanum, ia bicara untuk selalu tenang. Pikiran tidak baik segera disingkirkan, Nazim juga meminta Hanum untuk selalu tenang ketika ia mempunyai satu problem bersama sang suami, untuk menyelesaikan nya sendiri.
"Kamu tau gak, perceraian mbak sama suami bule mbak dulu gimana?"
"Gimana mbak? apa Hanum boleh sedikit tau."
Nazim sangat private soal rumah tangganya yang dulu, tapi berhubung karena Hanum. Ia menggambarkan kisahnya dulu, agar Hanum tidak menyamakan semua pria sama dan akan baik di awal saja, berikut sebagai gambaran pengalaman hidup.
"Dulu suami mbak, ga ingin mbak Hamil dulu, pengennya pacaran aja. Terus ketakutan pikiran mbak kayak kamu ini. Jadi ada baiknya, kamu sama calon suami terus terang untuk hamil atau menunda. Planing intinya, kamu wajib bersikap tenang juga."
Nazim juga menceritakan banyak hal. Tentang dirinya dahulu sebelum bercerai. Dan tinggal bersama mertua, tidak selamanya toxic tegantung kedewasaan suami masing masing.
Hanum mendengarkan Nazim bercerita, ia menghirup jus sambil memperhatikan mbak Nazim yang bercerita tentang masa lalunya.
Beberapa tahun lalu, Nazim ditampar dan di maki maki.
'Kenapa kamu hamil di saat yang tidak tepat Nazim?!' teriaknya.
Nazim mengernyit melihat reaksi suaminya. Hatinya mengerut kecewa, suaminya nampak tidak bahagia dengan berita kehamilannya.
"Ada apa mas? Mas tidak senang dengan kehamilan Nazim?"
Steco suami bule Nazim tertegun. Dia buru buru merubah ekspresi wajahnya. "Mas senang, sayang. Mas hanya kaget. Mulai sekarang, kamu harus lebih menjaga kesehatan, jangan capek capek!" ucap Steco.
Nazim berhambur ke pelukan suaminya. Walau hatinya masih merasa janggal, namun kata kata suaminya menenangkannya.
"Semoga dengan kehadiran anak ini. Rumah tangga kita semakin bahagia ya, mas," ucap Nazim.
Steco tersenyum kikuk. "I-iya, sayang." Steco balas memeluk istrinya, dengan terbata bata.
Nazim terkejut, ia segera sadar jika suaminya tak suka dirinya hamil lebih dulu. Hingga toxic mertua datang beberapa hari kemudian. Dan malah membela kemauan putranya yang tak ingin kehadiran anak, padahal cucu bagi mertuanya lebih awal.
Pertengkaran demi hari, Nazim merasa kecewa akan sikap suaminya. Belum lagi jarang di rumah. Sehingga satu hari ia mengekor Steco karena gelagat aneh yang selalu bicara meeting.
Bibir Nazim mencebik. Dia berpaling lalu duduk. "Mas sibuk terus. Padahal ini kan hari spesial, hari pertama Nazim periksa kandungan," ucap Nazim. Suaranya terdengar Steco.
"Maafkan aku! aku pergi dulu ya. Meeting sangat membuat aku lelah!"
Nazim mengekor Steco, setelah puluhan kilometer. Ia tak sengaja melihat suaminya bersama wanita lain, yakni sekertarisnya sedang memadu kasih, di ruangan kerja duduk berpangku.
"Mas...tega kamu mengkhianati ku, mas." Nazim menangis sambil memukul mukul perutnya. Tapi ia berusaha tenang, dan sadar untuk tidak menyakiti dan menyalahkan kehamilannya.
Nazim berusaha menghilangkan rasa sesak yang semakin menghimpit. Nazim meraung, bahkan tangisannya pun dapat menghilangkan rasa sedihnya. Hingga ia bertekad menggugat dan pergi dari Steco.
"Jadi gitu kisah mbak! kamu jangan selalu anggap semua pria sama Hanum." jelas Nazim.
"Segitunya ya mbak. Memang akhir ini, aku selalu takut kembali menikah. Belum lagi bayangan kelakuan Alfa, membuat Hanum kadang takut dan curiga kalau Rico bicara, apalagi sekarang ke luar kota."
"Intinya saling percaya Hanum." senyum Nazim menguatkan.
Nazim dan Hanum makan bersama, lalu Hanum juga bicara, jika Rico saat ini sedang ke paris terkait bisnis klien bermasalah yang berhubungan dengan market Marco.
Hanum juga bicara tentang kebingungannya yang sedih mengingat sang mama. Menjelang pernikahan dirinya selalu saja was was.
"Semua pernah mengalami dalam fase kepanikan Hanum. Jadi kamu harus tetap tenang dan berfikir positif ok!"
"Ya mbak, makasih ya. Karena mbak Nazim, Hati Hanum jadi bisa sedikit membaik."
Tak lama saat mereka makan, seorang wanita datang dan memanggil nama Hanum.
"Hanum, boleh aku bergabung. Aku sengaja menemuimu jauh jauh?" lirih seorang wanita.
Tak lama Hanum menoleh, dan benar saja hatinya terkejut ketika wanita itu menatapnya.
"Hanum, nama saya mbak. Mbak bicara sama saya?" balasnya, dan wanita itu mengangguk.
Tbc.