
Lisa bersama mata bulatnya menatap Fawaz tanpa kedip, menunggu kebenaran yang membuat hatinya akan lega atau menderita di samping jendela. Ia mendengarkan Hanum dan Fawaz yang berada di atas rooftop dengan dua kursi panjang yang indah.
Tetapi Lisa tau, jika Hanum masih dengan posisi berdiri menatap kerlip alam yang sangat indah. Terus terang villa Fawaz itu hanya empat lantai saja, namun luasnya memang tak seluas kapal titanic, tapi dekor dan nuansa khas di dalamnya sangat mirip mewah serta elegan.
Apalagi tangga yang melingkar mirip anak tangga dengan karpet merah, yang dituruni Billy Zane sebagai Cal Hockley, Kathy Bates sebagai Molly Brow yang sedang menuruni anak tangga di dalam kapal titanic. Hal itu Lisa gapai kala ia naik ke lantai paling atas, mengikuti Hanum diam diam.
“Apa kamu kira aku bekerja untuk orang lain selain dirimu, Han?”
"Aku tidak menuduh Fawaz. Tapi aku yakin jika kamu bisa menjaga Lisa dan mamaku. Aku berusaha melawannya, tapi aku tidak mau melibatkan kamu dan keluargamu ikut!" jelas Hanum.
"Katakan, apa pamanku dan Alfa sialan itu menyakitimu lagi?"
"Fawaz. Jika kamu benar menghargai keputusanku. Tetaplah kita jadi teman, buang impian untuk kita bersama. Mustahil, setelah aku bercerai dari Alfa. Akan lebih sulit untuk kita bersama, satu hal aku tidak ingin kamu menyakiti mama mu."
"Apa! maksudmu?" bingung Fawaz.
Hanum menceritakan kala dirinya sampai, ia juga mendengar saat ibunda Fawaz meminta dan menyukai Lisa sebagai menantunya. Hal itu membuat Fawaz mengepal tangan karna ia tak punya perasaan apapun pada Lisa. Yang Fawaz inginkan adalah Hanum.
"Aku akan bicara pada mama yang sebenarnya. Han, kita berhak bahagia."
"Tunggu! Fawaz. Jika kamu lakukan, maka aku akan menolaknya. Aku tidak mau ada yang terluka, bukan mama mu saja. Tapi Lisa juga, ku mohon mengertilah. Turuti permintaanku! setidaknya nama mu bersih, tidak tercoreng sebagai dokter!"
Aku tau wanita itu hakikatnya lemah akan pujian dan sentuhan. Karenanya, Fawaz mendekat ke arah Hanum untuk terakhir kalinya. Ia memanfaatkan kelemahan itu sebagai perlindungan atas diri. Ia mengelus lembut punggung tangan Hanum, lalu menyelipkan anak rambut kekasih hatinya yang terjuntai ke belakang telinga.
“Aku bekerja mati matian hanya untukmu. Ah, malang sekali jika aku harus menjauh darimu. Menikahi Lisa,” sebisa mungkin Fawaz menampilkan raut sendu. Ia tahu persis bagaimana Hanum yang tidak bisa melihatnya bersedih.
"Percayalah. Lisa wanita paling hebat, dia tidak sepertiku yang buruk. Bisa saja aku akan kembali jelek, dan kamu ingat tompel di wajah yang selalu pria jijik melihatku. Apa kamu tidak malu? seorang dokter lebih pantas dengan wanita seperti Lisa."
"Tapi aku hanya ingin kamu Han, kamu satu satunya aku bisa seperti ini."
"Kamu salah, kamu berhasil karna diri kamu sendiri dan dukungan mama. Jangan buat hati wanita menangis, kamu akan mengerti bagaimana tulusnya Lisa dan cantiknya Lisa. Kamu hanya terlalu introvert, cobalah mengenal Lisa!"
Aliran listrik sontak menjalar di sekujur tubuh. Hanum sebisa mungkin untuk tidak memeluk Fawaz di ruangan terbuka seperti ini. Ia sangat rindu dengan pria itu. Sayang, masalah kerap sekali menunda pertemuan mereka berdua.
Hanum tersenyum. Betapa mudah meluluhkan benteng pertahan amarahnya. Hanya dengan sebuah sentuhan dan perkataan mesra, Hanum itu spontan terenyuh. Kala Fawaz menatap dan memegang punggung tangannya, seberusaha mungkin ia tak ikut menangis, kala Fawaz berkata dengan terbata dan menatap dengan dalam.
"Yap! aku tidak akan pernah berdiri lagi, apalagi meminta kamu untuk dekat denganku Hanum. Tapi aku tak ingin air mata orang yang aku sayangi kembali jatuh dan sakit, jika hatiku bisa terbuka untuk Lisa maka aku akan menikahinya sesuai janji kita, tak boleh menumpahkan air mata seorang wanita. Tapi jika aku tak bisa menepati dan mencintai Lisa, maafkan aku Hanum!"
"Jangan seperti ini, maaf hubungan kita harus seperti ini Fawaz. Aku bahagia jika kalian bersama dan berjodoh!" senyum Hanum, membalikan badan dan berlari. Ia menutupi air mata yang menguras begitu saja jatuh tak henti hentinya.
Lisa yang tak percaya, entah harus bahagia atau bersedih, tidak menyangka Hanum akan mengatakan hal di luar dugaannya. Maka dari itu ia juga pergi sebelum di ketahui Hanum dan Fawaz yang akan melintas.
***
~ Satu Minggu Kemudian ~
Ruang pengadilan.
Hanum saat ini kini berada di pengadilan, ia menatap seseorang dengan membuang wajah, kala Irene dan Alfa ikut hadir. Mungkin Irene menyemangati Alfa untuk bisa tetap menyetujui keputusan yang di layangkan Hanum.
Spekulasi buruknya mendadak menyisakan eurofia ( perasaan yang ekstrem atau tidak realistis).
Di hadapannya, Alfa ikut menarik kedua sudut bibir. Lihat lah! Betapa menawannya raut Alfa. Rahang tegas, garis tegak hitam di atas mata, hidung runcing, bibir merah serta poni indahnya membuat hati kaum hawa manapun akan terpaut. Dan, kekayaan yang dimiliki Alfa kian menambah pesona personalnya. Mustahil sekali Hanum meninggalkan pria tersebut.
Irene berdiri, mendekat ke arah Hanum sambil memuji Alfa juga menyayangkan aksi Hanum yang memilih bercerai.
"Simpan saja kekayaanmu yang kamu harapkan! bukankah selangkah lagi kamu akan menjadi nyonya Alfa? dan kamu akan tau apa yang terjadi padamu nanti Irene, jadi nikmatilah!" tegas Hanum ikut menatap Irene.
“Jangan percayai omongan orang lain yang belum tentu benar ya! Kan, yang menjalani kita!" sebuah hasutan mulai disuntikkan Alfa pada wanita bernama Irene.
"Memang benar kalau suatu hubungan percintaan, kita lah yang menjalani. Namun bukan berarti kita juga seolah tutup telinga dengan perkataan orang lain. Siapa tahu yang disampaikan memang benar adanya. Kita bisa terluka di akhir cerita kalau terlalu sering mengabaikan nasehat orang." ungkap Hanum sambil menepuk tangan, lalu melewati Irene dan Alfa yang menatap tajam.
“Aku mencintaimu. Tetap lah bersamaku darling!" lirih Irene manja sambil bergelayut di lengan Alfa. Guna membuat hanum cemburu dan menyesal.
Lelaki 28 tahun itu berhasil mengelabui anak orang habis habisan. Ia tersenyum sinis tatkala Irene merebahkan kepala di bahu kirinya. Sungguh, pria tersebut tak ingin namanya jelek di depan siapapun. Karenanya, sebisa mungkin ia menyusun siasat agar kedoknya tak pernah terbongkar, termasuk tetap bersikap manis pada Irene sekalipun hatinya sudah risih pada Hanum, juga ia memberi pelajaran pada Hanum kelak.
“Aku jauh lebih mencintaimu. Dan, kupastikan secepatnya kita akan menikah,” bisik Alfa.
Sementara Hanum masuk lebih dulu ketika ruang mediasi telah disiapkan. Hanum ikut terkejut kala sebuah lembaran yang ia baca, menurutnya memberatkan.
To Be Continue!!