
Alfa kini meminta maaf, mode memeluk dari belakang. Kala Hanum berdiri meninggalkan Alfa, ia sungguh harus banyak bersabar. Mendapati pria egois, sulit di percaya Alfa masih saja bertingkah aneh.
"Alfa, aku harus menjemput mama check up. Sekaligus aku bisa pulang sendiri!"
"Hanum sayang, aku antar ya!"
"Sepertinya dirimu perlu theraphy. Agar sudahi semua ini. Urus saja Irene mu!" cetus Hanum pada Alfa.
Hanum segera pergi, ia mengabaikan Alfa yang memanggilnya. Sudah beberapa pesan Hanum abaikan, saat ini ia meminta Lisa membantunya untuk proses berpisah. Dan mendampingi alasan yang jelas pada Maria mertuanya. Belum lagi sang mama, Hanum tau jika mamanya masih menderita asma dan sering kambuh. Maka itulah dilema Hanum untuk mengatakan yang sejujurnya.
'Ya! semua emang salah aku, harusnya aku ga memutuskan untuk menerima Alfa. Pria itu memang jodoh ka Lisa, meski akhirnya Lisa akan menolak.' batin Hanum.
"Darling! meeting kita bagaimana?" manja Irene.
"Hentikan kelakuanmu Irene! saat ini kita bukan siapa siapa. Setelah kontrak berhasil, perusahaan Jhonson akan merehatkanmu!"
"Kau mengancam?" sinis Irene.
Alfa pergi begitu saja ke ruang meeting. Elmo mengekor, sementara Axel anak kecil yang di bicarakan adik dari Irene. Dia hanya termangu kebingungan, dan Irene mau tidak mau menghubungi seseorang untuk mengantar Axel adiknya pulang. Irene sengaja, karna ia sudah cukup tau jika adiknya terlalu sayang pada Alfa. Sehingga ia gunakan Axel pergi ke kantor Alfa demi bertemu kekasihnya itu.
DI RUMAH SAKIT.
"Sayang. Kamu tau, Alfa membuat kesalahan." lirih Maria.
"Kesalahan apa, aku tidak tau. Apa maksudmu?" pinta Jhoni menyilangkan alis.
"Putra kita menampar Hanum. Aku melihatnya, dan mereka bicara jika pernikahannya adalah sebuah tanda pengenal saja. Hanum istri ktp Alfa." jelas Maria, ia menjelaskan dengan bulir air mata berderai.
"Jangan menangis. Hentikan sayang! jika Alfa berbuat seperti itu, kita akan meminta Hanum untuk merubah putra kita. Kita buat perjanjian, soal artis movie itu. Biar aku yang menanganinya, kamu jangan khawatir ya!"
BERBEDA DENGAN HANUM.
Saat ini ia sedang berada di taksi dalam perjalanan menuju restoran dekat rumah sakit al zeera, hingga dimana ia terkejut ketika mbak Nazim telah memberikan peringatannya untuk datang, karna ia berada di sana dan meminta pertolongan.
Kebetulan sekali Hanum berada di sekitar itu, sehingga ia langsung menerka dan benar saja, itu adalah Nazim dengan seorang pria bule.
"Tunggu, apa itu mantan suami mbak Nazim?"
Hanum memanggil, tapi ia terhenti kala sahabat baiknya itu sedang beradu perkataan. Mungkin masalahnya belum selesai, atau sidang berlanjut.
Maklum Nazim menikah beda suku dan agama. Sehingga menurut Hanum sangat rumit dalam hal kecil apapun.
[ Percakapan Nazim ]
Sembuh, dengan tingkahmu yang bukan dirimu mas. Mana bisa aku percaya, kamu benar benar menjengkelkan kala bertingkah seperti anak kecil yang berulah. Di mana Matheo yang wibawa penuh serius, bukan Matheo yang kepo dan ingin tau masalah semua dan kamu selesaikan.
"Ingat kita itu mantan, aku mantan istrimu! jangan lagi kamu datang padaku!" ungkap Nazim.
"Tapi aku mohon. Kita harus kembali, atau aku akan memaksa!"
"Mr Theo. Go! aku bilang pergi dari hadapanku!" teriak Nazim. Hal itu membuat Hanum mencari bantuan pada security.
"Pak. Tolong saya!" teriak Hanum, sehingga Nazim sadar dan tertolong.
"Mbak gak kenapa kenapa kan?"
"Baguslah kamu cepat Han, mbak bener ga kuat soal mantan suami mbak yang egois dan prosesif.
Hanum berusaha menutup dan membuka pesan, kala harusnya ia menghubungi dokter Felicia untuk konsultasi kelanjutan kandungannya. Namun ia menatap pesan, sehingga wajah mbak Nazim masih erat dengan kepanikan.
Hanum dan Nazim juga terlihat kembali tenang. Hanum juga bicara ia akan ada jadwal cek kandungan. Sehingga saat itu Nazim ingin ikut. Meski Hanum melarangnya, tapi mau tidak mau Nazim ikut. Hanum pun menceritakan semuanya saat ini ia sedang hamil.
"Serius. Kamu hamil Hanum?".
"I see. Aku tau, kamu jatuh cinta. Fix itu namanya kamu mencintai dia, Hanum."
"Ga Akh! itu bukan aku." tersipu Hanum saat ini. Sehingga Nazim mengajak Hanum ke suatu tempat, tak jauh dari ruangan medis.
CERITA P**EMOTRETAN NAZIM**.
Nazim yang di berbeda tempat, ia harus di rumitkan dengan satu masalah.
"Mas, aku akan pergi ke amsterdam. Menyusul Vero, aku harus gimana. Bukankah cutinya lusa?"
"Biarlah, mas juga meliburkan Agar ia menyusul cintanya padamu tak sungguh sungguh." senyum Theo yang alibi berpura pura, dan menoleh ke arah Nazim.
"Mas, kenapa kamu jadi seperti ini sih,?" syok Nazim lemas duduk di kasur size besar. Hingga beberapa hal Nazim banyak cerita tentang kisahnya dengan mantan suami, pada Hanum.
Intinya Nazim berpisah karna cinta segitiga! gumam Hanum mencerna.
Hanum juga memikirkan banyak lelah akan suaminya yang berubah drastis. Pantas saja papa mertua meminta aku menghandal sementara waktu, jadi papa sudah tau duluan jika Alfa terkena masalah di kepalanya? cemas dan serba bisa, yang harus Hanum lakukan. Jika kisah Nazim sedikit mirip, karna mantan suaminya juga mengkonsumsi obat.
"Sayang. Kok bengong, dengar aku bicara tidak?" Hanum di sadarkan.
Tapi Nazim yang saat ini sadar juga, ia kembali disadarkan dengan perasaan tak menentu. Ia salah bicara pada Hanum saat ini.
Pria itu memintamu, menarikku. Tapi kenapa kamu memilih Hanum?! lirih Nazim.
"Aku gak tau mbak, Hanum bingung."
***
CUT OKE MULAI ...!!
Lisa yang telah selesai, memberikan earphone dan ia terkejut kala di mobil yang harus ia temui. Supir yang telah ia harus naiki dengan namanya, di ekploitasi oleh yang kini sedang menyamar menjadi peran protagonis.
"Pak Sutra! eeh, sutradara. Saya ijin toilet ya!" pintanya. Saat sedang break.
Tetapi lain hal dengan Hanum, tetap saja Nazim bisa tau tanpa pertemuan saja. Tapi lagi lagi pria bule itu mengejarnya. Mr Theo, dan Nazim berpisah pada Hanum.
"Theo, kamu .. Gila kenapa kamu di sini lagi?" menggedor gedor untuk membuka pintu, tapi nahas mobil itu telah pergi hingga kesuatu tempat.
"Aku ingin bicara pada Nazim. Bolehkan?"
"Dia kesana, maaf ya!" Hanum menjaga jarak berlawanan arah.
Hanum berusaha menutupi wajahnya. Hingga dimana seseorang memberikan sebungkus plastik biru dengan halus.
"Hanum! obatmu, ini sudah aku ambilkan." lirihnya, membuat mata Hanum membulat dan membuka matanya ke arah pria berseragam medis, yang memberikan obat dan vitamin.
"Fawaz. Kamu disini lagi. Sedang apa disini?" tanya Hanum setelah menggeser tubuhnya menjauh dari Nazim dan pria bule.
"Aku tau kamu sedang menunggu dan cek kandungan kan? Dokter Felicia yang membocorkan. Kamu lupa?" goda Fawaz.
Hanum mengangguk, ia juga menoleh kesisi kanan dan kiri. Berharap Alfa tak pernah lagi datang dan menjemputnya.
"Fawaz. Soal Alfa, apa kamu masih menganggapnya serius?" tanya Hanum.
"Serius. Soal apakah itu, hubungan kita?"
"Heuuumph! aku ingin mendengar semuanya dari kamu Fawaz. Please!" pinta Hanum.
To Be Continue!!
Banyak Typo! maaf ya, ga konsen karna ngebut nulisnya. Tapi udah Author revisi, semoga baca ulang lagi ya! Thanks.