BAD WIFE

BAD WIFE
HARI PERTAMA



"Identitasku, di rubah menjadi Hanum Larasati."


"Kenapa ingin merubahnya,?" tanya Mark. Hanum terdiam menunduk, ia berjaga jaga ketika Alfa akan mengenalinya.


Belum lagi, luka di pipi yang terlihat tompel sedikit rusak, karna sebuah luka merah dan mengelupas. Mungkin butuh waktu agar Hanum bisa menutupi wajahnya sedikit.


"Baiklah! Erwin akan membantumu, itu hak kamu nak! apa ada lagi?"


"Bisakah aku meminta tidak tinggal di rumah ini. Sepertinya putra anda tidak suka, lagi pula saya sudah bisa berjalan dengan baik?"


Hahaaa! tawa Mark dengan menatap Erwin, ia mengangguk. Lalu Mark pamit, bicara pada Hanum akan di bereskan oleh asistennya yang bernama Erwin.


Hanum tak menyangka, ketika di pertemukan dengan seorang pria paruh baya, seperti mendiang papanya. Bahkan sikap lembut dan tertawanya membuat Hanum teringat papa, ia jadi semakin rindu dan betah. Tapi melihat putranya hampir mirip dengan Alfa yang cetus membuat Hanum berfikir dua kali.


'Hah! apa putra orang kaya selalu pedas jika bicara dengan seorang wanita?' benak Hanum.


BEBERAPA HARI KEMUDIAN.


Benar saja, Hanum merasa beruntung. Ia kini tinggal di sebuah rumah kecil. Kontrakan milik keluarga Mark. Erwin mengantarnya dengan baik, memberikan identitas baru dan sebuah kontrak kerjasama.


"Apa ini?"


"Pak Mark, memposisikan anda bekerja ke marketnya!" pamit Erwin.


Hanum melihat berkas kuning, ia duduk di sofa dan melihat isi pekerjaan apa saja. Hanum tak percaya, ia akan diposisikan di market terbesar. Meski begitu, Hanum terharu. Jika ini adalah awal dirinya kembali menata hidup.


Hanum menggeser hordeng, ia melihat seorang ibu dan anak perempuan berjalan. Hal itu mengingatkannya pada Lisa dan sang mama.


"Bagaimana keadaan Lisa? aku belum bisa muncul, apalagi sanggup bertemu Alfa. Tidak mungkin aku sanggup, karna aku telah menghancurkan rumah yang mereka rampas tanpa ijin." lirihnya.


Hanum juga berharap Fawaz bisa mencintai Lisa dengan tulus, tak menapik saat ini Hanum ikut senang.


"Tuan Mark terimakasih sudah membantu Hanum, semoga semesta memberi kebahagian dan kesehatan selalu untuk bapak!" deru Hanum kala ia sudah bisa bekerja di market milik keluarga Mark.


\*\*\*


"Papa yakin, masukin wanita itu ke tempat kerja. Bagian gudang lagi, nanti kalau terjadi sesuatu gimana?" tanya Adelia.


"Papa yakin dia gadis baik, cepat habiskan sarapan. Kamu jadi jemput Lion?" tanya Mark.


"Heuumph! aku udah telat nih, Lion pasti sudah keluar dari les tambahan."


Adelia pamit pada sang papa, karna ia juga akan langsung memberikan data ke kantor Rico.


Sementara Hanum di market Marco.


Hanum menghela nafas, pagi ini matahari sudah terbit seperti jam sembilan. Panas pagi sangat nyentrik, Hanum segera meraih tas ransel. Ketika masuk, satu security sudah menghadang dan menayakan perihal Hanum yang kini sangat asing.


Hanum segera memberikan kartu nama dan menyapa namanya. Sementara pak Erwin orang kepercayaan tepat baru tiba, ia juga langsung meminta Hanum segera masuk. Mengenalkan pada supri security jika Hanum pegawai baru.


Hanum segera di kenalkan beberapa staf oleh pak Erwin. Hanum di persilahkan memahami segala pekerjaannya. Di bantu salah satu karyawati yang mahir.


Pekerjaan Hanum sangat lancar, tanpa hambatan ia mudah memahami suatu pekerjaannya hingga akhir. Jam makan siang, Hanum duduk dengan sekotak nasi putih dan telur rebus, berbahan kecap dan kerupuk yang ia beli dadakan.


'Dua puluh sembilan hari lagi, aku baru bisa dapat gaji. Sabar Han, kamu pasti bisa lewati semua ini.' batin Hanum, ia segera melahap makan siang tanpa henti agar bisa kembali bekerja.


Rasa syukur Hanum adalah pergi dari kehidupan Alfa. Hingga dimana ia akan kembali dengan wajah baru, karna Hanum yakin Alfa pasti sedang mencarinya.


Erwin merasa aneh, tidak biasanya Rico sangat antusias. Terlebih kala kabar Hanum sudah pergi dari rumahnya. Hal itu karna Rico pernah mengalami trauma pada orang asing, baiknya sang papa membuat satu kejadian yang selalu Rico hindari untuk terlalu baik. Meski sikapnya menyebalkan, tapi solidaritasnya tinggi.


"Maksud pak bos, Hanum?"


"Haah, bukan. Sudahlah lanjutkan saja kerjamu!"


Rico segera pergi ke ruangan kerjanya. Hanum yang saat ini membawa satu dus bahan kosmetik untuk di pajang. Dan mengganti sebuah bandrol harga yang berubah setiap hari.


Rico yang tersenyum melihat wanita yang celaka karnanya, ia mengintip dari rak besar. Sehingga saat ia mundur sebuah gulungan dus jatuh ke lantai. Membuat tatapan Hanum menoleh ke arah pria berjas hitam yang berjalan secepat kilat.


Bagai telepati, hilang dengan cepat. Hanum segera meletakkan bandrol harga. Lalu membantu karyawan lain yang membereskan.


"Saya bantu ya mas. Emang yang jatuhin itu custumer ya?"


"Makasih mbak. Bukan itu .." karyawan itu diam menunduk, kala kode dari sang bos untuk diam.


"Saya tadi yang nyenggol." jawabnya.


"Adelia, kenapa kesini?" terkejut Rico kala adiknya datang, bagus saja tak melihat ia yang sedang memperhatikan karyawan baru.


"Rico, aku tidak sengaja menjatuhkan pensil yang aku pegang, setelah mendengar suara barang jatuh, katanya kamu jatuhin dus?"


"Sssst! diam, kemarilah!" Rico membawa adiknya itu keruangannya.


Hal itu agar Hanum tidak mendengar, letak Hanum sedang menata, dengan karyawan lain. Tak jauh, cukup menoleh sedikit satu meter Rico bisa melihat wajah Hanum, begitu pun sebaliknya.


"Tidak ramah! kamu kenapa aneh sih Ric, ga pake bekap mulut segala!" gerutu Adelia.


"Sory! kamu bawa data bulanan?" tanya Rico, lalu Adelia mengiyakan. Tapi matanya melirik ketika Lion tak ada.


"Tunggu! ih, bocah itu pasti keluyuran lagi." gerutu Adelia yang mencari anaknya.


Sementara Hanum kembali mendongakkan kepala dengan heran, setelah menempelkan bandrol harga. Ia melihat anak kecil berlarian dan turun dari lantai atas, lalu ke arah lorong saat Hanum masih sibuk bekerja.


Anak itu terjatuh tepat dekat Hanum, sontak anak itu kembali bangun dan menatap Hanum dengan tatapan tak biasa.


"Tante Hanum ya?"


"Loh, kamu adik kecil yang di kedai itu ya?"


Hanum juga benar benar tidak bisa lepas dari perempuan yang berjalan ke arahnya, hari itu ia mengenakan gaun berkerah V dan outer bulu berwarna brown dan riasan wajah cantik.


Senyumnya yang menawan dan panik, membuatnya terlihat seperti perempuan dari kalangan atas. Wanita yang sibuk, saat itu anaknya protes karna sang mama terlalu sibuk bahkan di akhir pekan.


"Kamu, kenapa disini? kamu kerja di Marco. Hah, kenapa aku ga tau ada karyawan baru?" sinis Adelia.


Anak kecil itu menarik baju lengan Hanum, ia berkata untuk selalu sabar pada cetusan sang mama saat bicara. "Tante, mama menyebalkan tapi dia baik. Jangan ambil hati ya!"


"Tentu sayang." senyum Hanum.


Adelia yang menarik putranya, terhenti ketika panggilan masuk dari ponselnya. Hanum masih berdiri dan berusaha sibuk dengan menukar kembali bandrol putih. Hanum terdiam kala wanita itu menyebut nama seseorang.


"Ya pak! baik, kerja sama Marco pada Market Jhonson pasti akan terjalin. Saya akan segera kabari, kebetulan pak Rico sendiri yang tangani." lirih Adelia, membuat Hanum menoleh dengan pucat pasi.


**To Be Continue**!!