BAD WIFE

BAD WIFE
CURIGA PINGSAN



"Kenapa Han?" tanya Nazim.


"Bunda ayo! Leo udah ga sabar, mau makan bareng papa."


"Sayang! kamu duluan boleh? ke sebelah kanan, nanti kamu lihat ruangan papa paling pojok sebelah kanan. Bunda nyusul ya! bunda mau bicara sama aunty Nazim dulu." jelas Hanum, sedikit menurunkan posisinya sejajar.


"Okee!" gembira Leo.


Nazim mendekati Hanum, ia memegang bahu Hanum, untuk menanyakan perihal apa yang membuat Hanum seolah khawatir.


"Kamu ada masalah Han?" tanya Nazim.


"Mbak, beberapa hari lalu Hanum lihat nomor ini, jelas banget saat panggilan malam malam. Ada foto wajah mirip, seperti foto dalam meja ini. Apa ini karyawan baru, staff umum yang di bilang mas Rico." deru batin tak enak.


"Hanum, bukannya aku mau ikut campur. Tapi apa perlu kamu curigai suamimu? kamu ga tanya saat itu, dia siapa? supaya kamu lega."


"Enggak mbak! Hanum tidak berani, dan ga ingin juga. Selama menikah, Hanum tidak pernah berniat melihat isi ponsel mas Rico."


"Han, udah yuk! lagian kita ga tahu, kali aja hanya staff umum biasa yang ga ngerti atau ga sengaja dia bingung, jadi kartu nama perusahaan owner dia hubungi. Kasian suami kamu udah tunggu kamu. Jangan mikir yang bukan bukan ya! kasian baby." senyum Nazim, dan Hanum mengangguk.


Sebelum Hanum ke ruangan Rico, terlihat jelas Rico sudah memegang jari tangan Leo, ikut menghampiri.


"Mas, surprise."


"Sayang! terimakasih, mas ga sangka kamu datang. Tepat sekali, mas laper berat."


"Wah, aku datang di time ga tepat. Baiknya aku makan siang dulu deh! Rico, Hanum aku makan siang dulu di tempat lain. Kalian lebih baik makan bersama dulu. Biar ga ganggu." ujar Nazim.


"Mbak, ga apa apa. Kita makan bareng aja! Hanum bawa makanan agak banyak loh."


"Ish, ga baiklah. Ya udah, nanti satu jam lagi aku balik lagi kesini." pamit Nazim.


Selama beberapa puluh menit, Hanum dan Rico saling suap. Rico terbantu ketika Hanum datang, karena sebentar lagi ia akan meeting dengan klien. Belum lagi jadwal padat, terkadang membuat dirinya melupakan makan.


"Mas, Hanum ganggu ya?"


"Ga dong, tepat sekali. Mas sangat berterimakasih sama istri mas yang cantik ini. Sudah mau direpotkan, setelah jemput Leo, kamu sempetin ke kantor."


"Leo kamu di sekolah gimana? lancar, ada teman yang ganggu?"


"No. Leo paling tampan, jadi tidak ada yang mau buat ulah dengan Leo, papa lupa Leo punya mata yang tajam, dan wajah sedingin papa?"


Whoooah?! Hanum dan Rico, sangat terkejut dengan tingkah bocah menggemaskan ini.


"Good, kamu terbaik Leo." senyum Rico.


Tak berapa lama, Hanum masih penasaran dengan ruangan staff umum baru, yang membuat Hanum sedikit ingin bertanya tapi takut.


"Mas, Hanum boleh tanya?"


"Boleh, soal apa sayang?"


Selepas Hanum memberikan minum, kala Rico telah mencuci tangan dan me-lap tangannya dengan tisue basah. Hanum tak jadi bertanya soal foto, dan ponsel yang baru saja ia lihat tadi. Sebab perutnya terasa sakit dan sangat sakit, sehingga membuat Hanum sedikit berteriak menahan.


"Aaaaawwwh." meringis.


Bruugh!! teriak Rico, membuat ia menahan kepala Hanum, sehingga bersandar tidak terjatuh.


Leo yang ikut menyudahi makan siang, ia berlari memanggil paman Erwin. Saat itu juga, Rico menggendong Hanum dan segera pergi mencari rumah sakit terdekat. Rico pun berpapasan pada Erwin yang ingin makan siang.


"Erwin, ikut ke rumah sakit. Antar Leo pulang setelah itu!" mode panik.


Rico berusaha tenang, tapi karena Hanum tiba tiba pingsan. Ia sangat khawatir, karena sebelumnya Hanum tak pernah seperti ini.


"Sayang, bertahanlah! kita sebentar lagi sampai rumah sakit." deru Rico, mengeluarkan air mata.


***


Rumah Sakit.


"Suster tolong!" teriak Rico, memanggil suster untuk menaruh Hanum di ranjang rumah sakit.


Rico berada di depan ruang ugd. Ia menunggu Hanum untuk segera di tangani oleh dokter. Dokter Hera segera tiba, dokter kandungan yang biasa Hanum cek rutin kesehatan akan kandungannya yang kedua kali ini.


Hingga ia mencoba memencet nomor teman terbaik Hanum. Yaitu Nazim, baru saja Rico dapatkan sejam lalu yang Hanum berikan. Namun ia duduk lemas, kala mengingat Hanum tak berkutik pucat pasi seperti melihat hantu, saat ia pegang tangannya dingin membeku.


Rico membawa Hanum ke rumah sakit. Tapi ia tak sengaja menatap wajah wanita yang benar benar mirip dengan seseorang. Yang mana ia ingin mengejarnya, namun Hanum saat itu masih dalam mode di gendong ala bride style, sebelum suster membantunya.


Rico pun duduk, dengan panik menunggu Hanum diperiksa.


"Ya Tuhan, ampuni aku yang terlalu sibuk, selamatkan istriku. Jangan biarkan istri dan bayiku terjadi sesuatu, meski segalanya kehendakmu. Aku mohon selamatkan mereka." lirih Rico, yang duduk menunggu dengan perasaan gundah dan ketakutan.


Dan di ujung lorong, terlihat Erwin melangkah, terlihat juga Nazim sedikit jalan cepat ketika mendengat kabar Hanum dilarikan ke rumah sakit dengan tiba tiba, Nazim tak peduli adanya Erwin. Niatnya adalah menjenguk Hanum.


Dengan banyak permasalahan, Erwin semakin pusing. Apa ada hubungannya dengan keluarga Jhonson, Hingga Erwin inisiatif akan mengunjungi dan mencari tahu di mana keberadaan Alfa dan Adelia, karena ia yakin Hanum migrain dan pingsan, karena memikirkan sesuatu hal berat, dan ia sembunyikan dari Rico.


"Alfa dan Adelia. Dua sejoli yang sulit gue artikan. Belum lagi zona steel penumpahan darah pada Hanum yang phobia darah lusa lalu. Gue yakin, Alfa ada di balik semuanya, ga mungkin Hanum bisa tiba tiba pingsan lagi." hal penat Erwin memgungkap banyak misteri, hal ini yang membuat ia sering bicara sendiri dengan banyak banyak pertanyaan di otaknya.


"Erwin tunggu! apa Hanum mendapat ancaman atau pesan misterius lagi? kenapa dia pingsan tiba tiba?" tanya Nazim, dan Erwin melirik.


"Jika aku tahu, aku tidak akan ke rumah sakit. Dan membatalkan klien penting di kantor." cibir Erwin.


"Tunggu Erwin, ini nyata kan. Kenapa nomor ini, ada apa dengan semua ini Erwin, ingat belum lama Hanum melihat pesan ini, dia juga kirim ini sebelum ke kantor?" ujar Nazim menatap ponselnya, dan ia berikan pada Erwin untuk di lihat.


Erwin segera mengambil ponsel Nazim. Lalu ia menyambungkan dengan berkali kali saat panggilan itu terputus.


"Nomor ini, ikut aku sekarang!" Erwin menarik Nazim, sehingga mau tidak mau, mereka menjauh dari ruang Ugd, dan menjauh dari posisi Rico saat ini.


Sementara Rico, ia menoleh dan aneh kala melihat punggung yang mirip Erwin menarik seorang wanita, tapi ia kembali fokus menatap ruangan ugd yang masih menyala, ia berharap Hanum tidak terjadi hal yang serius saat ini.


Tbc.


Mampir yuks! judul PEKA.


BERI DUKUNGAN JUGA! VOTE, GIFT ATAU HADIAH.


Menjelang End, Author akan buat se'ringan mungkin konflik. Terimakasih atas dukungannya untuk Hanum.