BAD WIFE

BAD WIFE
KISAH SEDIH LISA



MASIH BAIT HALAMAN KEDUA.


Apakah kalian membawa barang yang sudah Kakak suruh? Apakah ada yang tidak membawanya? Dan jangan salah membawa, jika ada akan Kakak beri sanksi. Sekarang simpan semua barang-barang tersebut di atas meja kalian. Ketika Kakak menyebutkan barang tersebut kalian harus mengangkatnya dengan cepat! Mengerti?!”


“Siap, mengerti, Kak!” ucap seluruh siswa kelas serentak, termasuk Lisa saat di sekolah.


Walaupun Sinta berusaha untuk menenangkanku, tapi perasaan ini terasa tidak karuan. Jari jemariku mulai terasa dingin dan dibasahi keringat. Ya Allah, tolong hamba!


“Telur cicak.” Semua mengangkat snack yang bentuknya seperti telur cicak.


“Hari Baik.” Hari baik kiasan dari kopi, semua membawa dengan benar.


“Kacang hijau seribu.” ujar kakak pembina.


Awalnya tangan Lisa kaku untuk mengangkat kacang hijau itu tapi, Sinta memaksa tangan Lisa untuk memegang dan mengangkatnya.


“Itu kamu Lisa, kenapa kamu tidak mengangkat kacang hijau? Kamu tidak membawanya?”


Lisa tidak menjawabnya.


“Lisaaa!”


Sorot mataku melihat kakak pembina penuh rasa bersalah, mataku memejam dan bibirku terlipat.


“Kamu tidak membawanya?” kelas hening tanpa lirih suara, terkecuali suara kak Tasyi yang melengking.


“Bawa, Kak.”


“Mana? Belum juga resmi menjadi anak SMA. Sudah tidak mematuhi. Ini semua untuk kebaikan kamu! Agar kalian menjadi disiplin.”


Lisa hanya membisu.


“Kalo gitu kamu Kakak beri sanksi. Ayo, ikut Kakak!”


Aku semakin tidak tega, aku tidak boleh bersembunyi lebih baik berkata jujur. Aku siap untuk menerima sanksi, tak peduli karena memang ini kesalahanku. Tak pantas rasanya bila Lisa yang harus mendapat sanksi itu.


“Kak…” suaraku memanggil semua sorot mata, semuanya memandangku.


“Izin berbicara, saya Sinta. Maaf sebelumnya Kak, sebenarnya saya yang tidak membawa Kacang Hijau. Ini milik Lisa, dia memberikannya pada saya. Jadi saya yang pantas diberi sanksi, Kak. Bukan Lisa.”


“Dia bohong Kak, Sinta hanya ingin membantu saya.”


“Siapa ini yang sedang berbohong?” Kak Tasyi menghampiri mejaku.


“Lisa Kak,” Aku berusaha meyakinkan kak Tasyi.


“Kak, maaf ini saya ternyata bawa. Saya lupa menyimpannya di bagian tas depan. Maaf, Kak.”


Ada kata yang telah menyentuh hatiku. Sebentar, rupanya hati sedang mempengaruhi logikaku. Sikap seseorang dapat berubah, apakah hati pun akan berubah, seperti sikapnya? Entah. Aku tidak menyangka ternyata Lisa tidak seburuk yang pernah kupikir. Merasa menyesal atau tidak bagi Sinta.


Aku pun tidak bisa membuat kesimpulannya. Dan entah dipikiranku dia masih terkenal dengan keanehannya. Jika dia membawa dua bungkus kacang hijau, kenapa tidak bilang saja dari awal kepadaku? Apa benar dia lupa menyimpannya? Ataukah dia hanya ingin tahu apakah aku akan membelanya? Ah, seolah ini menjadi pertanyaan besarku.


Sinta dan Lisa, tak jadi dihukum oleh kakak pembina. Dan ini adalah awal pertemanan kami, yang merintis menjadi vloger akan indahnya dunia.


Upacara penutupan MOS berjalan dengan khidmat. Barisan terlihat begitu rapi karena sebentar lagi aku akan segera menjadi anak SMA.


“Siswa terbaik untuk MOS tahun ini diraih oleh siswi yang bernama… Lisa Saraswati” Tidak abis pikir di tengah pikiranku yang kosong, terdengar dengan lantang kepala sekolah menyebut namaku sebagai siswa terbaik selama masa orientasi.


Gemuruh tepuk tangan meramaikan suasana, terutama teman teman satu kelasku. Aku melirik ke sebelah kanan, di sebelahku Ryan kakak pembina. Dia tersenyum padaku.


Aku pun keluar dari barisan berlari dengan hati yang berbunga menghampiri bapak kepala sekolah. Senyumku merekah menerima sertifikat dan piala sambil melihat kamera yang siap memotret. Setelah bersalaman dengan kepala sekolah beserta guru guru, aku kembali ke barisan kelasku.


“Ini baru temen, gue!”


Berbagai terpaan pujian kurasakan, teman laki-lakiku memegang piala dan sertifikatku karena aku menerima pelukan hangat dari teman-teman perempuan.


Siswa pun berhamburan ke kelas setelah upacara selesai, aku berjalan menuju kelas sambil memegang sertifikat dan piala. Terdengar langkah kaki di belakangku.


“Lisa… Congrats ya!” rupanya Ryan.


“Bagaimana kemarin wawancaranya?”


“Alhamdulillah, lancar, Ka. Hehe…” oh ya, jadi kemarin itu perwakilan setiap kelas dipanggil oleh kakak OSIS untuk diwawancara. Entah untuk apa, tapi dengar dengar itu untuk seleksi siswa terbaik. Kemarin aku yang menjadi perwakilan itu pun ditunjuk oleh kak Tasyi.


“Lisa, thank you! And sorry.” Lanjutku lagi.


“For?”


“Kacang. Hehe…”


“Lupakan, itu sudah berlalu kak.”


Aku hanya bisa membalas dengan senyuman, tapi kali ini senyumku benar benar untuk seseorang dibalik punggung kak Ryan, yakni dokter magang yang berada di kelas uks.


Lisa melihat nametag, dr Fawaz. Tatapan handsome menggemaskan, lewat di depan matanya dan mengacuhkannya. Seolah Ryan sadar, ia menutupi dengan bahunya. Lisa menyingkir dan masih menatap sosok pria bernama Fawaz.


"Jodohmu disini Lisa. Ngapain cari yang acuh?" ujar Ryan.


"Karena dia cool. Jika aku sudah tenar, aku pasti bisa merebut hatinya." spontan Lisa, berlalu pergi.


Dear Dua Tahun pernikahan.


Memori Lisa ketika melihat buku kecil, kali ini apa ia harus kembali untuk tetap tenang. Kala suami yang ia banggakan, mas Fawaz akan selalu setia padanya. Hingga di mana ia melihat dirinya sedikit berubah, ia bukan lagi Lisa yang cantik sebagai vloger.


Yang kini ia lihat di cermin adalah, Lisa yang telah menikah, yang mendambakan karunia seorang anak.


Lisa masih menyimpan rasa penasaran, mengapa Fawaz, yang terus saja membuat dirinya jatuh. Selalu lolos dari kejaran keadilan, serasa tak ada artinya baginya ketika mengungkap perlawanan. Entah dari mana Lisa harus memulai jika ia melawan untuk mencari tau.


'Apakah hati mas Fawaz mengijinkan jika ia bertindak sendiri?' batin.


Lisa sebenarnya masih ingin mencari tau tentang masalah keluarga Abraham, Mark dan Jhonson yang terpecah. Namun saat kasus itu di ungkap, selalu saja tertimbun tanpa jejak. Sehingga ilusi mengatakan ia harus menemukan jawabannya.


"Maafkan aku mas, jika aku harus diam diam mencari tau kebenarannya." batin Lisa.


Hingga tiba, Lisa menatap ponselnya. Ia melihat pesan dari seseorang. Ia tau, jika bisnis Fawaz sedang di ambang kehancuran. Hingga di mana, ia sedikit curiga kala kedekatan mas Fawaz yang selalu saja berbaik hati pada wanita, dengan beralasan pasein vvip.


"Aach, pikiran gila apa ini, Lisa? Ingatlah, mas Fawaz bukan pria seperti Alfa. Singkirkan omong kosongmu. Rico pernah bicara Fawaz tipe pria setia, Hanum juga mengatakan itu karena ia pernah dekat dalam satu mata kuliah.


Hingga beberapa dekade, Lisa akhirnya menyatakan keraguan tak percaya. Jika suami yang ia banggakan benar benar menghianatinya, benar benar jodoh yang pendek bagi Lisa.


'Ternyata mengagumimu, adalah kesalahan. Kesalahan yang nyata, jika aku benar benar tidak ditakdirkan olehmu Fawaz. Aku harus benar benar bertahan atau menahan sedikit lagi luka dihatiku ini.' cercah Lisa, dalam tulisan dairy.


***


Hanum terdiam, ia tak bisa lagi membaca tulisan sang kakak. Lalu mengakhirinya dengan menyimpannya rapat.


"Azri, kelak kamu dewasa. Hanya kebaikan kedua orangtuamu saja yang akan kamu dengar dari Bunda nak! Bukan sedih dan luka kedua orangtuamu, jika kamu dewasa kamu akan mengerti pertengkaran orang dewasa nak." lirih Hanum.


Tbc.