
Hanum mendengar suara bel. Hingga dimana ia membukanya, membuat terkejut. Di mana sang kakak datang tak memberitaunya lebih dulu.
"Kakak, kok ga bilang kalau mau kerumah?"
"Hadeuh! dek. Please deh, aku bingung sama mama dan papa. Kamu udah gede dan nikah masih aja mama perhatiin. Anterin rendang buat kamu makan, sama kepala kakak buat kalian. Eeh! sory kepala ikan kakap." latah Lisa membenarkan, karna menyodorkan rantang sambil melihat situs komen vlog dari viewersnya.
"Ih kak. Kok mama ngerepotin sih. Tapi kan Alfa ga makan, dia belum boleh makan santan dan pedes kaya gitu. Aku juga lagi .."
"Aduh! pasti mama lupa kalau kamu lagi diet ketat. Ga makan daging kan? Eeemh padahal enak banget loh ini."
Hanum menelan saliva, sebenarnya sudah hampir sebulan lebih ia kesal tak memakan daging. Apalagi makanan kesukaan Hanum yang sangat jarang mama buat. Bisa di hitung mama Rita masak enak hitungan bulan sekali, sudah hampir tiga bulan mama ga masak makanan favorite kesukaan anak anaknya dan suami tercinta. Seperti cicilan kendaraan dan mood an sang mama jika ingin memasak.
"Aku boleh nyicipin dikit gak kak?" Menjulurkan lidah.
"Gak boleh. Karna kamu diet, body kamu udah bagus turun banyak. Makan ini lagi kamu pasti bakal melar lagi kaya kasur lipat."
"Ish! jahatnya ka Lisa ini."
Hanum hanya menggeleng, masih melihat Lisa duduk di teras membuka rantang. Tidak lupa holder hp dan ia nyalakan notifikasi pada penggemarnya. Bak ratu online, apapun selalu dibuat konten. Itu adalah hal mood Hanum yang tak bisa lagi melarang.
"Nih dikit aja, kamu setengah potong daging rendang. Nih dua sendok kecil daging kakap, supaya kamu ga ngiler. Ga boleh minum kuahnya ya!" unjuk Lisa yang kasihan melihat Hanum mengecap bibir.
Selesai juga! Lisa yang pamit, seperti numpang makan dan online. Lisa terkejut akan komentar para penggemarnya. Yang mereka gagal fokus pada halaman teras kediaman rumah Hanum terlihat indah. Hal itu juga membuat Lisa menoleh pada tatapan Hanum.
"Hanum, suamimu kemana? kamu ga kurung dia kan?"
"Gak. Ada di dalam kayaknya, dia kan belum aktif ke kantor. Aku jadi ribet ga bisa nyari kerja."
"Dih! suami tajir juga ngapain kerja. Tapi nanti kaka tanya deh. Temen cowok kakak, butuh admin di bagian service center telkom. Kamu mau gak, nanti kakak tanyain?"
Hanum mengangguk, ia meminta Lisa menanyakan lagi. Lagi pula pengalaman kerjanya sangat sedikit. Belum lagi menggantikan sang kakak yang labil seperti bocah. Ia harus terkurung dalam rumah tangga, jika bukan karna Alfa membuat mahkotanya hilang. Hanum tidak akan menerima pernikahan bersama pria angkuh.
"AAAARGH!" TERIAKAN DARI DALAM RUMAH.
"Suara apaan tuh? Wah, kau siksa pria sinting di dalam ya Hanum?"
"Enggak kak, aku ga apa apain dia kok."
"Kok dia teriak,?"
"Haahh, kecelakaan salah minum obat diet aku. Mules mules dia kak."
Mendengar hal itu Lisa tertawa terbahak bahak. Lalu ia bicara jika itu pantas untuk pria model Alfa yang sok tampan dan sok tajir. Ia sudah pernah kenal dengan sosok Alfa, itulah hal membuat Lisa tak menyukai anak dari paman Jhoni. Bak yang kaya orangtua nya, tapi dia selalu mengagungkan diri jika dirinya pria terkaya dan tertampan di belahan bumi.
***
"Kau mau pergi kemana sore begini?"
"Aku mau nemuin teman kak Lisa. Mau lamar kerjaan. Ada yang mau kamu titip?" sorot Hanum pada Alfa.
"Jangan tinggalin aku! perutku, tenagaku sudah hampir habis. Tetaplah di sini Hanum, aku janji gak akan bully kamu lagi. Aku sendirian pasti butuh sesuatu."
"Huuuft! Pyuuuh. Obat obatan ada disana, teh herbal udah aku buatin. Jangan mencegahku, ingat perjanjian kita! Kau dan aku tidak mengusik aktifitas kita masing masing? Jangan pura pura amnesia ya! itu tidak baik!" cetus Hanum kesal menggoyangkan jari.
"Kau jahat sekali sebagai wanita. Untuk kali ini kau jadi istri tetaplah menjaga suaminya. Hanum jangan jahat padaku?" memelas Alfa pada Hanum.
"Aku sudah hubungi mang Jekeu. Supir mamamu itu akan datang dan menjagamu dalam wantu lima belas menit. See you Alfa Jhonson. Selamat bersenang ria di kamar kecil ya." senyum Hanum tertawa puas.
Sementara Alfa hanya lemas terbujur dan duduk di sofa dengan menahan rasa sakit di perut, yang mengutarakan sebuah bunyi bagai gelombang air mendidih di bagian perut dan bokongnya. Tertatih Alfa ia segera mengapit kaki untuk menahan mulas ke kamar kecil.
***
CAFE COOLY.
Hanum ingat akan cafe unik saat pertama kali ia berpisah dengan teman baiknya bernama Fawaz. Sudah lama ia tak berjumpa, entah kenapa saat ia pindah ke luar kota, Hanum tak memiliki teman baik sebaik Fawaz. Ia bagai mood Hanum dan semenjak itulah motifasi cantik ia abaikan. Berat tubuhnya semakin naik karna makan yang tak pernah ia jaga, itu cara Hanum untuk melupakan stress dan kesedihan di tinggal sahabat baiknya.
"Mbak Nazim." teriak Hanum melambaikan tangan.
"Udah lama nunggunya? gimana kabar kamu sekarang neng,?"
"Baik, seneng deh. Kok si kecil ga ikut mbak."
"Mbak mau buka usaha baru, sepertinya kerjaan mau di tinggal. Tau sendiri manager kita itu taunya duit terus, tapi gaji kita seenak jidat. Lagian warisan suami bule udah cair, jadi si kecil sama oma bulenya dia sementara waktu."
"Syukurlah. Masalah mbak Nazim kelar juga ya,"
"Alhamdulillah."
Hanum sebenarnya tak ingin mengungkit masalah rumah tangga mbak Nazim. Mengingat ia juga banyak ingin bertanya tentang pernikahan dini yang mungkin rumit. Dia menikah tapi, tidaklah seperti pasangan pengantin umumnya. Sehingga tatapan Nazim terlihat berbeda kala mengambil sebuah jus dari seorang pelayan.
"Makasih ya!" ucap Nazim ramah pada pelayan.
"Gimana soal Alfa. Dia berulah lagi gak?"
"Hah! jangan tanya, ucapannya selalu penuh muslihat. Kadang manis kadang buat aku jatuh ke jurang. Entah sikap, prilaku ataupun sebuah janji yang tiba saja amnesia dadakan." jelasnya.
Nazim pun melanjutkan cerita, hingga dimana mereka menghabiskan waktu sampai pukul sembilan malam, setelah proses pertemuan teman Lisa untuk bekerja, seperti rekomendasi agar Hanum bisa cepat bekerja.
Tap! Tap!
Hanum kini telah sampai di depan rumah Alfa. Hingga dimana ia melihat mama mertuanya menutup pintu bersama supir.
"Mama, kok di sini?"
"Sayang. Mama baru mau pamit, panggil dokter pribadi keluarga kita. Titip Alfa ya nak! besok mama datang lagi."
"Ya mah."
"Hanum, Alfa habis makan apa. Kok bisa sakit perut sih?"
Pertanyaan itu membuat Hanum gigit jari. Ia tidak mungkin bicara dirinya sengaja membalas dendam pada Alfa. Sehingga Hanum memutar kata apa yang tepat pada mama mertuanya itu.
"Maafin Hanum juga, pulang terlambat mah. Tadi ketemu mbak Nazim. Hanum udah bilang kok sama Alfa, soal Alfa. Kayaknya Alfa salah minum jus diet Hanum."
Apaa?! terkejut mama mertua menatap Hanum. Sementara dalam batin Hanum, itu adalah karma kedua yang harus Alfa rasakan atas cacian dan prilaku padanya.
To Be Continue!!