
Hanum mengeluarkan ponsel di saku roknya. Saat itu, ia segera menatap awan yang terlihat cerah. Begitu indah, tapi tak seindah kehidupannya.
"Pah! apa papa melihat Hanum dari atas sana? papa tau tidak. Jika Hanum butuh papa, saat masalah sekecil apapun tanpa papa. Hanum tak bisa, sekarang Fawaz berbeda sikap dengan Hanum. Belum lagi soal Alfa, pria pilihan papa. Hanum harus bagaimana pah?" lirih Hanum.
Lisa yang terkejut saat ia menyusul ke rumah sakit. Ia terkejut menatap adiknya seorang diri, Lisa yakin saat ini Hanum dalam masalah. Lisa juga sebenarnya ingin mengantar berkas bertemu Fawaz.
"Hey! Han, kamu kok disini? kaka denger kabar soal Alfa..?"
"Ka Lisa." peluk Hanum.
"Kamu banyak masalah ya! maafin kaka tidak seperti papa Han!"
"Ga papa kak! dekat dan pelukan kaka sudah membuat Hanum tenang. Kaka tau, kalau kita sedang dalam masalah hanya papa. Mama tidak bisa untuk berkeluh kesah apa yang kita hadapi." jelas Hanum, lisa juga tak menampik.
Beberapa saat Lisa dan Hanum saling menenangkan. Lisa meminta Hanum berbicara padanya ada apa dengan masalahnya. Hanum awalnya tak mau terus terang, tapi mendapat desakan. Mau tidak mau Hanum bicara soal kartu black, soal irene dan dirinya yang bertengkar dengan Alfa, hingga dia bisa dibawa kerumah sakit.
"Kakak akan bantu sebisa mungkin, menjadi mata mata. Gimana?" Hanum senyum mengangguk, meski kala itu Hanum tidak menjelaskan secara detail tentang Fawaz.
"Kamu tunggu di sini sebentar ya! kaka mau kedalam dulu. Ada janji sama temen soalnya!"
Beberapa saat Lisa pergi, Hanum juga ikut masuk ke lantai tujuh, mencari keberadaan Fawaz di ruangannya. Karna saat itu ia melihat Lisa berbeda lantai pergi lebih dulu. Hanum masih kepikiran dengan sikap Fawaz padanya saat ini.
Ga bisa dibiarin, Fawaz ga seperti ini. Dia menghindar dariku atau ada sesuatu yang ia kesal dariku. Apakah soal Alfa lagi, Fawaz harus tau jika aku telah memutuskan, tapi tidak dengan cara menyakiti kedua mertua dan mamaku. Perceraian itu sangat dibencinya, termasuk kondisi mama nanti bagaimana?
Tiba di lantai sebelah kanan, Hanum tidak langsung cepat bertemu suster Susi. Hingga beberapa saat suster keluar, barulah Hanum beraksi dan menanyakan soal dr Fawaz.
"Sus, berapa pasein lagi ya?"
"Bu Hanum, antriannya delapan lagi. Masih mau menunggu?" tanya suster susi.
"Heuumph! ya gak apa sus." senyum Hanum.
Hanum saat ini tidak menemani Alfa, karna sudah ada mertuanya di ruangan itu. Hanum juga memang pamit akan pulang mengambil pakaian Alfa. Tapi Hanum sempatkan menunggu di depan ruangan dr Fawaz yang sedang bertugas.
Hingga tiga jam lamanya, Fawaz keluar dari ruangan. Ia menatap Hanum yang sedang duduk dengan memegang pelipis mata, dan menahannya dengan sandaran kursi.
Mengantuk mungkin itulah yang Hanum rasakan saat ini. Wajah lelah itu membuat Fawaz tidak tega. Tapi mengingat kata kata "suami saya" Fawaz segera melangkah tanpa menoleh kebelakang, meski Hanum terbangun sekali pun.
Fawaz berusaha cuek tak perduli dan menghindar, mungkin sebuah prinsip yang ia tahan untuk tidak dekat dengan Hanum yang berstatus suami orang. Atau kekecewaan yang Fawaz rasakan saat ini pada Hanum.
"Bu Hanum, bangun bu!"
"Haah! eeh ya sus, ada apa ya?"
"Jadwal cek pasein sudah habis dari setengah jam lalu. Bu Hanum tidak bertemu dr Fawaz. Beliau belum lama keluar lebih dulu dari pada saya?"
Gleeuk! Hanum menatap jam, meremas rambut belakang dengan jemarinya. Meski masih tersenyum pada suster Susi.
"Ok! baiklah. Makasih ya sus. Kalau begitu saya pamit, terimakasih sudah membangunkan saya!"
Hal itu pula yang membuat Hanum berjalan cepat, berusaha ke blok F arah parkiran dimana Fawaz selalu memarkir mobilnya.
\*\*\*
Berbeda hal dengan Lisa.
Lisa saat ini berada di tempat kerjanya, saat ia sedang mengcopy banyak berkas dari pak David. Lisa sempat tak percaya jika Irene datang ke kantor ini. Seseorang berbisik jika yang datang adalah tamu besar, jebolan artis M- Entertain di perusahaan saat ini Lisa bekerja.
Lisa juga, segera mendekat dan sedikit menguping meski terhalang rak box dengan celah yang kecil.
"Tante gak tau, apa dia benar Hamis yang telah kami cari. Bahkan tampilan gelandangan saja sangat mudah di kenal."
"Maksud tante, papaku Gila?" tanya Irene, pada kepala Hrd.
Bu Melisa kembali menceritakan satu lagi, ia yakin karna Jhoni pasti berkaitan dengan Hamis. Sehingga Irene kembali mendengarkan tantenya itu.
'Apa, jadi bu Melisa tante Irene. Dan mereka membicarakan pa-pa. Menyeret nama paman Jhoni. Hanum mesti tau, aku harus selidiki lebih jelas.' batin Lisa.
"Tante minta maaf sekali lagi ya, saat itu!" ucapnya pada Irene yang masih berjalan, masuk ke ruangan bu Melisa bagian Hrd itu, hingga tak terlihat dari pandangan Lisa.
Lisa kembali keruangan kerjanya. Lalu memutar cara, bagaimana bisa dekat dan masuk pada bu Melisa yang tertutup itu. Lisa kepalang berjanji pada Hanum, ia akan mencari tau motif masa lalu mertuanya itu. Bahkan dengan pria bernama Alfa yang tak Lisa suka dari dahulu semenjak perjodohan, entah bodoh nya Hanum menerima tak berterus terang dari awal adalah akar masalahnya.
Rumah Sakit.
Hanum kembali ke ruangan insentif. Ia kini memakai pakaian medis dan menggantikan mama mertuanya berjaga. Hanum meletakkan aroma herbal, agar ia tak mencium bau rumah sakit yang pekat.
"Alfa aku datang lagi. Bagaimana kabar kamu. Apa kamu masih ingat, kalau apapun itu aku akan selalu menjaga persaaan mama kita. Cepatlah siuman Alfa, dengan begitu aku akan memutuskan untuk membawa pengobatan terbaik agar kamu cepat sembuh. Dan kita harus segera mengakhirinya, aku sulit mengatasi semuanya sendiri. Karna kamu kuncinya!" jelas Hanum.
Hanum juga masih berbicara panjang, dengan begitu ia melihat wajah Alfa yang pucat dan memutih. Hanum belum tau, sakit apa yang di derita Alfa saat ini.
Yang jelas Alfa yang Hanum lihat saat ini berbeda saat pertama kali bertemu. Alfa yang sering merendahkan wanita, dan bermain dengan wanita tanpa rasa malu terlihatnya. Membuat Hanum kembali sakit kepala memikirkan Alfa.
"Kenapa kamu seperti ini Alfa? kamu serius, atau bersandiwara agar aku bisa mengulur dan terus di sisimu?" lirihnya.
Tak lama, seseorang mengetuk pintu. Membuat tatapan Hanum terkejut karna ia baru saja berkata dengan suara yang sedikit lantang.
**To Be Continue**!!
Sambil tunggu kelanjutan Hanum. Yuks mampir litersi temen Author. Ga kalah keren dan bikin nagih pokoknya buat yang suka baca novel.
Judul: Bukan sebatas impian.
Author: Nadziroh.
blurb.
Renata Nicholas, gadis yang berumur dua puluh dua tahun dan berprofesi sebagai cleaning service tertangkap basah menyembunyikan foto Bagas Ankara, CEO di tempatnya bekerja. Berawal dari sebuah iseng menyimpan foto yang ditemukan di gudang, kini malah membuatnya menjadi bahan ejekan bagi mereka yang membencinya. "Yuks kepoin cus langsung ya All!"
~ **Happy Reading** ~