
Rico yang tak sabar memeluk istrinya, ia segera meraih tangan Hanum. Lisa dan Hanum berpamitan, mereka berpisah karena tuntutan pekerjaan Fawaz yang kembali ke ternate.
"Han, sering jenguk mama ya! Kakak kali ini harus kembali pulang sebulan dua sampai tiga kali." cipiki pipi.
"Ya, kak. Hati hati!" memeluk Lisa.
"Rico, titip Hanum sama mama ya! sering sering ingetin Hanum buat jenguk."
"Itu pasti." balas Rico.
Mereka bersalaman tanda berpisah. Hingga beberapa saat Rico mengajak Hanum sambil bergelayut kepala pada tangan Rico. Rico tak segan segan membalas peluk manja pada istrinya.
"Kamu tau gak, aku tadi rindu banget sama kamu. Huuft! rasanya beberapa jam kita berpisah. Mas merasa kehilangan dan ingin cepat pulang ketika mas berkerja."
"Heuumh! benarkah, terimakasih. Tapi jangan terlalu dalam mencintaiku, nanti Tuhan cemburu."
"Insyallah cintanya jauh lebih mulia dan lebih tinggi. Tapi cintaku dan hidup bersamamu. Anugerah surga dunia yang ia ciptakan untuk mas. Maka mas, sangat ingin melindungi dan membahagiakanmu Hanum."
Pujian romantis, membuat Hanum lagi lagi menutup wajahnya. Guratan kasih cintanya pada sang suami. Sangat penuh arti, bagi Hanum ini pertamakalinya ia dicintai seorang pria yang menurutnya sempurna. Bahkan bukan takut kehilangan Rico, tapi Hanum takut kehilangan rasa cinta Rico nantinya.
"Mas, andai aku bisa terus menempel padamu. Mungkin aku sangat senang."
"Benarkah, mungkin kamu permen. Mas adalah bungkusnya, maka mas akan selalu menghangatkan kamu selalu sayang."
"Hangat tapi bisa jadi dingin kan?"
Rico mengrenyit dan menatap pucuk rambut Hanum. Ia mendongkan wajah Hanum dengan lembut, hingga mulutnya maju berbetuk U dan menampaki setengah gigi.
"Mas, akan berusaha membuat kamu tersenyum dan bahagia. Tanpa dingin diantara kita, mas akan selalu menghangatkan dengan berbagai cara."
"Microwave kalah dong." Hahaha tawa senyum mereka. Rico masih menggenggam tangan Hanum.
Hingga mereka membeli sebuah ice cream, lalu berdiri di atas pagar yang menjulang. Terlihat menara eifel yang sangat besar dan indah.
Rico masih mode memeluk dan menghangatkan Hanum dengan tubuh, serta jaket besarnya, sehingga benar benar membuat Hanum yang tertutup mirip bungkus permen. Sementara wajah mereka saling menatap dan senyum, hanya Hanum yang mendongakan wajah, karena Rico lebih tinggi puluhan centi darinya.
"Kenapa liat mas, masih kurang hangat?" goda Rico.
"Mas, bukan itu. Tapi senjata mas sangat tak nyaman, aku merasakan adanya ..?" tawa renyah Hanum.
"Benar, mas ingin sayang. Cuacanya dingin sekali, sehingga membangunkan. Apalagi dekat kamu, mas ingin sekali kita segera diberikan keturunan."
"Semoga mas, semoga saja aku diberikan kepercayaan. Mas mau anak berapa, laki laki atau perempuan?" tanya Hanum.
"Lengkap amat sih, sedikasihnya aja sayang. Laki laki atau perempuan itu sama saja. Empat delapan mas juga mau."
"Heeh. Kesebelasan juga sanggup menurut mas, tapi aku ga sanggup mas. Jangan ngaco deh, aku membayangkannya saja bingung."
"Jangan bingung sayang, kita berdoa umur kita panjang. Sehingga bisa melewati dan mengurus amanah yang ia beri pada kita. Mas akan menghangatkan segalanya, dan selalu jadi suami siaga. Mas ga rela kalau kamu terbebani, dan baby blues." jelas Rico.
"Oh, so sweet." senyum Hanum sambil memecet hidung Rico.
Hanum sangat menyukai hidung Rico dan bulu mata lentik suaminya. Ia heran kenapa pria sepertinya, punya keindahan yang Hanum inginkan.
"Mas, udah dong. Jangan gerak gerak!"
"Apanya sayang, mas hanya kedinginan. Mas biasa saja tuh, atau jangan jangan.."
"Mas, mulai deh kaya ka Lisa. Suka banget godain aku." menutup wajah karena malu.
Rico masih mengeratkan tangannya pada tangan Hanum yang melingkup. Masih memandangi menara dengan jelas. Kepala Hanum masih bersandar di bawah tengku leher Rico dan mereka saling erat memeluk.
"Mas, aku boleh tanya gak? Dan jujur, aku ga mau ada yang aku sembunyikan dari kamu."
"Janji gak marah kan?"
"Enggak dong sayang, ada apa emangnya?"
"Apa Alfa sudah pulang ke rumahnya?"
"Heuumph! sakit hati mas, kenapa kamu tanya soal dia?"
"Mas jangan marah!" Hanum membalikan badan, sementara Rico masih erat memeluk lagi dengan posisi saling berhadapan.
"Apa, katakan sayang!"
"Tadi aku ditabrak seseorang, tapi wajahnya mirip. Belum lagi setelah kita menikah, saat aku memotong tangkai bunga di rumah. Juga beberapa hari terakhir sudah empat kali aku merasa di buntuti pria model seperti tadi. Dan yang jelas tadi, mirip dia." jelas Hanum.
"Benarkah? Alfa masih bisa membuntuti kamu. Ga usah di pikirin ya! mas akan minta bantuan seseorang, mengecek bangsal dan kediamannya untuk mengecek dia masih disana atau tidak!"
Makasih mas!! Hanum kembali menatap Rico, tapi benar saja Rico sudah menempelkan jarinya pada bibir Hanum.
"Mas ingin ya?"
"Heuumph! gimana kita sekarang kembali ke hotel, tapi kita beli oleh oleh dulu. Mas ga sabar ingin .."
"Ingin apa..?" goda Hanum berpura pura tak tau.
"Laper sayang, ayo cepat ikut mas!" menghembus nafas, karena Rico sudah kedinginan, dan benar saja Hanum tertawa terpingkal pingkal kala melihat tingkah Rico yang aneh saat ini.
"Jangan tertawa! kamu akan mas tidak ampuni nanti." cibir Rico yang tampak kesal lembut menatap istrinya itu.
"Hahah, maaf mas. Aku hanya lucu saja, wajahmu akan aku tandai. Lucu mirip mpus yang dimarahi tapi berusaha mengelak. Hahaha."
Gemas Rico, ia segera membuka pintu mobil, sesampainya di dalam. Hanum yang menarik seat belt. Rico segera beraksi, ia membuat tatapan Hanum terdiam, segala tangan telah menjalar kemana saja dalam beberapa puluh menit.
Cuup!
"Bagaimana? rasanya menahan sesuatu sayang?" goda Rico yang menyetir dengan senyuman.
Sementara Hanum, ia menurunkan kursi mobil dan menutupi wajahnya.
Oleh oleh saat ini sangat lumayan membuat Hanum senang. Belum lagi setelah ia di kamar dengan piyama tidur dan rambut yang basah. Rico menghampiri membawa puding.
"Sayang, cobain deh. Kurang apa?" tanya Rico.
"Kurang banyak, dan kurang lama." menarik tangan Rico.
Hanum yang jahil, membuat Rico gersang dan kembali membuat Hanum tak berdaya. Hal itu juga membuat Rico berkali kali masak dan lapar.
"Mas, aku bahagia sekali saat ini, aku jujur takut kamu berpaling dariku!"
"Sayang, jangan lagi berfikir bukan bukan!Memiliki istri sebaik dirimu, akan membuat pria menyesal mencampaki kamu. Mas akan jaga diri, meski klien eropa banyak yang cantik. Tapi mas hanya lope you full sama kamu Hanum."
"Ih, mas selalu aja bikin aku panas deh. Sama kaya Lisa yang akhir akhir ini bikin khawatir Hanum, katanya Fawaz seperti ada hati sama pasien vvip yang anak ratu inggris." jelas Hanum.
"Jangan lagi bicara hal buruk sayang!"
"Ya mas, awh! tapi..." menggigit bawah bibir.
Rico kembali merapatkan pelukan Hanum, ia kembali menarik Hanum dan kini saling menatap. Sebuah selimut menurun ketika Rico sudah berada dibawah kakinya dengan lihai.
Tbc.