BAD WIFE

BAD WIFE
MENGHINDAR



"Han. Kakak kurang enak badan, kakak capek akhir akhir ini. Kakak masuk dulu ke kamar ya! jangan ganggu kakak!"


"Kak, tapi ..,"


"Lisa, kamu mau kemana nak?"


"Mah! badan aku mulai ga enak lagi, Lisa ijin istirahat dulu ya. Lisa ga kepengen diganggu dulu."


Lisa secepat mungkin menaiki anak tangga, meski ia sudah yakin mobil siapa di depan yang baru saja tiba, hal itu karna ia sudah melihat dari jendela. Sementara semua hanya menatap tingkah Lisa yang baru saja menghindar.


Hanum segera kedepan teras, ketika mbok Surti sudah membuka pintu.


"Siapa mbok?" tanya Hanum lembut.


"Hey! Han, kamu udah pulang. Sama Rico juga?"


"Fawaz. Iya, baru aja beberapa jam lalu. Kamu kesini sama siapa, bawa bunga lily rose segala. Mirip kesukaan Lisa." senyum Hanum.


"Kebetulan kamu udah di rumah! aku turut prihatin atas kejadian kamu sama Alfa. Sekaligus mau ketemu Lisa. Lisanya ada kan?"


"Lisa, ada.. Sih," berfikir bingung.


Hanum terdiam, ia bingung dan ragu untuk memberikan penjelasan. Hingga akhirnya Hanum bicara jujur, jika Lisa sedang tidak enak badan.


"Sory! mau masuk dulu, ketemu sama mama?"


"Ya boleh!"


Han, tunggu! Fawaz memegang tangan Hanum. Seolah reflek, Hanum senyum dan mengatakan pada Fawaz. Ia meminta bicara sebentar di teras berdua saja.


"Boleh aku bicara sebentar sama kamu berdua?"


"Berdua, aku pikir kamu mau ketemu ka Lisa."


"Justru itu, ini semua tentang Lisa."


Hanum mengangguk, ia meminta mbok Surti membuatkan teh. Hanum mengajak Fawaz di teras saja duduk. Sehingga mereka duduk dan Fawaz memulai menatap Hanum.


"Aku ga tau, mau dari mana bicara? kita memang pernah mempunyai impian. Tapi.."


"Fawaz, aku rasa ga etis kalau kamu bicara seperti ini."


"Aku ngerti, karna Rico kan. Jujur aku awalnya merasa aku benar benar mau memiliki kamu. Kebersamaan aku dan Lisa aku pikir hanya sebuah biasa aja, apalagi saat kedua mama kita menjodohkan. Terlebih Lisa yang agresif saat itu, aku merasa ga nyaman. Tapi saat kejadian Lisa memarahiku memanggil aku dokter stres yang mirip dan menyusul seperti Alfa..." terdiam Fawaz.


"Kenapa .. kok ga lanjutin?" tanya Hanum.


"Aku salah, mungkin karna aku ga siap dengan impian kita. Dan kebersamaan aku dan Lisa yang begitu agresif dengan cepat, aku sadar kalau aku menyukai Lisa. Ada cara biar aku bisa luluhin Lisa serta mendapatkan maafnya?" tanya Fawaz.


Hahahahaha! tawa Hanum pecah, gelak tawa Hanum terhenti kala Rico datang. Rico menyeringai dan merangkul bahu Fawaz sambil berbisik.


"Heiy! cara ampuh merayu wanita, ikuti caraku. Berguru denganku bro!"


"Hey! Ric, jahat kau menguping."


Hanum ikut tertawa, ia pikir Rico akan merasa cemburu atau merasa aneh kala sepupu bersaudara dari sang mama hadir. Dunia memang sempit bagi Hanum, pria yang pernah bersamanya dari kecil yakni sahabat dengan cinta monyet ala anak anak. Kini harus tersenyum dengan Rico yang mungkin akan menjadi masa depannya.


"Mah, kemarilah! Ini Fawaz datang."


"Tante, maaf Fawaz di luar tidak menyapa kedalam."


"Gak apa, gimana soal mama kamu. Ayo masuk, tante juga mau bicara hal sama kamu!"


Fawaz ikut masuk ke dalam rumah, menyisakan Hanum dan Rico. Sementara kala mereka berdua, Hanum menunduk sedikit bingung. Mereka berdua sama sama gugup dan canggung. Lalu Rico segera berjongkok sedikit, sejajar pada tatapan Hanum yang sedang duduk.


"Apa kamu bahagia Han, kamu tau. Jika Fawaz sepupuku itu hanya pintar soal medis. Tapi soal cinta dia kikuk, aku tidak pernah berfikir aneh jika kamu berduaan dengan Fawaz. Karna sepupuku itu berbeda dengan mantan suami kamu itu."


"Maaf! aku bukan melupakanmu, tapi Ric aku tadi hanya.."


"Sssst! aku paham, aku mau kamu sembuh Han. Setelah itu, kamu bekerja lagi kapanpun. Aku ga bisa kalau bekerja ga ada kamu."


"Gombal, jangan buat aku malu terus Ric. Kebaikan kamu aku ga sanggup untuk menebusnya, belum lagi soal tebusan keluarga Jhonson."


"Selagi kamu bersamaku, hartaku adalah hartamu. Mungkin kamu harus membalas semuanya dengan cara lain."


Hanum terdiam, cara apa yang dimaksud Rico. Lalu benar saja Rico menunjuk pipi kanan, dan ia meminta itu sebagai bukti lunas ketika pertunangan terjadi. Hanum lagi lagi menutup wajahnya karna malu. Dengan tersipu mereka yang sedang di mabuk asmara pikiran Hanum kembali diam.


"Aku lebih suka melihat kamu senyum Han, apa lagi yang kamu pikirkan. Apa kamu masih ragu?


"Kamu ga marah kalau aku bicara saat ini?"


"Apapun akan aku jawab, soal apa?" menatap dalam.


"Pria sekaya dirimu tidak mungkin jika tidak pernah mempunyai kekasih. Apalagi cara menjalani pendekatan tidak mungkin hanya ngobrol saja kan?"


Pertanyaan Hanum lagi lagi membuat Hanum minta maaf. Rico terdiam, ia senyum dengan gelak tawa. Karna akhirnya Hanum menanyakannya juga.


"Apa kamu mau tau banget Hanum?"


"Ric, jika kamu tidak ingin menjawab ga apa. Aku mau masuk, aku mau liat ka Lisa."


Rico menarik tangan Hanum, lalu Hanum kembali duduk. Rico mengelus tangan Hanum dan mengecup punggung tangan Hanum.


"Percayalah! masa lalu itu tidak penting, jika kamu melihat terus. Kapan kamu bahagia. Lihat aku! aku akan selalu jujur sama kamu. Dan aku akan selalu membuat kamu bahagia sesuai kemampuanku. Aku pernah menikah tapi dia sudah tidak ada, pernikahan kami hanya seumur jagung. Karna dia sakit."


Hanum merasa bersalah, ia meminta Rico untuk tidak melanjutkannya lagi. "Aku minta maaf, sudah menoreng luka Ric."


"Tidak apa, kelak ketika kita ingin menikah. Aku akan membawamu mengenalnya ketempat peristirahatan terakhirnya."


Sementara Lisa, ia menatap dalam dengan wajah tidak enak. Melihat Fawaz yang masih seru mengobrol bersama sang mama. Membuat Lisa kesal, tapi melihat di meja ada bunga favorite. Lisa segera menutup rapat jendela, ia berusaha untuk tidak terpengaruh ketika Fawaz berusaha baik lagi padanya.


"Sudah terlambat, aku tidak akan pernah mencintai seseorang dengan hati. Lihat saja, akan aku buat kamu melihat jelas. Jika aku menolak kebaikanmu." lirih Lisa.


Tak lama, suara ketukan pintu dari kamarnya. Dan itu adalah suara Hanum. Hanum membuka pintu kamar Lisa, lalu memberikan sebuah bucket bunga dari Fawaz.


"Kak, Hanum letakin disini ya? sama coklat dan salad buah. Kakak pasti laper, udah dua jam loh kakak ga mau turun? Kaka yakin ga mau turun dari kamar, aku sama Fawaz dan Rico serta mama dan mbok mau makan malam. Ga nyesel ga mau ikutan, kita mau bbq an loh. Tante Felicia juga bakal datang, yakin kak?" goda Hanum dengan bawel.


"Bodo amat." teriak Lisa, menutup kedua kupingnya.


**To Be Continue**!!