BAD WIFE

BAD WIFE
BERHASIL MENGHINDAR



"Ok! saya paham. Kalau begitu kita pulang saja!" lirih Rico, dengan helaan nafas yang amat berat.


Hanum terdiam, hingga mendadak Rico membuka pintu, tapi sudah ada Alfa yang berdiri seolah ingin mengetuk pintu mobil Rico.


Tug!


"Alfa, kenapa mendadak mengikuti?"


"Ah, baru saja aku lihat kau pergi. Bagaimana dengan janjimu. Katanya mau kenalin seseorang padaku?" lirik Alfa pada Rico.


Rico melihat jelas kala, Alfa seolah penasaran pada kursi belakang mobil. Rico segera menutupnya, meski Rico tak tau mengapa Hanum mati matian menghindar. Tapi jelas kala wanita yang ia suka bicara dua pria pernah dekat dengannya. Genius Rico tertuju Alfa adalah mantan suami Hanum.


'Gila, bagaimana bisa aku menyukai dengan seorang wanita yang masih satu lingkup keluarga besar.' benak Rico.


Rico memang membenci orang yang berpura pura manis, terlebih ia tau sosok Alfa atau pun Fawaz sejak dulu masih sekolah hingga kuliah mereka berpisah karna bisnis kelurga masing masing.


"Ah, begini. Wanitaku sedang tidak enak badan. Maka aku pamit lebih dulu ya!" pamit Rico, ia segera membuka pintu mobil dengan rapat, meninggalkan Alfa dengan tatapan bingung.


Setelah jarak mobil dua meter, Rico berhenti dan meminta Hanum duduk di depan. Karna Rico ingin lebih detail semua tentang Hanum.


"Terimakasih sudah menyelamatkan saya pak Rico."


"Haah, kau berhutang padaku. Balasnya kau harus jujur semua masa lalumu. Aku tidak butuh yang lain!" Rico menyetir kembali pulamg ke rumah.


KE ESOKAN HARINYA.


Lisa kini berada dalam villa seorang diri, sang mama di antar oleh supir ke rumah eyang. dr Felicia dan Fawaz sudah pasti sedang di rumah sakit. Lisa sendiri setelah pemotretan iklan, ia segera merapihkan alat make up.


Tiba tiba, seorang pria datang mencari nama Lisa. Hingga Lisa cukup terkejut takut. Ingin meraih ponsel tapi tak sempat.


"Kau yang bernama Hanum?"


"Han-um. Adikku tidak ada di sini, siapa kamu?"


"Peeter. Aku mencarinya, karna aku di minta penjelasan apa benar yang dilayangkan wanita yang aku pasung berkata jujur."


Pasung? Lisa menutup mulut dengan gemetar


"Tunggu, Peeter. Aku bisa menjelaskannya. Tapi kenapa alasan kamu mencari adikku?!"


Peeter tertawa terbahak bahak seperti seorang iblis, namun tatapan tajamnya tetap membuat Lisa terintimidasi.


“Wanita murahan seperti kamu berani-beraninya menipuku?” ulang Peeter, ia membuka amplopnya lalu tersenyum miring saat membacanya.


“Lisa Saaraswati? Sudah pasti kan, wajahmu sangat berbeda dengan wajah adik perempuanmu?” Peeter memperlihatkan sebuah foto, yang ternyata foto keluarganya.


Lisa tidak bisa mengatakan apa apa, lidahnya terasa kelu. Mau menjelaskan sedetail apapun dan mengatakan kalau dirinya tidak bersalah, Peeter tidak akan mempercayainya.


“Jadi keluargamu sengaja menukar kamu dengan adikmu, dan memberikan putri mereka yang sudah menjadi seorang janda untuk menikah denganku tapi kini dia menikah dengan Alfa?”


Lisa semakin menundukan kepalanya, ucapan Peeter keseluruhannya memang benar, ia tidak bisa membantahnya. Ia tidak ingin memperburuk keadaan dan malah membuat keluarganya benar benar akan di usir dari kota.


“Keluargaku memang bersalah, tapi pernikahan ini adalah pernikahan yang diatur oleh dua belah pihak. Meski status Hanum sekarang bukan istri Alfa. Aku berjanji tidak akan pernah mencampuri segala urusanmu, Peeter. Lagi pula papaku telah tiada,” tutur Lisa, mencoba meyakinkan Peeter dengan ucapannya.


Namun sesaat kemudian, Lisa mengepalkan tangannya erat dan mengumpulkan keberaniannya, bukan saatnya untuk tersinggung dengan perkataan pedas yang di lontarkan Peeter kepadanya. Ia harus memutar otaknya, agar bisa mempertahankan nama baik keluarganya.


Keluarga Jhonson mempunyai dua anak laki laki, salah satunya anak angkat yang menyukai Hanum sejak ia masih dibangku sekolah sd. Kehendak sang papa yang tak menyukai peeter, ia berusaha mengulur hingga keadaan tidak tepat harus menggantikannya menikah dengan Alfa.


'Han, bahkan setelah kamu tiada. Masih saja ujian menghampirimu. Kaka bisa bantu apa, kaka merasa gagal dan bersalah sebagai seorang kakak.' benak Lisa.


\*\*\*


Hanum kini telah berbaring di kasur mini, kontrakan kecilnya. Lagi lagi ia harus kembali di ingatkan pada sosok Alfa dan Fawaz bersamaan. Terlebih aib nya harus ia katakan jujur pada pria bernama Rico.


'Jika aku tidak butuh pekerjaan, jika paman Jhoni tak mblokade namaku di banyak perusahaan. Mungkin aku tidak akan terus terang pada Rico. Kenapa juga sih aku harus bertemu lagi?' batin gemuruh Hanum yang sedang tengkurap, dan menangis.


Took! Took!


Hanum menghapus air mata, pintu rumahnya terketuk. Ia segera mengikat rambut alakadarnya. Lalu mencoba merapihkan diri untuk membuka pintu.


Sreeth! "Aaaakh."


Hanum terjatuh, kala melangkah karpet. Terdapat daun pisang sehingga ia meraih tangan Rico.


Bruuugh! keduanya bertabrakan dengan posisi celentang, dan Rico dibawah lantai menatap tubuh Hanum yang menindih tubuhnya.


Tangan Rico menarik tangan Hanum dengan cepat, dan terpaksa Hanum harus menjatuhkan tubuhnya ke atas pangkuan Rico. Mata Rico kini sudah menatap Hanum dengan lekat, dan entah kenapa tatapan itu membuatnya sedikit salah tingkah.


"Maaf pak aku tidak sengaja! dan maaf juga waktu dikantor isu bapak, tidak akan pernah tertarik pada wanita sekalipun bersentuhan, seperti ini terjatuh."


“Tahu dari mana kalau kemampuan hasratku buruk? Apa kamu pernah tidur bersamaku?” kesal Rico.


Hanum hendak menatap ke arah lain namun tiba tiba pipinya di cengkram dengan kasar oleh Rico, ia pun mengarahkan wajah Hanum agar kembali menatapnya.


“Ayo jawab atau kamu perlu merasakannya lebih dulu?” tanya Rico dengan senyuman miringnya, Hanum reflek bergidik ngeri melihatnya.


Posisi intim seperti ini membuat ingatan Hanum kembali ke malam hujan saat dirinya harus kehilangan mahkota, karena pria asing yang ia tidak kenal, yakni Alfa.


Tanpa sadar, Hanum menatap wajah Rico sedikit lebih lama. Mencermatinya sesaat karena wajahnya terlihat tidak asing.


'Astaga sadar Hanum, dia bukan pria seperti Alfa.' gumamnya.


Lamunannya seketika buyar, Hanum menahan nafasnya saat merasakan tubuh bagian bawah Rico mengeras. Lagi lagi Rico menyunggingkan senyuman miringnya, yang menurut Hanum sangat menakutkan.


“Kamu ingin mencobanya lebih dulu kan? Kita lihat, apa kemampuanku itu bisa membuat kamu bicara sembarang seperti tadi atau ..?"


“Tidak bisa?” Hanum menatap Rico dengan takut takut dan mengangguk pelan.


“Berhenti berpura pura polos, lagipula aku tidak ingin menyentuh wanita murahan seperti dirimu. Jika pada akhirnya kamu tidak bisa membuktikan ancamanmu itu, lebih baik diam dan tutup mulutmu. Sekarang ayo makan dulu, setelah itu ikut aku!"


"Hah, kemana pak Rico?"


"Misi kedua, tugas pekerjaanmu masih ada sisa empat jam!" senyum Rico yang membuat Hanum lemas.


~ Bersambung ~