
"Han, aku bisaa bantu apa sekarang?" tanya Sinta.
"Terbitin buku kak Lisa, maaf ya kak. Makasih."
Sinta membuka buku, dan ia mulai membacanya, sehabis dari pemakaman.
Sinta yang kini berada di hotel yang sama dengan Hanum. Ia mencoba menenangkan dan membantu Hanum, mulai dari asupan makanan dan pikirannya agar tidak banyak melamun. Terlebih Hanum dan Sinta sedang terjalin kontrak selama dua bulan ke depan.
"Hanum, ga usah capek capek. Kasian kanduangan kamu!"
Hanum mengelap air matanya lagi lagi, lalu merapihkan barang barang baju dari kopernya. Sinta membantu dan melihat kotak merah jatuh membuat tatapan Sinta bingung. Hanum juga ikut bingung dan mulai mengingat ngingat.
"Kotak apaan ini ya?"
"Itu, bentar. Oh, hampir lupa. Gue nemuin itu di tempat kerjanya si Fawaz. Gue ga ngerti itu benda apaan." asal Sinta, yang melanjutkan merapihkan pakaiannya.
"Astagfirullah. Sinta, ini gue pernah liat ini sama kaya uyut gue kena sihir, istilah guna guna. Ini isinya ujung keris kecil, buku tulisan aneh, sama minyak kecil ini ada bubuk. Tunggu kok kaya kopi ya?"
Hanum mencium aroma isi dari kertas bertulisan aneh, dan ada serbuk kopi serta helaian rambut.
"Hanum, kita cek apa ini helain rambut suami Fawaz dulu, tante Felicia bisa diajak kerjasama kan? Gue cari info deh, soal pemutus ginian. Bisa aja kan, ini rambut Fawaz suami kakak ipar lo, kalau gini bisa aja dia ga sadar. Mungkin dibikin lupa dan ga inget sama lo, kesel aja bawaannya liat lo."
"Aduh, Sinta. Jangan mistis gini dong, gue ngeri jadinya. Kaya gini jadi inget mas Rico, ketar ketir juga kan."
"Hanum, percaya kali ini sama gue. Oke!"
"Bi inah juga bilang serupa, apa lo percaya hal gitu gituan. Ini zaman modern loh Sinta?"
"Ya ampun, model kaya lo gini mudah kena gangguan sihir. Rumah lo kudu di ruqiah, dan ini kudu cari orang yang ngerti. Istilah pemutus buat ipar lo sadar, masalah kebenaran atau enggaknya kan, balik lagi ke hati lo."
"Entahlah Sin, jujur gue cuma bantu. Kalau pun iya, itu udah bukan jalan dan hak gue untuk mempertahankan, sekali dilukai dia bakal seperti itu kan. Ini ga bisa hati gue masih ga bisa nerima."
"Gue paham, tapi sebelum makin jauh. Lo percaya ya sama gue. Gue bantu lo, gue care sama lo, Hanum. Gue kasian setidaknya lo pikiran anaknya Lisa nanti, kalau dia cowo dia ga butuh wali bapak biologisnya, tapi kalau cewe?"
Pelukan Sinta, membuat Hanum kembali mengucur air mata. Hanum bingung ada di posisinya saat ini. Mungkin di luar sana ada yang bernasib sama, ada juga yang lebih dari ujian ini. Bagai kertas yang telah di sobek, sulit untuk kembali. Luka dan ingatan kata kata serta sikap Fawaz pada sang kakak, akhir akhir ini, membuatnya takut.
"Percaya sama gue ya Hanum, cewe itu udah paling kejam hancurin rumah tangga kakak lo. Dia udah rebut milik kakak lo, apalagi sekarang pak Ray libatin gue sama Lisa dalam ajang sesi permintaan koleganya yang rekrut kita pernah di bidang vloger. However, kita. Eeeh, intinya, satu manajemen dan bakal terus natap si Nestia, calon pengganti kakak lo." Sinta emosi, ia meminta Hanum berpikir secara real.
"Ok! kali ini gue percaya sama lo Sinta, selesai dari kontrak berakhir kerja lo hubungi gue, gue minta bantuan sama mas Rico. Kita temui orang yang menurut lo pinter, atau nanti gue bantu hubungi bi Inah."
"Trus gue harus bilang kakaka gue korban, soal anak gue nanti. Gue udah putusin, gue ga akan buka aib kakak gue nanti. Dan gue tetap bakal puji kebaikan, kelebihan bapak ibunya. Masalah ini kan, memang konflik antara orangtuanya. And, semoga gue kuat hadapinya, kelak semua pasti memahami."
Hanum kembali menghapus air mata, terus terang ia bercerita panjang bersama Sinta dengan banyak menguras segalanya. Belum lagi ia menatap pesan, jika Rico dan mama Felicia sudah berada di kediamannya, tapi Hanum sedang tak ada di rumah. Ia berada di taman bersama Sinta dekat perumahannya.
"Kenapa, ada masalah lagi?" tanya Sinta, saat Hanum menatap layar ponselnya.
"Mas Rico. Dan mama gue dateng, gue ga bisa terlalu banyak yang hadir di saat masalah gue kaya gini. Jelasinnya aja bingung kalau Fawaz benar benar kena guna guna, tau kan dia orang luar, mana percaya sama hal mistis gini."
"Benar juga sih, lo tenang aja. Sekarang waktunya istirahat, besok kita udah stay kerja lagi. Nih susu dan sandwich jangan lupa dimakan dulu!" ucap Sinta pada Hanum.
Hanum mengangguk, setelah ia membalas pesan singkat.
***
RUANG KOLEGA.
Setelah beberapa dekade. Kamu harus mempunyai banyak intrik Nes!!
"Hadeuh. Trus gue harus lakuin apalagi? Secara kalau gue ke paris selama seminggu. Bisa gak ya .. secara Honey gue tau sendiri."
"Nestia. Elo itu udah jadi ambas brand terkenal dibanding orang lama yang lagi hamil itu. Sekarang lo kudu bersiap. Besok kita harus mulai pengenalan iklan. Jangan lupa ya, udah teken kontrak loh!" sindir Putrina menatap wajah seseorang.
Sementara Hanum mendampingi Lisa, ia tetap tenang. Ia berusaha untuk menahan kesabaran, melatih emosinya demi janin dalam kandungan sang kakak tetap baik baik saja. Ia yakin, jika wanita yang sudah merebut suami kakaknya adalah wanita yang jelas tidak baik. Hanya ingin bahagia diatas penderitaan wanita lain, tanpa mau berproses.
Setidaknya Hanum juga sadar diri, bahwa sang kakak ia terlalu ingin bekerja dan sibuk di luar. Kala suaminya seorang dokter yang jarang ada waktu, tapi sebuah sikap yang Lisa ambil, malah membuat boomerang wanita itu masuk kehidupan rumah tangganya. Bahkan Hanum sadar diri, keinginan Fawaz yang ingin ditemani, ia tolak karena yang ia takut istrinya berpengaruh buruk sebagai profesi seorang dokter.
Tapi kini benar kejadian, malah berujung petaka dan semua itu salah, banyak beberapa andil yang Hanum harus disalahkan adalah keduanya tak bisa saling memaklumi. Meski bagi Hanum. Fawaz salah dan keterlaluan.
'Mungkin kalau aku terus mendampingi Lisa, apa tidak aneh saat Fawaz lihat aku ikut konser Lisa, tapi wanita bernama Nestia itu tidak akan masuk.' batin Hanum menatap Nestia yang sedang tertawa bahagia, seolah mengolok olok menatapnya.
Tak lama setelah sesi wawancara berakhir, Hanum terdiam kala melihat seorang pria datang dan itu membuat Hanum tidak bisa menahan air mata yang mengembang, di wajah dan sekitar mata yang merah jambu.
Hanum tidak menyangka, jika sosok sahabatnya itu membuat terang terangan mengecupi pipi wanita yang bukan muhrim. Sementara dari sebrang ada istrinya Lisa.
"Kak, apa seperti ini sikap Fawaz pada kakak?" tanya Hanum.
Tbc.