
Hanum ikut bersama Alfa. Ia dari tadi diam saja, mengingat mama Maria telah pulang dari rumah sakit. Hal itu membuat Hanum menemui kedua mertuanya. Ia sudah tak bisa lagi memendam apa saja padanya saat bersama Alfa.
"Han, apa kamu hanya ingin menemui mamaku saja. Mengucapkan selamat atas sembuhnya?"
"Aku tidak tau, yang jelas aku menepatimu ikut bersamamu kan."
"Hanum, apa sulit bagimu untuk percaya padaku. Jika aku benar benar ingin menjadi suami idaman bagi istri hebat sepertimu?"
"Alfa! sudahi dramamu. Aku tidak tau, bagaimana aku harus percaya. Semua itu tidak cukup dengan hanya omongan saja. Jika kamu mempunyai istri tukang selingkuh, dan seenaknya menghina. Lalu esoknya ia bicara ingin menjadi istri terbaik, tak melakukan hal itu lagi. Apa kamu jadi suami akan percaya?" cetus Hanum menatap Alfa.
Alfa sadar, perkataan Hanum ada benarnya. Sehingga ia terdiam dan meminta maaf telah membuat Hanum emosi. Dan lagi lagi saat tiba di rumah. Hanum merasakan sakit yang bukan main. Esok harusnya ia kembali datang kerumah sakit. Tapi salah satu kakinya kaku, tak bisa digerakan seolah ada cairan lengket yang keluar begitu saja, tapi Hanum tahan.
"Kita sudah sampai, mau aku papah?" tanya Alfa.
"Aku bisa sendiri. Tidak perlu manis dan tidak perlu bantuanmu Alfa Jhonson, jadi pergilah lebih dulu!"
"Mana bisa seperti itu," senyum Alfa menahan sabar, saat Hanum menjadi wanita dingin padanya.
'Apa aku sanggup bertahan, jika kelakuan Hanum seperti ini terus menerus. Tapi apa masa laluku, semengerikan itu padanya. Sampai sampai Hanum tak percaya, bahkan melihatku seperti muak?' benak Alfa turun dari mobil lebih dulu.
Hanum membuka pintu, lalu masuk dan menatap seisi ruangan kamar milik suaminya. Bangunan yang berwarna doop dan silver abu. Ciri khas karismatik suaminya. Entah dari mana, Hanum harus mulai. Ia duduk di sofa kasur, lalu mendapati foto pernikahan dan foto Alfa sendiri. Hanum memang merindukan pernikahan hangat , tanpa terasa air mata itu mengalir begitu saja.
Tidakkah, Alfa tetap ada dan dekat. Sayang, itu adalah foto dadymu. Kamu tetap bisa melihat dan dekat kan sekarang. Benak Hanum mengelus perutnya sambil menatap foto pernikahan, entah dari mana ia mencoba ikhlas akan sikap Alfa dahulu.
Hanum duduk, dan merebahkan dirinya di kasur yang biasa Alfa gunakan untuk melepas lelah. Ia kini teringat saat pertama kali bertemu Fawaz yang sangat sabar menunggunya, tapi ia bingung untuk memutuskan. Berpisah atau berkomitmen dengan Fawaz, ujian hati Hanum mulai goyah saat Alfa manis seperti ini.
Hanum yang gugup kala tidur satu ranjang bersama pria yang belum ia cintai, karna rasa sayang saat itu ada pada Fawaz. Tapi semua berubah ketika ia harus memutuskan.
'Fawaz, jika waktu bisa di putar. Aku ingin sekali kita bertemu lebih awal. Kita menikah dan bersama untuk yang pertama bagiku, agar waktu kita mungkin sangat lama menantikan kebahagiaan.' batin Hanum.
Hanum tak bisa tidur, ia berharap dirinya akan tidur pulas. Namun saat ia memejamkan mata, ia menatap seseorang yang berdiri dengan gaya senyum merona maskulin. Tatapan jambang yang tipis dan raut wajah yang sangat tampan. Membuat Hanum bangun dan duduk di kasur sofa.
"Alfa. Kamu di sini sedang apa?" tanya Hanum.
"Ini kamar kita, mama baru saja pulang. Tapi kita bisa menemuinya esok. Aku tidak mungkin tidur di ruang tamu kan? Kita sudah sepakat untuk saling mengenalkan Hanum?"
Hanum beranjak dan melangkah menepi di lemari besar, tempat baju jas yang tergantung. Hanum berdiri jelas menatap seseorang yang jelas. Ia tersenyum, tanpa sepatah katapun. Hingga di mana Hanum mengangkat tangannya guna untuk mengambil kasur lipat.
"Jangan tidur di lantai! aku akan menjaga sikap tidak menyentuhmu. Tapi kita tidak boleh asing sebagai pasangan sah. Hanum, jangan menolak perlakuan manisku. Aku memang salah dan terlalu banyak salah. Beri aku kesempatan!"
"Apa aku harus mempercayaimu Alfa. Kamu tau rasanya jadi istri ktp yang tidak kamu anggap. Coba kamu ingat, apa saja yang sudah kamu lakukan padaku? apa kamu sanggup jika aku adalah kamu yang merasakan perlakuan kasar itu?" lirih Hanum.
Alfa lagi lagi tertampar, hingga dimana Hanum melemas saat berdiri. Ia meremas perutnya dan berusaha menahan, tapi rasa sakit itu bagai perasan yang membuat Hanum tak tahan, apalagi menyembunyikan rasa sakitnya di hadapan Alfa.
"Auuuuuwh! sakit." memegang perut.
"Han, kamu kenapa? kita kedokter sekarang juga!"
'Aku...! Aaaaaauuuwh. Tuhan kenapa rasa sakit ini tak bisa aku tahan, seperti rasa sakitku terhadap sikap Alfa. Apa semua akan berakhir?' lemas Hanum menutup mata.
"Tidak! Han, Hanum bangun sayang! kamu ga boleh seperti ini. Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku. Demi nama Tuhan, aku bersumpah menjadi pria yang lebih baik untukmu. Aku akan sabar menerima balasan darimu. Tuhan selamatkan Hanum istriku! maafkan aku!" lirih Alfa panik. Menepuk pipi Hanum dan membopongnya.
To Be Continue!!
Sambil tunggu Hanum kelanjutannya. Yuks mampir litersi Author!