
"Ren, kamu disini. Ngapain kamu?"
"Aku cari kamulah Darling. Alfa, kembalilah! aku sanggup kamu cuekin beberapa waktu, tapi jangan putusin aku!"
Alfa berusaha melepas tangan Irene, sehingga tak jauh Elmo datang dengan terhuyung huyung saat berjalan. Alfa menaikan salah satu alis matanya, benar saja dua sejoli ini habis bermain kura kura.
"Elmo, katakan apa yang terjadi?!" sinis Alfa.
"Pak! maaf, tapi Irene tidak sadar. Ia menarik saya dan begitulah, tapi itu pengaruh obat dan itu halusinasinya anda pria nya. Saya segera membawanya, saya akan lakukan kesehatan dia dan tidak akan lepas lagi dari pengawasan saya." jelas Elmo.
"Darling! jangan pergi, tolong hentikan dia! aku mau ikut sama kamu aja. Huhuuu." gerutu Irene yang ditarik paksa Elmo.
Alfa menarik nafas, syukur saat tadi Irene datang memeluk tidak ada Lisa. Jika tidak, mungkin kepercayaannya akan hilang tak mempunyai dukungan mengejar Hanum. Bagaimana pun saat ini memang Alfa sedang membenahi diri, ia sudah cukup menyianyiakan waktu berharganya, terlebih karna seorang mama.
'Jika Alfa berani menyakiti Hanum, maka dia pasti sudah siap untuk menyakiti mamanya.'
Dan itu adalah kata kata terakhir yang Alfa dapat, sebelum mengetahui jika Hanum tak bersalah. Apa yang ia tuduhkan salah, demi janjinya dan sayangnya pada seorang ibu. Maka ia berjanji untuk membahagiakan Hanum, meski ia juga belum tau apa ia sudah benar jatuh cinta pada Hanum saat ini.
Terlebih ketika melihat Hanum bertatapan menyuarakan isi hatinya pada Fawaz. Hal itu membuat sesak dan tak suka Alfa rasakan.
Alfa keluar dari kamar teratai, ia menghubungi sang papa. Ia mengabarkan jika dirinya tak bisa sarapan bersama karna semalam Hanum sakit. Sehingga Alfa lega setelah mengabarkan pada keluarganya itu.
Alfa kini melihat sebuah buku, bisa saja itu milik orang lain yan tertinggal di kursi apotek. Alfa mengintip dan ia segera mencari judul buku yang sempat ia lihat tadi. Resep menggaet hati si dia. Hal itu membuat Alfa senyum dan tak sabar mencobanya pada Hanum.
BERBEDA HAL DENGAN LISA.
Ke esokan harinya, Lisa sudah mengantar mama Rita pulang. Ia juga meminta sang mama tidak menemui Hanum, karna kondisi yang tak stabil. Sehingga Lisa pergi guna mengantar paket dokumen ke sebuah cafe oleh manager barunya.
Dalam beberapa puluh menit, Lisa sampai. Sehingga ia berjalan maju sedikit ragu. Kala cafe besar ini menjulang dan menyatu dengan apartemen.
"Kaya ga asing ini cafe. Tapi dimana ya aku liat?" insting Lisa.
Lisa masuk, benar saja bertanya pada seorang karyawan yang ia anggap cool. Ternyata sedikit gemulai, lalu Lisa menayakan pada karyawan itu atas nama Nyonya Ecia.
"Maaf, mas. Mau antar dokumen, buat Nyonya Ecia. Apa ada?"
"Oh. Ada, dengan siapa. Nanti saya hubungi dulu ya Kak." ucap pria gemulai itu.
Tak menunggu lama Nyonya Ecia turun, terlihat dibelakangnya adalah Fawaz yang menggunakan kemeja putih dan celana biru ramping. Lisa menelan saliva, ia tersentuh karna ciptaan tuhan sangat indah di depannya saat ini.
"Tante Felicia?"Lirih Lisa.
"Loh, kamu Lisa kakak dari Hanum kan? Ternyata kamu yang di suruh Merli. Lisa gimana kabar Hanum. Jangan dulu pergi ya! gimana kita makan siang bareng?"
"Haah, makan siang. Tapi tante, Lisa .."
"Ga pake nolak. Nanti saya bilang sama Merli hubungi dia, kamu telat sedikit. Merli itu sepupu tante."
Mendengar hal itu, Lisa melirik Fawaz yang senyum mengiyakan. Hingga Lisa sulit bernafas tak bisa menolak.
RUMAH SAKIT.
"Han, kamu udah boleh pulang. Selama nanti kamu di rumah. Ada perlu apa apa kamu bicara sama aku, aku juga nyuruh bi Surti dari Lisa kakakmu. Dia ikut sama kita, biar bisa jagain kamu." ungkap Alfa.
Hanum tetap terdiam, ia ikut merapihkan lipatan baju medis, yang akan di taro di atas kasur. Lalu menatap Alfa dengan kebenciaan.
Sreet!! tubuh Hanum diraih, jelas salah satu tanggannya di kecup oleh Alfa.
"Meskipun kamu masih membenciku, meskipun aku mendapat balasan acuh darimu. Aku siap menunggumu Hanum."
"Lepasin!" cetus Hanum ia segera pergi, meski jalannya sedikit lambat.
"Han, tapi percayalah. Aku sadar atas apa yang aku lakuin sama kamu. Aku terlanjut menyadari kamu wanita hebat pilihan mama."
"Atas dasar apa kamu membual Alfa! ayo akhiri hubungan kita ini tidak jauh beda dengan penipuan dalam pranikah. Aku tidak bisa percaya begitu saja, aku yakin kamu akan kembali melakukan hal kasar padaku?"
Alfa memeluk tubuh Hanum dari berlakang, ia mengatakan agar Hanum sedikit memberi kesempatan. Ia juga bicara jika ia benar benar tak ada hubungan apapun pada Irene saat ini, selain bisnis yang masih terkontrak atas nama perusahaan papa.
Saat Hanum ingin mendorong tubuh Alfa, setelah berusaha melepas eratan jari tangan Alfa. Tiba saja seseorang masuk membuat mata Hanum membulat pucat pasi.
"Hanum sayang, kamu ga apa apa nak?" ucap seseorang.
Membuat mata Hanum terdiam, karna ia tak mungkin akan bersikap tidak hormat pada Alfa saat ini.
**To Be Continue**!!