BAD WIFE

BAD WIFE
GHINA DEWASA



Mama Rita sangat kesal, ketika Felicia datang. Boomerang kembali datang, ketika dua putrinya terlibat dalam asmara. Hanum merasa bersalah, membiarkan Lisa mengenal Fawaz. Terlebih berteman dengan Fawaz, adalah satu kesalahan.


"Sayang! kita tidak perlu menyesali. Semua sudah terjadi, semua sudah dihukum." ujar Rico, menyemangati Hanum.


"Mas, benda masalah yang kita lalui sangat diluar logis. Hanum ga kuat mas, kaki Hanum saja masih lemah tidak bisa berjalan."


"Sayang! kita dan sekeluarga akan tinggal dan menetap di singapore. Pengobatan, mas akan lalui hidup bersama kamu. Apapun itu, mas mohon jangan menyerah sayang!"


Hanum mengangguk! hingga dua anak nya datang, bergandeng dengan Leo yang kini sudah usia belasan tahun.


"Bunda! kami selalu bersama Bunda. Bunda terus semangat ya! jangan sedih!" ujar Leo.


Hanum terharu, kala ketiga anaknya memeluk, dan Leo menghapus air mata Hanum. Rico ikut senyum bahagia, baginya keluarga kecilnya dalam keadaan apapun. Akan mereka lewati bersama sama seumur hidup.


**The End.


( Kisah Hanum dan Rico, happy Ending** )


***


17 Tahun Kemudian.


Hari ini, Ghina akan melamar kerja di perusahaan besar yang kata Leo, sedang membutuhkan sekretaris baru.


Ghina berangkat menggunakan kendaraan umum untuk sampai di tempat tepat waktu. Ghina sedikit minder saat ia mendapati begitu banyak pelamar yang datang.


Dan yang paling membuat Ghina menggigit bibir adalah, semuanya cantik-cantik. Mereka tampil dengan penampilan seksi juga tubuh semampai bak model internasional.


Beda jauh dengan Ghina yang hanya mengenakan rok span hitam selutut, juga kemeja putih yang warnanya mungkin sudah tak enak dipandang mata, itupun dadakan ia meminjam baju milik temannya.


"Ghina Al meera!" Ghina mengangkat kepala saat mendengar namanya dipanggil.


Sekarang saatnya giliran Ghina masuk ke ruang HRD.


'Aku tidak boleh patah semangat. Semoga rezekiku ada di perusahaan ini.' Ghina berdoa terlebih dahulu, sebelum kemudian ia masuk dan duduk di depan seorang HRD wanita yang berwajah tegas.


"Namamu Ghina?" tanya HRD itu yang, ia lihat di papan namanya bertuliskan 'Resti'.


"Iya, namaku Ghina."


Resti manggut-manggut sambil melihat-lihat surat lamaran milik Ghina sebentar. Ghina menahan napas sambil memilih jemari. Ia berharap agar dirinya diterima.


Tak lama, Resti menaikan pandanganya dan menatap Ghina kembali. Namun kali ini dengan senyum di bibirnya.


"Selamat, Ghina! Kamu yang terpilih untuk menjadi sekretaris di perusahaan ini!"


"Benarkah? Se-semudah itu? Maaf. Tapi maksudku, aku tidak menyangka anda langsung memutuskan menerimaku sementara di luar sana banyak sekali yang masih menunggu antrian untuk interview," ucap Ghina dengan wajah bingung.


Namun ia tak memungkiri jika hatinya saat ini sedang melambung tinggi.


Resti tetap melengkungkan senyum pada Ghina. Lalu mengangguk.


"Memang benar. Di luar sana masih banyak yang menunggu untuk diinterview. Tapi setelah saya melihat surat lamaran kamu. Saya rasa kamu adalah orang yang cocok dan sesuai dengan kriteria perusahaan ini. Sekarang terserah kamu saja, Ghina. Kesempatan sudah ada di depan mata. Kamu sudah kami terima, jika kamu setuju, sekarang juga kamu sudah bisa tandatangani kontrak kerja. Dan besok adalah hari pertama kamu bekerja di kantor," Resti menjelaskan.


Tentu saja Ghina tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan emas di depan matanya.


Kedatangannya ke jakarta adalah untuk mengadu nasib. Dan saat Ghina bertemu keberuntungan, tidak mungkin ia menolaknya, bukan?


"Aku bersedia bekerja besok. Dan aku siap menandatangani kontrak kerjaku hari ini." Ghina langsung menyahut. Sebelum Resti berubah pikiran.


Resti mengangguk dan memberikan sebuah berkas pada Ghina. Yang mana isinya adalah surat perjanjian kontrak kerja.


Saking terlampau senangnya, Ghina sampai lupa jika ia tak membaca lebih teliti dengan isi dari kontrak itu.


Ghina langsung membubuhkan tanda tangannya tanpa rasa curiga.


"Sudah," kata Ghina menyimpan bolpointnya di atas meja.


Resti tersenyum menutup berkasnya.


"Sekali lagi saya ucapkan selamat padamu, Ghina. Selamat bergabung dengan perusahaan ini. Dan, satu lagi. Aku harus memberitahumu sesuatu. Boss kami berpesan, agar sekretaris yang terpilih harus menghadap padanya terlebih dahulu. Boss ingin kamu memperkenalkan diri padanya sebelum besok kamu benar-benar bekerja." Resti memberitahukan.


Ghina terdiam sebentar sembari mengerutkan keningnya. Entah mengapa sekarang Ghina merasa seperti ada yang ganjil di sini.


Pertama, penerimaan sekretaris begitu cepat. Lalu, harus memperkenalkan diri di hadapan boss.


"Kamu ikut aku, Ghina! Boss sudah menunggu kita di ruang kerjanya," kata Resti lagi.


Tapi Ghina tak urung menganggukan kepala. Ia segera memencet tombol pesan suara, saat mengekor bu Resti.


'Leo, kau di lantai berapa? ah! kau satu satunya kakak yang mengesalkan. Awas jika kau membohongiku.' batin Ghina.


Tak lama muncul satu pesan, yakni itu adalah sang Bunda. Bunda menanyakan Ghina dimana, sementara Ghina memutar bola mata, ia memang tidak di izinkan melamar kerja. Tapi karena Leo, ia berkecimpung dunia kantoran. Tak ingin terus dibandingkan dengan Ghani yang selalu menjadi kebanggaan sang papa. 'Ceo, Ghani Almeer Mark'. Celutug Ghina kesal, kala ia ingat perdebatannya di rumah.


"Ghina, ayo masuk!" ujar bu Resti.


"Baik bu." senyum Ghina, lalu menohok kala melihat seorang pria yang duduk di meja kebesarannya.


Tbc.