BAD WIFE

BAD WIFE
RENDAH HATI



Uncle, aunty! Lion ingin daging ayam. Please! rengek bocah kecil.


"Ok, paman akan ke warung sebentar ya! kamu tetap di kamar, temani bibi Hanum. Ok"


"Ok paman." senyum Lion.


"Mas."


"Tidak perlu khawatir sayang, mas masih cukup kok untuk membeli ayam. Kamu didihkan air di kompor ya, mas akan segera kembali."


Hanum yang melihat seluruh isi dapur, semuanya kosong. Benar benar ia tidak bisa melakukan pekerjaan dapur atau pun menyentuhnya, bahkan ia tak mengerti cara memasak ayam. Yang ia tau hanya cara makanan instan yang sering ia buat.


"Duh, nyesel deh. Kalau ada mbok surti pasti semua beres, tapi kondisi kaya gini, mau tidak mau kepepet harus serba bisa." gumam Hanum.


"Aunty, kenapa. Aunty tidak bisa masak ayam ya? apa di sini tidak ada ayam tepung jadi?" tanya Lion.


"Lion, ini desa. Sulit sekali, kamu sabar ya. Paman Rico pasti cepat datang." senyum Hanum, mengusel rambut bocah kecil itu.


Hidupnya sudah sulit dan benar benar sulit, tidak ada kasih sayang dari Adelia. Pertama bertemu anak ini saat ia protes di cafe, sebelum kecelakaan Hanum terjadi. Tapi aneh dan ajaib Hanum kembali di pertemukan dan menjadi bagian keluarga. Bahkan pria yang menolongnya adalah calon suami yang sangat bertanggungjawab dan romantis.


"Aunty, ini sudah lama sekali. Kok paman belum datang?" tanya Lion.


Ketukan pada pintu utama, Rico datang membawa satu kantung plastik putih. Ia bicara pada Hanum untuk mematikan kompor.


"Sayang, ambilkan piring. Tidak perlu masak, mas sudah membeli di depan sana. Maaf menunggu lama!"


"Wah, asiik paman Rico terbaik." teriak Lion.


Hanum meminta bibi Dena menghentikan menjahit, lalu mengajak makan bersama. Hanum meletakan piring dan gelas dari teko stainles. Hanum pertama kalinya melihat mas Rico duduk mengampar dan makan bersama, ada rasa tertahan tangisan yang Rico pendam saat ini.


"Mas, aku baik baik saja. Mas baik baik saja?"


"Ya sayang, mas sangat baik baik saja. Kamu tau, mas hanya sedih karena mas tidak bisa membuat kamu bahagia. Mas telah membuat kamu ikut dalam kondisi seperti ini."


"Mas, selalu bersama kamu. Aku sudah cukup bahagia, kamu membuat aku bangga." senyum Hanum menguatkan. Lalu bibi Dena mengalihkan dengan pikiran harunya.


Hanum juga menatap suaminya, tidak mudah jadi pria yang sangat kaya dan pemilik sekelas market Marco terbesar, mampu terjun bebas berbaur dengan petani. Bahkan ia bisa terjun ikut menjualkan padi serta jagung ke pasar, tanpa mengenalkan diri siapa Rico sebenarnya. Tampilan sederhana, membuat Hanum selalu kagum pada suaminya.


"Sudah mau sore, Bibi sama Lion pulang dulu ya! besok atau lusa, pasti kami sering mampir."


"Iy, bibi Dena jangan sungkan ya."


Hanum menatap bibi Dena dan Lion pamit, pergi dengan ojek. Bibi Dena sendiri ia menjadi pegawai pabrik dan Lion selalu ikut bersamanya. Tapi Hanum menawarkan jika Lion bisa di titipkan di rumahnya, selagi masih tinggal di desa Arga.


"Mas, kalau kamar kita ada dua. Tadinya Hanum mau nawarin menginap, tapi ruang tamu kita dan dapur atapnya rusak, kalau hujan gimana mas?"


"Maaf ya sayang, mas belum bisa wujudkan mencari tukang. Mas belum ada dana buat bayar tukangnya."


"Gak apa apa mas, Hanum ga masalah kok. Tapi mas Rico tadi bisa beli makanan, uangnya dari mana. Maaf mas, setau Hanum mas kita udah ga pegang uang cash."


"Mas, tadi nawarin diri cuci piring. Jadi mas bayar setengahnya."


Gleuk! beribu syukur, Hanum merasakan kebanggaan memiliki suami yang rendah hati dan tidak malu. Justru ia malu, jika dirinya tidak bisa bantu apa apa di saat mas Rico berjuang untuk menyambung hidup.


"Mas, Hanum bantu kerja aja ya. Katanya ada pabrik sembako, gimana kalau .."


"Sayang, kamu lagi hamil. Enggak boleh kerja yang berat berat. Mas akan berjuang untuk kamu dan kita." peluk Rico menatap istrinya.


"Mas, tapi .."


"Ssst! tidak ada tapi tapian, eh. Ada pesan dari Erwin, semoga ada kabar baik dari jaksa."


"Amiin mas."


Hanum senyum menyempit, ketika mas Rico berubah wajah penuh kebingungan.


"Mas, ada apa?" panik Hanum.