BAD WIFE

BAD WIFE
MENEMANI LISA



"Mas, bentar lagi temannya kak Lisa datang. Mas udah bantuin nama baik kak Lisa, madu ka Lisa itu harus dikasih pelajaran. Gimana bisa dia masih senyum dan dikasih job, sementara gara gara video potongan pendek kak Lisa yang ga full di tayangin, mereka hujat kak Lisa." cercah Hanum, ia sambil melipat baju.


"Sayang, malam ini kamu jangan capek mikirin hal berat. Soal Lisa, mas udah suruh Erwin. Mas ga ngurus masalah rumah tangga yang sedang goyah. Mereka pasti bisa atasi masing masing, hanya saja mas sebatas bantu beli mall tersebut, lalu mas minta video full. Dan karyawan bermasalah serta tenant dibaliknya, mas ganti."


"Apa? mas serius beli, ah kalau gitu mas buka usaha fashion juga?"


"Enggak sayang, mas serahin nama kamu yang jadi bosnya. Sementara pemilik fashionnya ia bisa dikatakan, ia bekerja untuk kita. 60 persen mereka bayar royalti kepimilikan tempat buka usaha di mall kita. Anggap aja dia manager yang mengelola." senyum Rico, kala mengelus pipi Hanum.


"Makasih ya mas, kak Lisa pasti senang udah dibantuin."


"Iy, kemungkinan teman Lisa siapa kemarin yang gayanya tomboy itu, yang rambutnya kaya cowok?" tanya Rico.


"Oh itu namanya Sinta mas."


"Ah, ya. Mungkin sama dia, Lisa pergi. Kamu juga harus pantau mama. Jangan sampai obatnya habis, tadi mas mau samperin mau nanya. Apa kebutuhan mama ada yang habis, biar mas order sekalian pampers sikembar. Tapi mama lagi ngaji. Jadi mas ga jadi ketuk deh."


Hanum terdiam, ia sangat bahagia karena dipertemukan pria semanis Rico. Ia benar benar merasa diperlakukam bagai ratu, bagai wanita yang dihormati. Mungkin sikap pria seperti mas Rico rejeki yang Tuhan berikan mengalir terus, dan ini adalah ujian terberat Hanum kala mas Rico kembali jaya. Makin banyak godaan lain, dan Hanum berharap mas Rico selalu manis seperti ini dan setia pada keluarganya.


"Mas, baby Ghina dan Ghani udah tidur, dikamar sebelah pasti pengasuh juga udah istirahat jam segini. Mau berenang bareng gak?" goda Hanum, membuat Rico gerah dan membuka kaosnya.


"Han, kamu makin kesini ganas loh. Emang udah boleh kita lakuim setiap hari, makin kesini mancing mancing mas terus. Tempo lalu mas lagi buat laporan, kaki kamu kenapa nyentuh rajawali mas, mana mas pake boxer lagi. Kan ga enak langsung bangun Hanum sayang." tawa geli Hanum kala Rico memencet hidungnya.


"Emang aku ga boleh genit sama suami sendiri?" tanya Hanum, yang sudah menyesapi rajawali Rico.


Rico tak bisa berkata, ia hanya bisa menarik nafas dan menahan keasyikan dimalam sunnah yang katanya, bagi sebagian pasangan malam itu adalah wajib dan nama malam yang membuat orang tanda tanya, tanda kutip dan senyum senyum sudah meracau alias traveling yang hakiki.


( Mohon maaf! obrolan khusus bagi pasutri udah pasti ngerti ya! ) Yang belum nikah, lewatin aja.


***


Esok Harinya, di tempat Lisa.


"Lis. Udah siap?" tanya Sinta.


"Tapi .. kalau mereka ga ada bukti rekaman itu gimana. Seperti yang kamu bilang Nestia itu?"


"Udah. Gue ada kenalan sama pemilik fashion ini. Kebetulan gue pernah berjasa buat dia, masa ia ga mau nolongin sih!"


Sinta membuat Lisa tenang. Sepagi ini, sebelum toko buka. Di tanggal merah ia menyempatkan ke mall untuk mencari tau yang sebenarnya terjadi. Hingga dimana, Lisa meminta Sinta untuk kembali pulang.


"Sin. Udah aakh .. lihat mereka natap gue terus!"


"Mereka itu kan pekerja Lis. Sama kaya kita, klo enggak cari kebenaranya. Lo mau karier nasib lo ancur. Terus pak Ray dan pak Ver gimana. Lo sanggup bilang ke mereka tanpa bukti rekaman itu?"


"Gue bingung, sebenarnya lo ke sini mau apa sih, Lis?"


Lisa terdiam menatap Sinta. Ia gugup untuk menjelaskan dan hanya senyum saja, ia membalas.


Mohon maaf. Bu, semua data tanggal kemarin sedang dalam perbaikan. Sistem kami tak bisa mengecek jam dan waktu kejadian kemarin. Maaf !!


"Apaaah.. " teriak Lisa dan Sinta bersamaan.


"Ya. Saya sudah mengecek ketiga kalinya. Tetap tidak ada. Kebetulan, kemarin saya libur tidak berjaga. Silahkan tinggalkan nomor ponsel. Jika saya menemukan, atau setelah perbaikan ini selesai. Saya akan bicara pada petugas kemarin!"


Sinta dan Lisa menarik nafas. Ia keluar dari ruangan cctv dengan tangan kosong. Sinta meminta Lisa untuk bersabar, hal yang tak mungkin Lisa harapkan adalah kebenaran.


Bahkan Fawaz yang ia cintai, yang ia percayai saja saat itu menampar dirinya. Bisa saja, Sinta akan murka jika mengetahui sikap Fawaz yang mempermalukan nya di depan umum, saat itu.


Saat Lisa bicara menatap seseorang. Sinta menambah dan menjelaskan secara detail. Lalu bertemu kawan seperjuangan. Hingga di mana Sinta meminta dirinya membantu untuk rekaman cctv yang terpantau jam kejadian kemarin.


"Tunggu sebentar ya. Ayo masuk keruangan private kami! loh apakah anda bu Lisa? saudara dari bu Hanum?" seorang manager melihat foto dari ponselnya.


"Iy benar, kok mbak bisa tahu. Sebelumnya saya belum pernah lihat loh, apalagi waktu kejadian?" tanya Lisa.


"Begini, banyak semua tenant, karyawan telah diganti. Saya memang baru, tapi saya ditugaskan oleh pak Erwin membantu bu Lisa. Karena sebagian mall ini milik pak Rico dan atas nama bu Hanum. Otomatis bu Lisa orang penting bagi kami. Mari ke dalam, masuk bu! kami akan membantu semaksimal mungkin!"


Lisa dan Sinta tercengang, mungkin karena ia tadi pagi tak sarapan dan tak bertemu Hanum, jadi Lisa baru tahu saat ini juga.


Dua puluh menit berlalu. Lisa dan Sinta masih menunggu. Tapi rekaman itu tak ada, hingga di mana Lisa, lesu dan lemas. Sudah pasti ia akan mendapat masalah esok di kantor.


"Maaf bu Lisa. Saya udah cari, tapi ga ada rekamannya. Kemarin memang jam seperti itu, lampu koslet. Jadi udah pasti ga kesimpan. Tapi saya sudah hubungi pak Erwin, atau mungkin sudah ditangan pak Erwin rekamannya." jelasnya.


Sinta merasa tak masuk di akal. Seolah semua ini sudah di rencanakan matang matang. Ia menatap Lisa yang terlihat mencari seseorang.


Sinta mengejar Lisa. Ia menepuk bahu Lisa hingga di mana, ia menatap terkejut akan sikap Lisa yang bersedih.


"Ga usah sedih ya. Ayo kita cabut kita temuin Erwin!"


Dan benar saja, saat mereka berdiri terlihat seorang pria dari arah kanan berjalan menghampiri. Sinta begitu terpesona akan tampilan Erwin dengan jas rompi coklat. Ia berlari dan menatap Lisa, seolah mengabaikannya.


"Bu Lisa, ini rekamannya. Bu Lisa bisa gugat Nestia kapanpun, video online dan iklan sudah saya bantu dengan pak Ray. Nama baik bu Lisa dan pengikut bu Lisa pasti akan kembali, atau mungkin bertambah. Jadi bisa kembali tenang, tapi bu Hanum bilang. Bu Lisa jangan pergi jauh jauh, takut Nestia balas dendam mencelakai bu Lisa."


"Makasih Erwin. Saya akan segera pulang, menemui Hanum untuk berterimakasih. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih ya Erwin. Titip salah buat pak Ray, rasa terimakasih saya!"


Tbc.