
Terlihat tombol sembilan menyala karna tadi berhenti di lantai lima. Setelah semua orang yang berada dalam lift keluar. Menyisakan Lisa, Sinta dan satu orang pria.
"Loh, Lisa. Kamu disini juga?"
"Aah! ya, dokter Fawaz. Benar, saya baru bekerja beberapa minggu disini. Karna kontes." jelas Lisa.
Oouuuw! kontes, cibir Sinta. "Ok deh gue pamit ya jeng, bye Lis. Gue duluan ya. Mau ke lantai tujuh dulu gue. Ga mau ganggu." sindir Sinta melambai.
"Eh apaan sih," balasnya.
Lisa segera mengedipkan mata. Sahabatnya itu kadang konyol. Memang ia bekerja dilantai tujuh, untuk apa juga berbasa basi.
"Temen kamu itu, bagian apa?" tanya Fawaz setelah pintu lift kembali tertutup.
"Itu, Sinta. Bagian periklanan. Dia dilantai tujuh." Lisa sedikit menjaga pandangan dengan tetap lurus pandangannya, sementara Fawaz saat bicara menatap Lisa.
"Ooh." hanya singkat Fawaz membalas.
Hal itu juga membuat tatapan anggukan Fawaz. Begitu juga Lisa, ia bingung untuk mengobrol lebih. Keadaan dalam lift saat ini, membuat Lisa canggung. Terlebih Lisa terkejut kala lift berhenti dan berkedip lampu mati.
DUUUG!!
Gelaaap? Enggak! Jangan! lirih Lisa dengan kepanikan. Hal itu juga membuat Fawaz menenangkan.
"Aauwh. Kenapa berhenti liftnya?" Haaaah.. Haaa. Lisa sedikit sulit bernafas.
"Kamu gak apa Lisa? kamu punya asma. Atau Phobia?" Fawaz mendekat, tapi ia benar benar bingung saat itu. Fawaz tak berani memegang tangan Lisa meski sekedar mengecek. Lagi pula alat kedokteran tak ia bawa, karna saat ini sedang pertemuan bersama teman.
Lisa menggeleng, ia hanya sepatah kata saja mengucap. Kala ia semakin menepi di tepi pojokan, Fawaz telah memencet tombol darurat agar bantuan segera ditangani.
"Tenanglah Lisa! kita akan keluar dari sini dengan selamat!"
Lisa hanya mengangguk, ia juga berkali kali melihat nadi, mengeceknya. Saat itu jelas Lisa sangat panik dan gemetar tangannya. Alhasil Fawaz segera menarik tangan Lisa saat ini.
"Kemarilah! sandarkan kepalamu di pundakku! coba tarik nafas, abaikan ruangan pengap sempit ini. Anggap saja kamu berada dalam kulkas! Lalu keluar dengan gunung es yang indah kamu impikan, atau taman bunga yang kamu harapkan!"
"Aku ta-kut." gemetar Lisa.
"Kamu bisa lakukan itu, setidaknya agar kamu bisa melawan ketakutan itu Lisa!" kembali perintah Fawaz.
Lisa menggeleng, lalu Fawaz yang tak enak, meminta maaf dan ijin. Menyandarkan dan membalas memegang kening Lisa. Berkali kali ia meminta Lisa menarik nafas. Dan benar saja Lisa segera tenang, dengan posisi duduk memojok mereka bersama.
Tling! Lampu lift menyala.
"Akhirnya, liftnya sudah lancar. Bantuan sudah tiba, kita akan keluar Lisa." lirih Fawaz.
"Haah. Benarkah?" syukur berdoa Lisa.
Fawaz berdiri, menepuk nepuk belakang celananya, dengan tangan. Sehingga tatapan Lisa menutup mata karna malu. Tak lama, pintu lift terbuka dengan alat yang di lakukan tekhnisi.
Fawaz mengucap tak apa, lalu meraih tangan Lisa agar keluar bersamanya.
"Saya antar sampai sini! nanti saya bantu ambilkan resep obat untuk kamu Lisa. Semoga kamu pemberani lagi ya!"
"Makasih. Kamu udah nyelamatin aku Fawaz."
"No problem! itu sudah seharusnya, tugas saya menjaga pasein. Juga keluarga dari Hanum, wanita yang saya cintai. Kalau begitu saya pamit lebih dulu ya!"
Lisa terdiam pasi, ada rasa nyeri kala hatinya kembali lagi sakit. Mendengar ucapan Fawaz saat ini lebih menyakitkan, dibanding sikapnya. Padahal belum lama, Lisa tersentuh kala perlakuan Fawaz amat lembut padanya.
'Ya! baiklah, aku tau karna diriku ini hanya kakaknya Hanum." lirih Lisa yang menyesal kala bertemu dan di tolong Fawaz.
Lisa menyalahkan dirinya, karna ia telah salah jatuh cinta pada pria. Sebelum Hanum menikah, kehidupan cinta Lisa sangatlah indah. Tapi saat pria bule itu tak mau berkomitmen, dan hanya ingin bersenang senang. Lisa menolak dan kembali ke ibu kota tinggal bersama kedua orangtuanya.
Tapi ketika setelah menikah, Lisa lelah untuk mencari cinta sejati. Sudah ketiga kali ia gagal, menjalani bersama gramer, selebgram. Dan pengusaha yakni Revan yang pernah buat Lisa kagum. Nahas semuanya membuat hatinya sakit. Dan bagus saja, Lisa belum melayangkan pernikahan. Dan kini harus terpesona pada Fawaz. Membuat Hati Lisa tercabik cabik.
'Sudahlah! harus kita akhiri. Stop pikirkan cinta Lisa. Biarkan cinta yang kali ini mengejar, aku sudah lelah.' batin Lisa menahan tangis dan melangkahkan kaki.
Teman Lisa berkerumun, tak sedikit bebisik. Juga sebagian merasa prihatin sekedar bertanya. "Kamu baik baik aja kan Lis? lain kali hati hati ya kalau di lift, jangan pakai di nomor tiga sebelah barat! soalnya sering macet." ucap rekan kerja Lisa.
Lisa berterimakasih, sehingga kali ini ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Lisa duduk dan menatap monitor, lalu bayangannya terus saja mengingat senyuman Fawaz. Tapi begitu sakit kala mengingat kata kata Fawaz menjaga keluarga Hanum yang saya cintai. "Sakiiit."
'Huuuft! fokus. Fokus Lisa, sadar diri kamu!" gumam Lisa menyadarkan dirinya.
PROOK! PROOOK! Suara dentuman tepuk tangan.
"Semuanya! perhatian semuanya. Kalian semua berdirilah! Saya selaku ceo David M Entertaiment. Meminta waktunya untuk kalian sebentar!"
Panggilan petinggi perusahaan, membuat Lisa terkejut dan ikut berdiri, bersama rekan kerja yang lainnya.
Next! Hanum setelah ini ya All. Masih ada satu bab lagi. Semoga tetap hari ini juga.
Curahan Hati :
Warning!
Curcol Author. Sebenarnya kirim lanjutan bab Hanum selalu jam sepuluh pagi lewat dan jam dua siang. Selesai ngetik, pasti jam segitu di saat Author bisa leluasa nyurahin kisah Hanum.
Kalau lama, mohon bersabar. Boleh bantu tag up juga ya! kali aja Entun lagi sinis ama Hanum. Katanya terlalu vulgar atau nganu nganu. Hahaa doakan reveiw, Bad Wife lancar terus. Dua hari ini, Author di buat bingung ama sistem yang biasa lancar jaya. Ini menunggu beberapa jam kaya seabad. Author berasa di kejar utang hahaa. Thanks buat dukungan Hanum ya All.
Doakan Hanum bisa masuk pemenang kategori mengubah takdir, setidaknya ga menang pun readers terus ikutin. Biar bisa berbagi kebahagian juga buat Readers yang setia kasih dukungan kisah Hanum, tentunya kalau kisah Hanum jadi lebih baik.
Author juga terima kritikan kok! justru komen dari kalian dan jejak like, penyemangat Hanum semakin berkembang dan cepat reveiw karna dinantikan oleh pembaca.
Maaf terlalu panjang Author curcol nih!
~ Bersambung .... next! ~