
"Ini kali ketiga kalian masuk keruangan saya dalam setahun ini. Kalian ini kenapa sih? kalian bahkan sudah akan tamat dari sekolah ini, kenapa tidak bisa meninggalkan kesan yang manis buat sekolah ini?" raung kepala sekolah.
Bee yang rambut nya sudah acak-acakan di tatap tajam oleh Jesi yang lebih parah. Rambut bak singa liar, pipi merah kena tampar.
"Dia yang salah pak. Dia memang ga tahu malu. Dia hamil di luar nikah pak. Saya lihat kemarin dia periksa ke dokter kandungan. Ini saya punya rekamannya" Jesi merogoh tasnya mengambil benda pipih dan memutar Video saat Bee periksa dengan tante Di kemarin.
Bee terkesiap. Dia harus bicara apa? apa yang harus dia jelaskan soal kehamilan nya ini. Membantah? menyangkal? dia ga mau. Bayi ini tak bersalah kenapa kehadirannya harus di sangkal.
"Benar Bee? kamu hamil? kamu bisa di keluarkan dari sekolah" ucap guru BK.
"Iya Bu, keluarkan aja dia. Buat malu nama sekolah aja" sambung Jesi.
"Bellaetrix, katakan apa benar kamu hamil?" selidik kepsek.
Pergumulan terjadi di hati Bee. Kalau karena kehamilannya dia sampai di pecat, maka masa depannya akan suram. Tapi kalau menyangkal kehamilan nya, dia juga merasa berdosa pada bayinya.
"Jawab Bellaetrix" ulang Kepsek dengan tidak sabaran.
"Permisi pak, orang tua keduanya sudah datang" ucap pak satpam yang membawa tante Di dan maminya Jesi.
"Putriku" teriak mami Jesi histeris melihat keadaan putri nya hancur.
"Kamu baik-baik aja sayang?" ucap tante Di, dan Bee hanya mengangguk lemah. Capek memang dia rasakan. Tenaga nya terkuras, dan lapar juga menyerangnya. Tiba-tiba rasa mual menghantam.
Bee berlari keluar ruangan kepala sekolah. Memuntahkan isi perutnya. Kiki yang menunggu sedari tadi di luar menghampiri Bee dan membantu gadis itu dengan memijit tengkuknya.
"Lo baik-baik aja Bee?" tanya Kiki penuh khawatir.
"Aku baik. Makasih ya" Bee tersenyum pada Kiki lalu kembali masuk ke ruangan itu.
Suasana di ruangan kepala sekolah itu begitu panas dan mencekam. Sedari tadi mama Jesi menuntut agar Bee di keluarkan dari sekolah. atau dia akan melaporkan hal ini pada media yang pastinya akan membuat malu sekolah ini.
"Tolong jangan keluarkan Bee pak. Kasihan dia. Dia masih ingin melanjutkan sekolah nya" pinta tante Di terisak.
Tapi setelah mendengar penjelasan tante Di mengenai benar adanya kehamilan Bee, kepala sekolah jadi serba sulit mengambil keputusan.
"Kalau sampai pihak sekolah tidak menindak tegas masalah pelanggaran gadis itu, saya selaku ketua komite sekolah akan menggalakkan para orang tua agar mengecam sekolah ini" ancam mami Jesi.
Saat itu lah pintu di buka paksa oleh seorang pria dengan stelan jas mahalnya masuk tanpa memberi salam.
Bintang langsung mencari Bee di antara orang-orang yang ada di dalam ruangan itu. Riko yang mengawal berjaga-jaga kalau sampai bos nya kehilangan kendali akibat amarah yang memuncak.
Kebetulan anak buah Bintang yang di tugaskan ke rumah tante Di, melihat wanita itu yang pergi dengan terburu-buru. Setelah melapor pada Bintang, pria itu menyuruh anak buah nya untuk mengikuti mobil tante Di hingga ke sekolah.
Lalu Bintang dan Riko ikut ke sekolah. Dari selebaran yang di injak Bintang dipekarangan sekolah, pria itu paham masalah yang ada. Dengan emosi dia meremas brosur itu, lalu mencampakkan ke sembarang tempat.
Tanpa melihat pada yang lain, termasuk kepala sekolah, Bintang berjalan mendatangi Bee. Berdiri di depan gadis itu. Tatapan mereka beradu. Penuh makna yang hanya mereka tahu apa yang ada di hati mereka.
"Kamu baik-baik saja?"
Kalimat sederhana Bintang mampu membuat pertahanan Bee yang sedari tadi mencoba bersikap tegar, kini hancur. Dia menggeleng dengan air matanya mengalir di pipi. Seolah mengatakan 'Tidak, aku tidak baik-baik saja!'
Emosi Bintang kembali tersulut melihat tetesan air mata istrinya. Bahkan dia bisa membunuh siapa saja yang membuat wanita itu bersedih.
"Kak Bintang?" seru Jesi merapikan rambutnya. Lalu dengan penuh percaya diri dia mendekati pria itu.
"Kak Bintang ngapain ke sini? nyari aku?" ucap nya dengan nada manja.
Bintang bahkan tak sudi untuk menoleh pada Jessi, apa lagi menjawab pertanyaan gadis itu. Pria itu justru menghapus air mata di pipi Bee yang menangis tanpa suara. Lalu menggenggam tangan Bee erat.
"Tuan Bintang" sapa pak kepsek salah tingkah. Bukan tidak ingat bagaimana marah nya Bintang saat Bee dulu berkelahi dengan Jessi dan kini terulang lagi.
"Ada apa ini?" seru nya penuh emosi yang tertahan.
"Ini kak, Bellaetrix ini hamil ga tahu siapa bapak anak nya"
"Apa hamil?" salak Bintang menatap Jessi. Merasa senang akhirnya mendapat perhatian Bintang, Jessi semakin memanaskan keadaan.
Tatapan Bintang beralih pada Tante Di yang masih menangis, lalu pada kepsek dan terakhir pada Bee. Gadis itu semakin terisak tertahan. Matanya bahkan sudah memerah karena menahan tangis.
"Iya kak. Habis dia ini peliharaan om-om sih"
Plak..!
Tamparan keras di pipi Jessi membuat semua yang ada di ruangan itu terkejut. Sama sekali tak menyangka apa yang telah di lakukan Bintang.
"Jaga lidah mu! Atau aku akan menghabisi mu. Sekali lagi aku tahu kau menghina atau coba menyakiti Bee, kau akan lenyap dari muka bumi ini!" salak Bintang mengepal tinju. Riko melihat amarah itu, hingga menyeret paksa Jesi keluar dari ruangan itu yang di ikuti mami nya.
Mami Jesi tak mampu berbicara. Dia tahu siapa Bintang. Kalau ingin aman, jangan coba cari masalah dengan nya. Itu lah sebab nya wanita paruh baya itu hanya diam mengikuti langkah anaknya. Di luar, Riko sudah memberi peringatan yang jangan kan untuk melawan memikirkan nya saja mereka tak akan berani.
"Tuan, maaf jika boleh saya bertanya. Ada hubungan apa anda dengan Bellaetrix?" pak Kepsek memberanikan diri bertanya.
"Anda keberatan kalau saya menolak untuk menjawab rasa penasaran Anda?" ucap Bintang dingin.
"Maaf, tapi semua murid di sekolah ini sudah tahu masalah Bellaetrix. Dan pasti akan cepat menyebar ke luar dan komite sekolah mungkin akan meminta Bellaetrix untuk di keluarkan dari sekolah" ucap pak Kepsek menahan nafas. Dia tahu pasti yang di sampaikan nya ini tidak akan disukai Bintang.
"Bukan kah ujian akhir sudah selesai, secara tidak langsung dia sudah tamat dari sekolah ini. Dan saya yakin dia pasti lulus. Kalau pun ada yang coba ingin mengeluarkan Bee dari sekolah ini, berikan nama-nama itu pada ku" ucap nya menarik tangan Bee untuk keluar dari ruangan itu.