
Dering ponsel Bintang tenggelam oleh bising nya suara live musik di bar itu. Sudah lima jam dia di sana, merenung akan nasib rumah tangganya. Apakah rumah tangga mereka akan karam? sebenarnya siapa yang salah di sini?
Tiba-tiba satu perasaan muncul di hatinya. Perasaannya menghangat membayangkan wajah cantik istrinya. Lalu berubah sedih, karena melihat tangis Bee saat memanggilnya.
"Bagi mancis" ucap Ryan yang baru tiba. Bintang dengan malas merogoh saku celananya, saat itu lah dia merasakan getar dari ponselnya.
Saat melihat layar pipih itu, panggilan berakhir. Ada 12 kali panggilan. Setelah di cek, 8 kali dari pak Jarwo dan sisanya dari telepon rumah. Rasa khawatir menerjangnya seketika. Ditekannnya kembali nomor PJ.
"Ada apa?"
"Maaf tuan. Nyonya demam, tapi dokter.." Kalimat PJ tidak lagi penting untuk didengar. Bintang sudah mematikan ponselnya dan segera pergi dari sana tanpa mengatakan apa pun pada kedua sahabatnya. Pikirannya diliputi rasa takut akan keadaan Bee.
Jarak yang biasanya di tempuh satu jam, kini di libas Bintang hanya 20 menit. Setelah sampai, Bintang berlari ke dalam rumah. PJ yang melihat kedatangannya segera menyambut di ruang tamu. "Bagaimana istri ku?"
"Nyonya di kamar tuan. Sudah di bujuk untuk makan, tapi baru dua suap, nyonya sudah muntah lagi" terang PJ yang semakin menambah rasa khawatir.
Suara daun pintu yang di buka, membuat Mira menoleh. Sejak tadi gadis dua puluh tahun itu setia menemani Bee yang terbaring lemah di ranjang.
"Tuan.." Mira bangkit agar Bintang bisa mendekat pada Bee.
Wajah pucat Bintang hampir mengalahkan wajah Bee saat ini. Di raba nya kening wanita itu, sengatan rasa panas di tangannya membuat nya semakin sedih.
"Kenapa dia bisa sampai demam? tadi sore dia baik-baik aja" salak Bintang kalut. Tidak tahu harus menyalahkan siapa.
"Maaf tuan. Tadi nyonya kena hujan waktu..waktu mengejar tuan" ucap Mira memberanikan diri. Persetan kalau majikan nya ini nanti akan memecatnya. Toh, memang pria br*ngsek itu yang salah, sudah membuat istrinya menderita. Tanpa sengaja Mira mendengar pertengkaran mereka, saat melintas di depan pintu ruang kerja majikannya.
Sifat posesif tuan muda nya tidak pernah berubah terlebih kalau berurusan dengan sang istri. Mira yang sangat menyayangi Bee membuatnya ikut kesal pada Bintang.
"Dia sudah meminum obat nya?" Bintang merasa terpukul oleh keterangan Mira. Kalai bukan dalam keadaan seperti ini, Bintang pasti sudah memarahi pelayan itu, tapi apa yang di sampaikan Mira benar. Dia lah penyebab Bee jatuh sakit.
"Apa yang dikatakan dokter tadi?"
"Nyonya hanya demam, tapi jika tidak ada asupan makanan, maka akan serius, harus di rawat di rumah sakit" ucap Mira dingin.
"Lantas, kenapa tidak langsung memberitahukan ku?"
"PJ sudah menghubungi anda tuan, begitu pun saya melalui telepon rumah, tapi tuan seakan tidak perduli, tidak mengangkat telepon dari kami" Mira semakin berani. Dia sudah muak dengan sikap arogan pria itu.
"Kau.." tatap Bintang kesal kearah Mira. Tapi mana berani dia memarahi Mira, apalagi memukulnya, bisa-bisa saat Bee bangun nanti dia akan di maki oleh istrinya karena sudah berani memarahi asisten kesayangannya.
"Jadi nyonya mu sudah minum obat?" ulang Bintang geram.
"Maaf tuan. Belum, nyonya ga mau makan, jadi saya takut memberikan obat pada nyonya lagi setelah muntah tadi"
"Bawakan makanan ke sini" ucap Bintang menoleh ke belakang, tepat ke wajah Mira.
"Bee, bangun sayang..kenapa kamu jadi sakit? aku salah, aku brengsek udah buat kamu seperti ini. Maaf kan aku sayang" Bintang masih mengelus pipi Bee, dan membawa punggung tangan Bee ke bibir nya untuk dia kecup.
"Bee.." bisik nya lagi. Apa pun akan dia lakukan untuk membuat wanita yang ada di depannya ini ceria kembali. Penyesalan selalu datang terlambat.
"Kak..kak Bintang.." Bee mengigau dalam tidur nya. Kembali Bintang mencium kening wanita itu. "Bangun sayang, aku ada di sini"
Kelopak mata Bee perlahan terbuka, walau masih setengah Watt. Samar-samar dia mengenali wajah Bintang melalui pencahayaan lampu. "Kakak..udah pulang?" ujar nya dengan suara tercekat.
"Iya sayang..aku di sini. Aki minta maaf Bee, aku salah. Aku brengsek. Harusnya aku berhenti saat kau memanggilku tadi" ujarnya. Kini bola mata Bee terbuka sempurna. Diraba nya wajah tampan yang ada di hadapannya, mencoba memberi senyum.
"Jangan marah sama aku lagi kak. Aku sumpah ga ada hubungan apa pu dengan Kia. Kami cuma teman. Dia suka nya sama Citra" ucap Bee. Entah ini waktu yang tepat untuk mengulang penjelasan, yang pasti dia ingin Bintang tahu kenyataannya. Dia lelah bertengkar. Dia rindu dekapan pria itu.
"Iya sayang. Aku percaya. Aku yang salah. Rasa takut kehilanganmu membuat ku tidak bisa berpikir dengan benar. Aku cemburu. Aku sangat mencintai mu, Bee"
Bee duduk, memilih untuk masuk dalam pelukan suaminya. "Jangan bentak aku lagi kalau kita lagi ribut" ucap nya manja.
Secepat yang dia bisa, Bintang mengangguk. Tidak akan pernah lagi dia cemburu buta seperti ini.
Pintu kamar di buka, dua orang pelayan datang membawa nampan berisi makanan. "Kita makan dulu, biar kamu minum obat"
"Aku ga selera kak"
"Aku suapin dengan penuh cinta" bisik nya menggoda.
Rasa makanan itu pasti seperti biasa yang selalu di masak Wati, tapi karena kali itu Bintang menyuapi nya dengan tangannya sendiri, rasa nila goreng itu tambah nikmat. Bee menghabiskan semua isi piring itu. Aneh nya tidak ada rasa mual dan ingin memuntahkan makanan itu lagi.
"Baik-baik di perut mama ya sayang. Jaga mama kita" ucap Bintang di atas perut Bee.
Bintang masih harus membersihkan dirinya, sebelum ikut bergabung dengan Bee di ranjang. Perasaan damai itu datang lagi. Benar kata orang tua, damai itu indah dan mendatangkan ketenangan dan rasa cinta kasih.
"Wangi, aku suka. Jadi pengen" cicit Bee menciumi tubuh atletis Bintang yang setiap tidur enggan memakai baju, hanya boxer yang menutupi si Pino.
"Kita jenguk dedek bayi ya" sambar Bintang bersemangat. Kalau urusan bercocok tanam, selelah apa pun dia akan kembali bersemangat.
Malu-malu Bee mengangguk seiring seringai di wajah Bintang. Singa jantan itu siap menerjang. Percintaan itu begitu indah. Bintang melakukannya perlahan dan begitu menggoda. Bee ingin Bintang lebih cepat saat sudah memasuki dirinya. Bee gemes, bagian dalam diri nya meronta-ronta ingin di hentak oleh Bintang hingga keduanya berhasil menggapai puncak kenikmatan.
*Hai, ini ada novel keceh badai, kuy Mampir 🙏