
Rasa antusias Bee membagikan souvernir dan berbagai jenis kudapan pada Kinan seolah tenggelam dengan wajah sendu gadis itu. Kinan tidak banyak bicara, selain menawarkan minum, dan mengatakan terimakasih untuk oleh-olehnya.
Sikap dingin Kinan pada nya bisa dia rasakan. Tapi yang buat Bee tidak mengerti, dia salah apa pada Kinan?
Apa aku udah menyakiti hati Kinan tanpa sengaja?
Hingga akhirnya Bee memutuskan untuk bertanya langsung pada Kinan. Dia tidak mau hubungan mereka yang selama ini baik, menjadi renggang bahkan setelah mereka menjadi ipar.
"Kamu baik-baik aja, Nan?" tanya Bee yang kini sudah berdiri di samping Kinan yang sibuk mencuci piring bekas makan mereka tadi.
Kinan masih diam, fokus pada mangkok sup yang ada di tangannya. Bee bergegas mengambil dan mengeringkannya dengan serbet bersih. "Kamu kenapa?" desak Bee memaksa Kinan menatapnya dengan menarik mangkok itu dari tangan Kinan.
"Bee, bawa kemari mangkok nya"
"Jawab dulu, kamu kenapa? kenapa diamin aku? aku salah apa?"
"Bawa sini Bee" Kinan masih ingin meraih mangkok nya tapi Bee kembali menjauhkan dari jangkauan Kinan. Gadis itu tampak kesal pada Bee tapi tidak bisa berbuat apa.
"Bee, kemarikan biar cepat kelar"
"Aku bantu"
"Ga usah. Kamu udah masak makan malam kita tadi, jadi biar aku yang beresin piringnya"
"Nan, kamu kenapa? aku ada salah sama kamu? kenapa kamu ngediamin aku sih, Nan? aku ada salah sama kamu? ngomong dong Nan. Kita udah jadi sahabat sebelum jadi ipar kayak sekarang ini"
Suara ******* Kinan melesat seiring berjalan ke arah meja makan. Duduk dan menundukkan wajah nya di atas meja makan. Bee mengikuti dan duduk di samping Kinan. Tanpa suara, hanya menunggu gadis itu siap untuk bicara dengannya. Bukan penjelasan, justru Isak tangis Kinan yang terdengar.
"Kamu kenapa nangis?" Bee memiringkan duduknya menghadap Kinan, dan menarik bahu gadis itu untuk di peluknya. "Ssssst..udah Nan. Kalau ada yang ganjal, cerita sama aku"
Kinan akhirnya berani mengangkat wajahnya menatap Bee lalu menghapus sisa air mata dengan telapak tangannya.
"Maaf kan aku sudah bersikap kekanak-kanakan terhadap mu Bee" ucapnya masih menatap intens pada iparnya itu.
"Kamu kenapa? cerita sama aku" Bee membelai wajah Kinan. Masih ada sisa air mata di sana. Lalu menyelipkan rambut ke belakang telinga gadis cantik itu.
"Aku malu"
"Malu kenapa? sama siapa?"
"Aku malu, karena sudah membenci mu untuk sesaat" ucap Kinan malu. Dia menyadari sikap yang dia tunjukkan pada Bee sangat tidak bijak. Semua rasa sedih yang menyerangnya bukan lah kesalahan Bee kan?
"Sekarang kamu cepat jelaskan sama aku. Kalau ga, aku bakal marah sama kamu!"
"Aku? kenapa?"
"Alasannya?" Bee masih bingung.
"Aku iri padamu. Kamu sudah punya Saga, dan sekarang kamu dikaruniai seorang anak lagi. Sementara aku? aku pernah punya anak, tapi belum sempat aku timang, dia sudah pergi. Dan sekarang? aku di hantui rasa takut, kalau nanti aku ga bisa hamil lagi" Kinan kembali meneteskan air mata.
Bee tidak tahan melihatnya, memajukan tubuhnya untuk dapat memeluk Kinan dan mencoba menenangkannya.
"Jangan nangis lagi Nan. Aku yakin kamu nanti akan punya anak. Tidak hanya satu, tapi banyak. Kamu masih muda, dan lagi kalian masih baru menikah. Kenapa harus khawatir?" bisik Bee membelai punggung Kinan lembut.
"Makasih Bee. Dan maaf, kalau aku sudah bertingkah aneh padamu" ucapnya melap tetesan air mata yang jatuh ke hidungnya.
"Percayalah, sabar itu manis buahnya. Asal kalian berusaha dan juga berdoa, percaya lah yang kuasa akan mengabulkan permohonan kalian" Kinan mengangguk lagi mendengar ucapan Bee.
***
"Ada apa tadi yang? kok keluar dari dapur wajah Kinan kayak baru nangis gitu?" tanya Bintang di sela kesibukan nya memainkan rambut Bee. Dia menyukai nya. Bahkan saat Bee ingin memotong nya pendek, Bintang dengan vokal melarang nya.
"Oh..dia hanya merasa lagi ga mood aja kak. Biasa lah cewek" sahutnya tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponsel. Teman-teman nya di agensi Sebastian Menawan kini sedang mengadakan pagelaran fashion show di Jogja.
Di sudut ruang hati Bee, ada kerinduan untuk kembali melenggok di panggung bersama teman-temannya. Rindu tepukan dari para penonton di pinggir catwalk.
"Kenapa di lihatin mulu?" Bintang mendongak untuk melihat apa yang menjadi pusat perhatian istrinya itu.
"Kamu pasti kangen ya?" Bintang mendekap Bee, tangan nya melekat pada salah satu bukit indah nya.
"Iya. Suatu hari, kalau ada yang masih percaya padaku, aku ingin kembali berjalan di sana. Berada di antara teman-teman dan kemeriahan yang ada"ucap nya masih menyaksikan video itu.
"Boleh ya kak?" lanjutnya, menyembunyikan ponsel nya di balik bantal dan memutar tubuhnya menghadap Bintang. Sekilas di cium nya bibir pria itu, lalu tersenyum.
"Kau boleh lakukan apa pun yang membuat mu gembira, tapi pastikan aku dan anak-anak kita jadi yang paling utama dalam kebahagiaan mu" Bee mengangguk, dan memejamkan mata saat Bintang mengecup puncak kepala nya.
Kerinduan itu ada di hatinya. Tapi masih jauh untuk saat ini. Biarlah dia hanya menyimpan nya dulu dalam hati. Saat ini anak-anak dan suaminya lebih penting dari semua kerinduan itu. Akan ada masanya dia akan kembali menjadi Bellaetrix Elaina yang di kenal oleh banyak orang.
Sudah dua bulan Bee di sibukkan oleh klinik baru nya. Walau masih baru, tapi selama dua bulan itu, Bee sudah memiliki 10 orang pasien. Awalnya memang sedikit canggung, tapi kelamaan Bee bisa menguasai medannya. Ada kebanggaan dan kepuasan tersendiri saat melihat wajah pasiennya bisa kembali tersenyum.
Terlebih anak kecil, Bee harus lebih ekstra sabar. Membujuk bahkan harus mengajaknya bercerita hingga tidak sadar saat giginya di cabut. Bee menyukai profesi nya yang sekarang. Dia ingi mengabdikan dirinya menjadi berguna untuk banyak orang. Bee juga akan memberikan pengobatan gratis bagi setiap pasien yang tidak mampu membayar jasanya. Dan hal itu mendatangkan kebahagiaan tersendiri baginya. Tapi seperti janji nya dengan Bintang, Bee hanya akan ada di klinik hingga pukul lima sore.
Pada bulan ketiga setelah buka, seorang teman Bee waktu kuliah dulu, menawarkan kerja sama pada Bee. Dokter Citra namanya. Seorang dokter umum yang ingin membuka praktek di ruko tempat Bee buka praktek.
Bagi Bee tentu saja itu adalah hal yang baik. Maka pada bulan depannya, Citra resmi buka praktek di sana.