Sold

Sold
Darren Smith



Klinik yang mereka tuju ternyata tutup. Tapi oleh orang setempat, mereka diarahkan pada klinik lain yang tidak terlalu jauh dari sana.


Dokter sudah memeriksa, tidak ada indikasi iritasi pada saluran pernapasan Saga karena tadi terlalu banyak meminum air pantai. Tidak ada juga pasir atau tumbuhan air yang sempat dia telan. Kini Bee bisa bernafas lega. Tapi yang berikutnya dia lakukan justru mundur dan duduk di salah satu kursi tunggu dan menangis sesunggukan. Pria itu mendekati Bee dengan tampang herannya.


"Kenapa kamu menangis? anak ini sudah dinyatakan baik-baik saja" Bee tidak menjawab, terus terisak. Dengan ujung kemeja itu dia menghapus ingus dan air mata yang memenuhi wajah nya.


Pria itu terus menatap wanita itu. Wajah nya yang ayu mengingatkan pada seseorang yang kini sudah tenang di alam sana. "Sudah, jangan menangis" bujuk si pria duduk di samping Bee. Gadis yang belum lepas dari rasa shock nya hanya patuh, mengangguk. Berusaha agar air matanya Jangan lagi turun.


"Dia..anak itu.."


"Dia anak ku" ucap Bee mengangkat wajahnya. Menatap lekat wajah si pria, agar dia ingat bahwa pria ini sangat berjasa menyelamatkan anak nya. Bee masih belum bisa tenang. Membayangkan kehilangan Saga membuat nya membenci dirinya yang begitu teledor meninggalkan Saga. Bagaimana kalau tadi tidak ada yang menolong anak nya? membayang kan yang terburuk terjadi pada Saga membuat wajah Bee kembali pucat.


"Dia anak yang kuat. Kamu jangan menangis lagi, agar dia.."


"Saga..namanya Saga" ucap Bee memandang pria itu lalu menoleh pada Saga yang masih berbaring di sana. Perawat sedang mengganti pakaian Saga, melilitkan dengan selimut hangat.


"Iya, biar Saga tidak menangis" lanjutnya. Bee lagi-lagi mengangguk. Saat tim medis sudah selesai dengan Saga, Bee bangkit mendekat. Dokter bilang dia sudah bisa di bawa pulang. Mungkin masih tersisa rasa takut pada Saga, jadi sebisa mungkin jangan meninggalkan nya sendiri dulu.


Bee mendekat, berusaha untuk menggendong Saga, tapi anak itu menolak. Menunjuk si pria asing untuk menggendong nya.


"Terimakasih banyak.." ucap Bee berjalan di sisi pria itu, keluar dari klinik.


"Darren..namaku Darren Smith"


"Bellaetrix Elaina" ucap Bee memaksa senyum nya.


"Maaf, anda orang sini?"


"Bukan" jawab Darren singkat, terus berjalan. Saga yang ada dalam gendongannya sudah tenang, seperti tadi memeluknya erat.


"Bahasa Indonesia anda begitu fasih, maaf, tapi tampang anda bukan orang Indonesia. Dari mana belajar bahasa Indonesia?"


"Mama ku orang Indonesia. Asli Jawa yang tumbuh besar di sini. Papa ku orang Prancis" Bee hanya manggut-manggut mendengar.


"Kalau begitu anda orang sini" ulang Bee. tadi kata nya bukan orang sini, tapi nyatanya mama nya lahir besar di sini..


Kembali Bee manggut-manggut. Senang rasanya yang menolong saga bisa berbahasa Indonesia, jadi dia tidak perlu repot-repot berkomunikasi dengan bahasa luar.


Saat tiba di depan klinik pertama, yang menjadi tujuan mereka awalnya tadi, Bintang sudah ada di sana. Melihat tampang panik nya, dan juga raut wajah Mira yang ketakutan, pasti Bintang baru saja memarahi gadis belasan tahun itu.


Begitu melihat Bee, Bintang menghampiri mereka. Tatapannya sempat melirik tajam ke arah kemeja putih kebesaran yang di gunakan istrinya, lalu pada tubuh kekar pria tanpa atasan itu. Tapi itu nanti lah diurusnya, yang terpenting saat ini adalah keselamatan Saga. Bintang menatap pria itu, yang dia tebak adalah pria yang di ceritakan Mira tadi sudah menolong Saga. Bintang mengangguk kan kepala tanda hormat sekaligus terimakasihnya pada pria itu.


Satu jam lalu, menyadari Saga tidak ada di sana membuat nya panik. Berlari mengitari pantai, bertanya pada orang-orang yang dia temui. Seketika jantung nya berhenti berdetak saat salah satu pengunjung mengatakan bocah yang dia cari itu persis seperti bocah yang tadi hampir tenggelam.


Tidak lama, dari arah berlawanan, dia melihat Mira datang padanya dengan tergesa-gesa. Lalu mengabarkan semua yang dia tahu pada Bintang. Secepat kilat Bintang menyerbu klinik itu, tapi ternyata tutup.


Ingin menghubungi Bee, tapi tidak tahu harus kemana. Bintang memutuskan untuk menunggu di depan klinik. Karena dia yakin Bee akan lewat sana. Lalu tidak selang berapa lama, dia melihat Bee dan saga, hingga hati nya bisa tenang.


Bintang mengambil Saga dari gendongan Darren, tapi bocah itu menolak. Tetap menguatkan pegangannya pada leher Darren. "Saga, ini papa. Sini nak"


Tapi Saga tetap tidak mau. Memilih semakin erat melingkarkan tangan pada leher Darren. Bintang semakin kalut, jantung nya saja belum berdetak dengan normal membayangkan hal buruk terjadi pada Saga, kini anak nya menolak dirinya. Bintang akan memaksa lagi, tapi dengan cepat Bee melarang.


"Jangan paksa dia kak. Dia masih trauma. Dia juga tidak mau dengan ku. Kata dokter, dia memilih Darren, karena dia lah yang diingat Saga telah menyelamatkan nya dari air tadi"


Walau tidak terima, tapi Bintang bisa apa. Darren akhirnya ikut ke tempat mereka. Membaringkan Saga di kamar mereka, itu pun atas permintaan Bee. Dia tidak ingin Saga tidur sendiri malam ini. Dia ingin melakukan pendekatan pada Saga seperti kata dokter tadi.


Setelah memastikan Saga sudah benar-benar terlelap, baru lah Darren dan Bee keluar dari kamar.


"Terimakasih banyak Darren" ucap Bee tulus mengulurkan tangannya. Darren menyambut uluran tangan itu dengan senyum tepat saat Bintang naik ke atas dan melihat mereka sedang berjabat tangan di depan pintu kamar.


Rahang keras dan rasa tidak suka pada wajah Bintang sudah menjelaskan dirinya tidak suka akan apa yang dia lihat. "Tuan Smith, kita ngopi" tawar Bintang. Darren hanya mengangguk mengikuti langkah Bintang, yang juga di ikuti Bee.


"Sayang, sebaiknya kau mandi, kenakan pakaian yang nyaman" ucap Bintang memberi clue pada Bee. Baru lah wanita itu sadar kalau dirinya masih mengenakan kemeja putih Darren.


Hanya butuh tiga puluh menit bagi Bee untuk menyelesaikan mandinya, lalu bergabung bersama Darren dan Bintang. Wajah nya sudah lebih tampak segar saat ini.


"Darren, pakailah ini. Kemeja mu aku cuci dulu, baru aku kembalikan ya. Ini punya kak Bintang, tapi masih baru. Ga papa kan kak?" ucap Bee sekaligus pada keduanya. Bintang hanya mengangguk lemah. Ekspresi datarnya bukan karena Bee memberikan kaos nya pada pria itu, tapi cara Bee memanggil nama Darren tanpa embel-embel kata tuan, membuat Bintang cemburu. Seolah keduanya sudah lama kenal dan dekat.