
Kesabaran Setiawan sudah habis. Dia mengayun tongkat bisbol nya bak atlet nasional.
"Papa hentikan" teriak Kinan berlari ke hadapan Piter, menjadi benteng pria itu agar tidak terluka oleh ulah Setiawan.
"Masuk Kinan. Kamu ga usah belain pria brengsek itu. Lihat saja, dia malah mabuk. Dasar pria tidak berguna!" umpat Setiawan.
"Papa yang tidak berguna, udah misahkan kami" tantang Piter, Kinan sampai shock mendengar ucapan Piter, harusnya Kinan marah, tapi karena dia sadar pria itu di bawah pengaruh minuman, hingga tidak menjitak kepalanya.
"Apa kau bilang? dasar anak tidak tahu diri!" Setiawan sudah maju berusaha untuk menghantam punggung Piter, tapi lagi-lagi Kinan semakin memeluk Piter, melindungi pria itu.
Setiawan kesal melihat kedua anak manusia itu, hingga mendengus kasar sebelum masuk ke rumah. "Lima menit Kinan, kalau tidak papa akan benar-benar menyuruh orang memukul biawak ini!"
"Kamu mabuk,Ter?" pertanyaan retorik yang tidak perlu di jawab membuat Piter mendelik ke arah Kinan.
"Gue ga mabuk!" salak nya kasar.
"Tapi aku cium bau minuman ini" Kinan mengendus kemeja Piter.
"Kamu ngapain ke sini?"
"Mau lihat lo lah!" suara Piter meninggi, kesal diintrogasi oleh gadis itu.
"Loh kok kamu marah sama aku?" ucap Kinan terkejut mendengar suara Piter yang meninggi.
"Siapa yang marah?"
"Itu, kamu ngebentak aku!"
"Aku ga marah. Kepala ku mual" Piter menunduk, sesuatu dari dalam perut nya minta di keluarkan. Dan ueeek...ueeek..
Kinan menepuk-nepuk punggung Piter pelan lalu memijit pelan tengkuk Piter agar muntah nya berhenti.
"Kami pulang ya Ter. Istirahat, baju kamu juga udah lembab gini kena rintik hujan" ucap Kinan khawatir.
Mual yang di rasakan Piter mereka setelah isi perutnya keluar. Piter berdiri tegak, menatap Kinan. Dia rindu gadis itu. Dia ingin menyimpan riak wajah gadis itu malam ini, agar saat pulang nanti dia bisa membawanya dalam mimpi.
"Aku kangen sama kamu Nan"
"Aku juga.." bisik Kinan lembut terdengar di telinga Piter.
Kedua nya tampak diam, saling pandang. Hal yang mungkin akan mereka lakukan adalah mendekat. Keduanya tanpa sadar sudah mengikis jarak diantara mereka. Semakin dekat hingga bisa saling merasakan desah nafas satu sama lain. Dan ketika bibir saling silaturahmi, suara menggelegar pun terdengar.
"Kinan... masuk" kedua nya terhenyak, menatap ke arah suara itu datang. Setiawan sudah berdiri diambang pintu mengamati keduanya.
"Papa.." geram Kinan dengan suara tertahan.
"Bokap lo boleh gue santet ga, ganggu melulu" umpat Piter yang langsung di sikut Kinan.
"Papa aku itu ter, kamu ga ada hormat-hormat nya ya" pekik Kinan.
"Becanda Nan. Gimana pun juga dia mertua aku. Cuma rada nyebelin aja"
"Kinan..papa hitung sampai tiga.." kembali teguran militer sang penguasa memanggil.
"Udah masuk sana. Satu hal yang perlu kamu ingat, aku ga akan menyerah. Aku akan kembali meluluhkan hati papa mu" ucap Piter mengelus puncak kepala Kinan.
"Mantan istri! Jangan ngaku-ngaku. Pulang sana!" cibir Setiawan menarik tangan Kinan masuk.
***
Efek dari main hujan-hujanan, serta dalam keadaan di bawah pengaruh minuman pula, Piter demam, meringkuk di bawah selimut sudah seharian ini. "Dimana lo? ibu nyariin. Lo di minta kemari sekarang juga" ucap Bintang yang menjadi bulan-bulanan kemarahan ibu nya belakangan ini. Terlebih untuk masalah adiknya.
"Bilang ibu bang, gue lagi sakit. Besok atau ga lusa, gue mampir ke sana, itu pun kalau gue belum mati!"
"Sakit apa lo? gue jadi ga enak nih, warisan bokap buat gue semua jadinya"
"Gue belum mati, jangan senang dulu. Lagian kalau gue mati, hak gue bakal gue sumbangkan buat anak yatim, lumayan buat bekal di akhirat nanti" Begitu lah keduanya, saling perduli walau cara menunjukkan nya berbeda dengan orang normal lainnya.
Setelah mendengar kabar dari Piter, ibu hanya bisa menghela nafas panjang. "Kalian pergi lah, kalian lihat lah anak durjana itu"
Bintang hanya mengangguk malas. Rencana nya pulang dari rumah ibu, dia ingin mengajak Bee jalan. Dua hari lalu, istrinya mengatakan ingin pergi kencan seperti pasangan pada umumnya, karena sejak mereka bersama, Bintang tidak pernah mengajaknya keluar.
Keduanya pun pamit pergi, tapi di perjalanan, Bee menanyakan perihal wajah murung Bintang. "Rencananya tadi aku mau ngajak kamu jalan yang, kita makan, nonton, belanja apa pun yang kamu mau. Tapi ibu minta kita jenguk si brengsek itu!"
"Ga boleh gitu kak. Tapi aku senang kakak punya niat ngajak aku jalan. Makasih" ucap Bee merebahkan kepalanya di bahu Bintang.
"Atau.." tiba-tiba Bee memikirkan sesuatu yang membuatnya bersemangat. Buru-buru dia merogoh tasnya, mengambil benda pipih. Mengetik pesan dan mengirimkan nya pada seseorang.
"Kok senyum-senyum?" tanya Bintang yang juga ikut tersenyum setelah melihat senyum di wajah cantik istrinya.
"Kita ga usah jenguk Piter, udah ada yang ngurus" ucap nya mengerlingkan mata. Sejurus kemudian Bintang ikut tersenyum setelah mengerti maksud istrinya.
"Yes..kita ngedate.." ucap mereka bersamaan.
Kinan sudah ada di taxi dengan raut wajah cemasnya. Setelah mendapatkan pesan dari Bee, buru-buru Kinan berangkat ke tempat Piter. Beruntung papa nya juga sedang di kantor, hingga dia bisa bebas keluar.
Taxi sudah berhenti di area parkir apartemen, Kinan cepat melangkah masuk, tapi saat pintu lift sudah membawanya naik, ada keraguan muncul. Apa benar dia datang ke tempat ini. Tempat yang banyak menyimpan suka dan duka selama dirinya menjadi istri Piter.
Ting! Pintu lift terbuka, mau tidak mau Kinan harus melangkah masuk.
Dia ingin menekan bel, tapi segera niat nya di urungkan. Dia mencoba menekan passcode, dengan nomor yang masih jelas di ingat, dan ternyata bisa terbuka.
Setelah memantapkan hati, dia melangkah masuk ke dalam rumah. Tampak sepi dan berantakan. Rumah itu sangat tidak terurus. Sekilas nya di lihat frame besar yang ada di dinding, photo pernikahan mereka masih ada di terpajang di sana. Kinan terus berjalan masuk ke dalam menuju kamar mereka.
Pria itu terbaring lemah di sana. Masih menggunakan pakaian nya yang kemarin, hanya membuka kemeja dan membuang nya di lantai.
"Ter.." panggil Kinan mendekat. Dari tempatnya Kinan bisa melihat wajah tampan itu terlalap dengan butiran keringat di keningnya. Di raba nya kening pria itu, dan benar saja, demam nya masih sangat tinggi.
"Ter, bangun. Kita ke rumah sakit ya"
"Eeh..kamu Nan? ka-mu datang? gue ga lagi mimpi kan?" ucap nya meracu melihat ke arah wajah Kinan, dengan sorot mata mengabur.
"Iya. Kita bertobat ya?"
"Ga usah Nan. Aku ga butuh obat atau dokter. Yang aku butuhkan cuma kamu" Piter yang masih terduduk di tempat tidur memeluk pinggang kinan dengan erat. Kinan berusaha melepas pegangan tangan Piter, tapi urung setelah tidak sengaja memegang punggung pria itu yang basah oleh keringat.
"Ya ampun, sampai basah begini. Kamu ganti baju dulu" Tidak menerima protes, Kinan membantu membuka kaos Piter dan tanpa di sadar Kinan, Piter sudah menarik tubuh Kinan dan membaringkan di bawah tubuhnya.