
Sudah di putuskan, Saga akan ikut bersama Darren dengan pengawasan Mira. Sembari menunggu Mira bersiap-siap, Bintang menemani Darren bercerita. Jarang Bintang memberikan penilaian positif pada orang lain, tapi kali ini Bintang mengakui Darren pria yang baik. Mereka saling bercerita mengenai usaha dan juga bisnis yang tengah berkembang di Prancis atau pun di Indonesia.
"Aku berencana berinvestasi di Indonesia" ucap Darren menyatakan keinginannya.
Dengan bijak, Bintang memberikan pengarahan pada Darren yang memang usia nya jauh lebih muda dari nya.
Tok..tok..tok..
"Mir, kamu udah siap?"
Bee membuka pintu setelah Mira mempersilahkan nya masuk.
"Iya Nyah"
Penampilan Mira memang tampak sederhana, tapi justru itu pula yang membuat nya tampak cantik alami. Mira yang sedikit pendiam dan kurang percaya diri, sebenarnya memiliki paras cantik dengan kulit sawo matang khas wanita Indonesia.
Timbul ide dalam benak Bee untuk merias Mira dan mengubah penampilan nya. "Bentar ya Mir" Bee pergi menuju kamar nya, membongkar beberapa isi lemarinya, mengambil tiga stel pakaian yang belum pernah dia pakai sama sekali, serta alat make up nya. Setelah di rasa cukup, Bee kembali ke kamar Mira.
"Mir, pakai ini" Bee menyerahkan ketiga pakaian baru itu pada Mira.
"Maaf, nyah, saya tidak berani"
"Udah, ga papa. Ini baru kok, belum aku pakai. Buat kamu" ujar Bee mendesak.
Pilihan Mira jatuh pada celana kulot panjang, dengan stelan blus serta dilengkapi blazer tanpa lengan. Sedikit tambahan polesan membuat wajah Mira tampak cantik memukau.
"Kamu cantik banget Mir"
"Saya ga pede Nyah" Mira melirik sekilas ke cermin, lalu kembali menunduk.
"Kamu cantik kok. Lihat aja entar, Darren pasti terpesona"
"Hah?"
"Udah, ayok" Bee menarik tangan Mira untuk turun. Prediksi Bee tepat. Darren berulang kali melirik ke arah Mira, wajah nya yang putih berubah warna.
"Kalau begitu kami pamit dulu" ucap Darren salah tingkah karena kedapatan melirik Mira lagi.
"Jangan kemalaman pulangnya. Saga nakal tolong di awasi ya" ucap Bintang yang diangguk Darren. Bersama Bintang, Bee mengantar mereka hingga mobil hilang dari penglihatan baru mereka masuk.
"Kamu yang dandani Mira?"
"Iya, cantik kan kak?"
"Aku tebak ada niat di balik ini"
Bee hanya bisa melepas tawa mendengar tebakan suaminya. Bintang terlalu memahami jalan pikirannya.
"Karena kamu udah menyelesaikan misi untuk mereka, sekarang waktu nya Pino pengen di sayang" Bintang menarik tubuh Bee memepet di dinding kamar lalu mulai mengecup leher Bee.
"Kenapa kau selalu menggairahkan, sayang" bisik nya parau. Hanya dengan menciumi leher istrinya, Bintang sudah menegang.
Gayung bersambut, gairah Bee yang sudah berhasil di pancing, mulai melakukan sambutan. Bee memang tipe wanita yang bisa meredam hasratnya, namun saat titik rangsang nya sudah mulai di permainkan oleh Bintang, maka Bee akan berubah liar, menuntut lebih banyak lagi.
Kaos Bee sudah di singkap singa jantan itu hingga sebatas leher. Dada Bee yang sintal turut menjadi sasaran kenikmatan Bintang. Baru akan berniat untuk membuka kaitan b'ra, ponsel Bee berdering hingga layar yang tadi sudah mulai di gulung harus ditarik lagi.
"Kinan kak" ucap Bee menunjukkan layar ponselnya.
"Ga boleh gitu. Geser dulu kak" Bee berusaha melepas diri dengan mendorong perut six pack suaminya.
"Halo Nan.."
"Halo Bee, ini Piter"
"Oh, iya Ter, ada apa?" samar terdengar suara Kinan yang menyalak meminta ponselnya dari Piter.
"Bee, kamu ke rumah sakit ya, aku mau lahiran. Aku ga mau lahiran kalau kamu ga ada di sini. Aku takut Bee" suara terengah-engah Kinan menandakan rasa sakit yang luar biasa pasti tengah wanita itu rasakan.
"Oh, iya Nan. Aku ke sana sekarang. Kamu jangan takut, jangan pikirkan apa pun. Kamu dan bayi mu pasti akan baik-baik aja"
Melihat wajah Bee yang berubah serius, Bintang mendekat. Walau mulutnya sering berkata kasar seolah menunjukkan rasa tidak perduli pada Piter dan Kinan, Bintang sebenarnya sangat perhatian dan perduli pada seluruh anggota keluarga Danendra. Dia tidak ingin sesuatu buruk terjadi pada Kinan yang pasti akan membuat Piter dan ibu sedih.
Dia yakin, saat ini Piter pasti sedang dalam keadaan panik dan gelisah. Dia sudah lebih dulu ada pada situasi itu. Dua kali malah.
"Kinan mau lahiran kak, dia minta kita ke sana"
"Iya sayang. Kita pergi ke sana"
***
Rambut Piter sudah acak-acakan yang ditebak Bintang hasil karya Kinan. Pria itu terduduk lemas di kursi tunggu di luar ruangan Kinan yang sedang di bantu perawat untuk berjalan-jalan dalam ruangan guna membantu bukaan.
"Ga usah ngejek deh lo bang" ucap Piter kesal melihat senyum di wajah Bintang. Bee sudah masuk dalam ruangan melihat keadaan Kinan, meninggalkan abang beradik itu untuk saling mengejek.
"Gue udah pernah di posisi lo, gue tahu rasanya. Panik, takut bercampur jadi satu, yang harus lo ingat, lo harus jadi lebih kuat saat ini demi Kinan. Percaya aja, dia pasti baik-baik aja begitu pun ponakan gue"
"Iya bang. Perasaan gue ga karuan. Melihat Kinan yang meraung kesakitan buat gue sadar, kalau gue harus lebih menghargai dan mencintai dia, karena dia udah begitu susah payah mengandung anak kami"
"Bagus lah kalau lo sadar" Bintang menepuk-nepuk pundaknya.
Persalinan Kinan sebenarnya termasuk cepat prosesnya, tidak terlalu lama bagi Kinan untuk merasakan sakit, hanya saja kepanikan dan rasa takut yang melanda wanita itu membuat kehebohan. Berulang kali ibu menenangkan Kinan dengan penghiburan, memastikan semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di takutkan.
"Saat mendengar suara bayi mu nanti, semua rasa sakit mu akan hilang" ucap ibu mengelus punggung Kinan.
Hampir satu jam mengalami kontraksi, akhirnya seorang bayi cantik lahir dari rahim Kinan. Rambut Piter yang menemani selama proses persalinan semakin berantakan, bahkan ada bekas kuku Kinan yang menancap di lengan nya.
Semua keluarga menyambut dengan gembira akan kelahiran si bayi yang memiliki kulit putih. Bahkan saat menangis seluruh tubuhnya berwarna merah.
"Ini bayi nya Bu" ucap dokter Leann menyerahkan pada Kinan. Bayi itu sengaja di telungkup kan di atas dada Kinan.
Hal tersebut bisa meningkatkan ikatan batin ibu dan anak karena ada kontak fisik secara langsung. Bayi pun bisa mulai mencari ****** ibu nya agar lebih mudah mengajarinya menghisap sumber kehidupannya.
Menurut dokter Leann, menempelkan bayi di dada ibu juga bisa melepaskan lebih banyak hormon oksitosin yang bisa membantu mengosongkan rahim. Jadi baik untuk si bayi dan juga untuk ibu nya.
*Hai semua, makasih masih setia sama cerita ini. Maaf kalau up nya cuma satu bab, Sold akan berakhir dalam dua bab lagiπ©π©
Tidak ada yang bisa aku katakan, ini novel terpanjang yang pernah ku buat. Terima kasih udah setia hingga saat iniπππ
Semoga kalian semua sehat selalu. Beribu-ribu terimakasih ku atas dukungan dan juga yang sudah capek2 ngingatin aku buat up, dan pada saat aku sakit juga mendoakan akuπππ
Aduh, kalian memang yang ter-debesππ