Sold

Sold
Kata hati seorang Ibu



Segala jenis hidangan yang enak dan sehat di persiapkan ibu untuk Bee. Bahkan wanita itu turun tangan langsung ke dapur yang tentu saja di bantu pada koki.


Raut wajah bahagia ibu semakin menyala saat melihat mantu kesayangan itu makan dengan lahap.


"Ibu, aku kenyang sekali. Semua nya enak" ucap nya tersenyum. Dua kali Bintang mengajaknya ke mari, dua kali di suguhkan makanan yang enak-enak dan setiap itu pula Bee akan melahap sepuasnya.


"Ibu senang kau menyukai nya Bee. Ibu ingin kau dan cucu ibu sehat" balas ibu tersenyum.


Bintang memandangi kedua wanita itu dengan perasaan bahagia. Istri dan wanita yang melahirkan nya bisa saling sayang.


Namun seketika raut wajah gembira itu mendadak murung. Mengingat bulan depan Bee akan melahirkan, dan jika anak nya nanti adalah laki-laki, perpisahan sudah ada di depan mata.


Bagaimana cara Bintang memberitahu sang ibu kalau kebahagiaan yang kini di rasakan nya akan segera berakhir? Tanpa sadar air mata pria itu jatuh, tepat saat ibu nya melihat ke arahnya.


"Kamu kenapa tang?" kini Bee pun ikut menatap ke arah suaminya. Bintang buru-buru menghapus jejak air mata.


"Oh..ga bu. Ga ada apa-apa. Hanya kemasukan debu" jelasnya. Tapi sorot mata seorang ibu bisa menembus langsung ke dalam hati putranya. Tapi dia tidak ingin menduga-duga. Dia percaya, Bintang sudah dewasa, tahu langkah yang diambilnya. Dan setiap keputusan pasti ada alsan nya.


Mereka pulang dengan dibekali ibu banyak sekali jamu, vitamin dan olahan buah untuk Bee. Dan wanita itu juga berjanji akan mengirim lagi Minggu depan.


"Jangan lupa, kalau sudah mau lahiran, kabari ibu" ucap nya pada anak mantu nya.


Sepanjang jalan pulang, Bee seperti biasa. Tertidur di mobil hingga sampai di rumah.


"Bangun sayang. Udah sampai" ucap Bintang lembut membelai wajah Bee.


Biasanya Bee akan minta gendong, tapi sekarang Bee cukup tahu diri dengan berat badannya saat ini. Perlahan dia berjalan, namun Bintang dengan sigap segera membantunya hingga ke kamar.


"Kak.."


Bintang menoleh memastikan apa ada yang di butuhkan wanita itu. "Ada apa Bee? kamu butuh apa? apa ada yang sakit?"


"Bukan..itu..yang tadi kata dokter. Apa kita ga praktekin? biar dedek bayi nya dapat jalan" ucap nya pelan. Menunduk dan mencoret-coret seprai dengan telunjuknya. Bintang tersenyum mendengar penawaran gadis itu.


"As your wish, my Queen" senyum nakal khas Bintang muncul di raut wajah tampan itu.


Saat dahaga, tak ada yang paling di butuhkan seseorang kecuali setetes air. Begitu pula Bintang, malam itu kerinduan dan kekeringan dalam dirinya, tersirami sudah.


Merengkuh kepuasaan dan kebahagiaan malam itu bersama sang istri. Menikmati setiap momen bersama mereka saat ini seolah ini adalah hari terakhir bagi mereka.


Bintang melakukannya dengan lembut, membiarkan kebutuhan Bee yang jadi utama baru keinginannya. Bee pun demikian merasa malam itu sangat sempurna. Setiap percintaan mereka selalu menggebu-gebu dan bergairah. Tapi malam ini begitu lembut.


Berulang kali kegiatan itu mereka tuntaskan hingga pagi. Saat ini mereka masih berpelukan di atas tempat tidur dengan tubuh polos bak bayi baru lahir.


Kalau bukan harus menghadiri meeting penting lagi ini mengenai launching produk baru mereka, Bintang lebih memilih untuk berpelukan sepanjang hari ini dengan istrinya.


"Pagi sayang.." bisik Bintang mencium kening Bee yang menggeliat di pelukan Bintang. Dada besarnya masih menempel di dada bidang pria itu.


"Kakak ga kerja?" sahutnya masih terpejam.


"Ya udah mandi sana" ucap Bee masih tetap terpejam. Sebelum beranjak, Bintang meninggalkan jejak merah di leher gadis itu, menemani jejak tiga lainnya yang dia buat tadi malam.


"Ka..kak.." desah nya. Hingga membuat Bintang merasa gemas dan melepas ciuman panjang pada gadis itu.


Gwen memperhatikan dari balik selimut nya saat Bintang merapikan jas di depan cermin. Rasa kagum Bee melihat pria itu semakin dalam.


Kak..lo kok cakep banget? gue kan jadi insecure sama diri gue sendiri..


Tiba-tiba dia teringat gadis centil yang coba merayu suami nya di rumah sakit tempo hari. Melihat penampilan gagah Bintang seperti ini, wanita mana yang tidak akan jatuh cinta.


"Kak.."


"Kakaaak..." teriak Bee kesal karena Bintang tak menyahut.


"Bentar sayang, aku benerin dasi dulu. Nah..sudah. Ada apa Bee?" Bintang sudah duduk di samping Bee yang bersandar di head bed.


"Kakak pergi nya sama siapa? kemana?" cerca nya.


"Mau meeting sama Seba dan beberapa desainer lainnya. Ada juga kepala Garmen kita. Kenapa?"


"Hanya dengan mereka?" desak Bee. Bintang masih tidak mengerti arah pembicaraan Bee.


"Kayak nya sih iya..kenapa sih sayang?"


"Pulang nya jam berapa?" tanpa di sadari gadis itu, dia sudah bersikap layaknya istri pencemburu yang takut suaminya diambil wanita lain.


"Mungkin agak malam Bee. Tapi aku usahakan lebih cepat. Kenapa? mau aku bawain sesuatu?"


"Ga. Pokok nya cepat pulang" Bee membenarkan letak dasi Bintang hingga pas pada posisinya.


"Siap Baginda ratu"


***


"Sorry saya terlambat" ucap Bintang memasuki ruang rapat di salah satu hotel miliknya. Riko dengan setia mengikuti langkah pria itu di belakangnya.


"Pagi bos.." semua yang hadir menjawab dengan semangat. Walau Bintang sudah terlambat satu jam dari janji meeting, tapi sebagai bawahan mereka mana mungkin berani marah.


"Waduh, kok rame banget ko? Lo bilang meeting hari ini cuma sama kepala produksi dan beberapa desainer kita" ucap Bintang di telinga Riko yang mendekatkan tubuhnya karena tahu bos nya ingin mengatakan sesuatu.


"Iya bos. Tapi saya pikir bulan depan nyonya akan lahiran, jadi bos pasti butuh waktu yang banyak bersama nyonya. Jadi saya berinisiatif menyatukan meeting kali ini bersama pada model unggulan kita" terang Riko. Takut kalau-kalau inisiatif nya justru mendatangkan masalah buatnya.


Nyatanya Bintang seorang yang bersikap bijak. Tidak marah karena schedule nya di rubah Tiko tanpa adanya konfirmasi terlebih dahulu padanya.


"Ok, baik lah..sebaik nya kita mulai. Aku ingin segera pulang. Seperti yang kau katakan istriku butuh waktu bersama ku" ucap nya menepuk pundak Riko.


Meeting kali ini alot. Banyak yang perlu di bahas. Tidak ada yang meragukan produk mereka di industri tekstil. Bahkan belum Launching saja, hanya berupa iklan akan adanya barang baru, perusahaan yang sudah biasa bekerjasama dengan mereka sudah order banyak. Hingga jumlah hasil produksi harus lebih di tambah lagi karena membludaknya pesanan.