Sold

Sold
Deal!



Hampir saja terjadi pertengkaran di lobi kantor, jika Kinan tidak sigap melerai keduanya. Kinan tidak jadi naik ke ruangannya, justru menarik Piter keluar, masuk ke mobil pria itu dan ikut dengan nya.


"Kami udah gila ya, ngapain sih kamu pakai acara mukul Kevin?" salak Kinan dalam mobil, sementara Piter mengemudi dengan kecepatan tinggi.


"Bersyukur lah aku tidak membunuhnya!" balasnya malas.


"Kamu bangga jadi pembunuh? kasihan sekali Kevin, dia tidak tahu apa-apa masalah kita"


"Iya, aku akan bunuh siapa pun yang berani menyentuhmu. Kau hanya milik ku, kau dengar?!" amarah Piter semakin tersulut karena mendengar Kinan mengasihi pria sialan itu.


Piter menghentikan mobil nya di sebuah taman yang tampak sepi. Di sini mereka bisa bicara tanpa ada yang menggangu atau takut di dengar orang.


Piter duluan turun dari mobil, berjalan meninggalkan Kinan di belakang, yang dia yakini akan di ikuti gadis itu. Memang nya Kinan punya pilihan lain selain mengikuti langkah Piter? kalau dia tidak mendekat, bisa lebih lama waktu menahan dirinya di taman ini. Tapi by the way, taman nya bagus, Kinan suka.


"Piter, kita ngapain ke sini? aku mau pulang" teriak Kinan sembari berjalan. Piter sudah ada di ujung sana, di tepi danau buatan melihat sepasang angsa yang sedang asik berenang.


"Da sample lo?" muka galak Piter belum juga hilang. Apa yang di pikirkan pria ini hingga lembut ny angin sore yang membelai wajahnya tidak mampu meredamkan api amarah di hatinya.


"Buruan, kamu mau ngomong apa sama aku?" Kinan tidak mau semakin dekat dengan Piter. Kata papa nya Piter itu serigala yang harus di waspadai, jaga jarak. Setelah di pertimbangkan, ada benar juga. Kinan tidak ingin insiden ciuman dadakan itu terjadi lagi hingga membuat goyah pikirannya.


"Ngapain lo berdiri di sana? lo takut sama gue?"


"Ga. Takut kenapa, yeee..". cibir Kinan gugup. Dasar pengacara, bisa aja mengetahui kebenaran sekecil apa pun yang coba di sembunyikan Kinan.


"Ke sini. Gue ga bakal gigit kok"Kinan mengalah memilih untuk mendekat. Lagian apa yang bisa pria itu lakukan di alam terbuka seperti ini. Menidurkan nya di tanah dan mencumb*i nya seperti kemarin di ruang kerja nya?


Pemikiran apa itu! Kinan sendiri yang berpikir terlalu jauh, seakan memang itu yang dia inginkan.


"Gue pengen ngomong serius Nan. Gue mau tahu apa isi pikiran lo saat ini" ujar Piter mengusap rokok putih yang dia nyalakan tadi.


Tapi yang di tanya justru bergeming menatap tanah yang sudah dia gambar lingkaran dengan sepatunya.


Piter yang merasa di kacangin geleng kepala melihat tingkah istrinya. "Nan, dengar ga?" hardika nya putus asa.


"Hah? eh..iya dengar"


"Terus?"


"Terus apa nya Ter? aku ga paham"


"Hufffh, lo mau permainkan gue ya? gue tanya giman tanggapan lo atas masalah perceraian kita sebenarnya?"


"Ya kita bakal cerai" jawab Kinan santai. Otak nya benar-benar tidak bisa berkonsentrasi di dekat pria itu. Aura Piter begitu membelenggunya, dan jangan lupakan wangi tubuh pria itu yang masih bisa di endus Kinan yang membuat jiwa nya meronta-ronta.


Coba saja belah isi kepalanya, isinya adegan panas yang mereka lakukan tempo hari kemarin. Dasar cewek polos!


"Jadi itu kemauan lo? cerai dari gue?" Piter si tempramen sudah mulai memerah wajahnya nya. Nyali Kinan sedikit menciut. "Kamu kok marah sama aku?"


"Jelas gue marah. Kemarin waktu gue nyium lo, gue bisa tahu lo juga masih punya rasa sama gue. Gue bisa rasain, tubuh lo nerima gue" Piter sudah mengenyampingkan kesopanan. Tapi apa iya pria itu punya sopan santun?


Wajah Kinan memerah diingatkan lagi dengan peristiwa itu. Apa dia tahu bahkan hingga saat ini kejadian itu masih melekat jelas dalam ingatan Kinan?


"Lihat kan, wajah lo aja memerah. Nan, lo harus jujur sama perasaan lo" suara Piter melembut. Memangkas jarak diantara mereka, sesudahnya menyentuh kembali pipi lembut itu.


"Tapi papa ga setuju. Papa tetap mau kita cerai"


"Yang jadi suami kamu itu, papa mu atau aku sih?" masih mempertahankan intonasi agar auman nya tidak keluar dan membuat Kinan takut.


"Kamu. Tapi nanti udah enggak lagi kan?" Piter mengepal kan tinju nya di sisi tubuh nya, menekan rasa kesal pada wanita yang kini sudah menguasai hati nya. "Kenapa gadis lulusan luar negeri bisa se-naif ini sih?" umpatnya dalam hati.


"Gini deh, kamu masih mau kan jadi istri ku?" pertanyaan itu mungkin tidak berpengaruh apa pun pada Piter, tapi tidak pada Kinan. Wajah nya lagi-lagi merona.


"Jawab Nan, please..kasih aku kesempatan. Aku akan buktikan kalau aku akan jadi suami yang baik, yang bisa membahagiakan kamu" Piter menuntun Kinan duduk di kursi taman.


"Apa kamu mencintai aku, Ter?" seketika mulut Piter terkunci, tidak tahu harus bicara apa.


"Aku..aku.."


"Kamu ga bisa jawab kan. Itu karena memang di hati mu tidak ada cinta untuk ku" ujar Kinan lemah, menundukkan air mukanya yang berubah mendung.


"Tapi aku ingin bersama mu Nan. Aku juga ga tahu kalau aku cinta apa ga sama kamu, karena aku juga ga tahu apa itu cinta. Namun yang pasti, aku ingin selalu ada di dekatmu. Pikiran ku di penuhi oleh dirimu, dan yang paling penting, aku merasa kosong kalau jauh dari mu"


Seandainya kedua nya adalah pasangan normal, yang sudah mengenal arti cinta yang sebenarnya, pasti lah kedua insan itu menyadari mereka saling mencintai, namun kenaifan masih menutup kesadaran mereka akan hal itu.


"Nan, please, kita berjuang bersama mendapatkan kembali restu papa mu" Kinan diam sesaat. Remasan tangan Piter pada jemarinya menandakan pria itu ingin jawaban. Tapi Kinan masih ragu, apa kah rintangan yang melintang di jalan mereka, bisa di lalui? masalah nya rintangan itu orang yang di sebut papa. Kembali Piter membelai pipi Kinan agar dia tersadar.


"Tapi janji, kamu jangan main cewek lagi, cukup aku seorang" ucap Kinan meminta janji Piter.


"Aku janji, selama nya hanya ada kamu dalam hidup ku" hati Kinan bersorak-sorai mendengar pengakuan Piter. Biarlah saat ini cinta itu belum terbit, asal Kinan percaya, suatu hari akan ada cinta diantara mereka.


"Tapi, langkah apa yang harus kita tempuh untuk mendapatkan restu? kamu harus tahu Ter, aku tidak akan melawan permintaan papa, jika pada akhirnya hati papa tetap tidak bisa menerima hubungan kita, maka aku akan memilih tangan papa" Kinan menatap Piter sungguh-sungguh.


"Kenapa gitu Nan, tapi kamu mau hidup dengan aku"


"Sudah dua kali aku menyakiti hati papa, aku sudah bersumpah akan menjadi anak penurut saat papa izinkan aku bercerai dengan mu"


"Hufff..makanya jangan emosi yang di kedepankan Nan, jadi ribet gini kan urusan kita!"