Sold

Sold
Permintaan



Piter terduduk lemas, bersandar di punggung kursi setelah mendengar keterangan dokter. Nyawanya serasa lepas dari tubuhnya. Wajah nya pias.


Bee sudah menangis dan kini tengah di peluk Bintang untuk menenangkan. "Sayang, jangan menangis lagi. Kamu harus kuat, agar bisa menenangkan Kinan saat dia siuman nanti"


Keputusan dokter sudah jelas. Agar rahim nya bersih dan tidak menimbulkan penyakit bagi Kinan, dia harus segera di kuret.


Hingga malam, Kinan yang masih lemah masih enggan membuka mata. Tangannya sedari tadi tidak hentinya menggenggam tangan Kinan dan air mata sesekali menetes di tangan nya.


Saat dirinya sudah berniat untuk mengabdikan hidupnya untuk istri dan anaknya, kini calon bayi mereka sudah tidak ada lagi. Piter tidak sanggup membayangkan reaksi Kinan saat bangun nanti. Oh..ini adalah rasa takut pertama yang dia rasakan seumur hidup nya.


"Kamu istirahat dulu. Makan lah Ter, nanti kamu sakit. Biar aku yang jaga Kinan" bujuk Bee tapi Piter tidak mengindahkannya. Dia ingin tetap di samping Kinan agar saat pertama kali sadar, yang Kinan lihat adalah dirinya.


"Ayo, biar Bee yang jaga. Temani aku ngopi" ajak Bintang setengah memaksa, menarik tangan Piter.


Pesanan mereka sudah datang, tapi Piter seolah tidak berniat untuk menyentuh kopinya.


"Woi, berhenti lah jadi bodoh. Sadar, saat ini istri lo sangat butuh dukungan lo"


"Justru itu kak. Gue takut. Takut kalau Kinan tidak bisa terima bayinya yang sudah tidak ada lagi"


"Yakin kan dia. Kalau kalian pasti akan punya anak lagi"


Piter membuang nafas kasar. Pandangannya di alihkan pada pintu luar rumah sakit. Ramai dengan pasien yang baru datang dan juga penjenguk yang membawa buah tangan.


"Ayo balik kak, gue yakin Kinan udah sadar"


Dugaan Piter benar. Saat dirinya tiba diambang pintu Kinan baru siuman. Bee paham, mereka butuh waktu berdua, hingga dirinya bangkit.


"Nan.." ucap Piter getir.


Kinan hanya diam. Tidak bereaksi. Piter mengalihkan pandangannya pada Bee, bertanya lewat tatapan mata apa sudah memberitahu mengenai keguguran Kinan dan Bee menggeleng perlahan.


"Nan..gimana keadaan kamu? mana yang sakit?" hati Piter hancur melihat wajah sedih dan kesakitan Kinan.


"Perut...perut ku sakit" ucap nya susah payah. Bee mengangsurkan gelas berisi air dengan sedotan pada Piter agar memberikan pada Kinan.


Tak perlu waktu lama, Kinan menghabiskan air itu, tenggorokan nya perih.


"Bee, anak ku baik-baik aja kan?" kembali memori Kinan berputar pada kejadian di salon tadi. Bee diam, tidak sanggup menjawab hanya menunduk, lalu menggeleng perlahan.


"Bee..jawab..anak aku baik-baik aja kan?" Kinan tampak mulai panik.


"Sabar Nan. Kamu harus tabah, ikhlas. Anak kita udah ga ada" ucap Piter menggengam tangan Kinan, tapi segera di tepis oleh Kinan. Isak Kinan semakin menggema di ruangan itu.


Dua hari di rumah sakit cukup membuat Kinan depresi. Bayangan tentang anak yang di kasihi nya kini sudah tidak ada semakin menambah kesedihannya, terlebih dia harus melihat wajah Piter yang setia mengurusnya di rumah sakit.


Entah mengapa semua yang terjadi pada dirinya, membuat nya begitu membenci Piter. Pria itu kini sudah bernafas lega, tidak ada anak lagi yang harus dia pikirkan yang selama ini menjadi penghalang.


Memang bukan karena Piter dia kehilangan anaknya, tapi sikap dan perilaku Piter yang membuat Kinan menjadi stres dan kandungannya pun lemah, seperti penuturan dokter. Sedikit banyak nya ini semua karena Piter.


Kinan sudah memutuskan untuk pulang ke rumah papa nya, tapi melihat papa dan ibu mertua begitu sedih karena kehilangan calon cucu mereka, membuat Kinan tidak sampai hati untuk mengatakan keinginan kembali ke rumah papanya.


Berat hati Kinan menerima keluarga mengantarnya ke apartemen mereka. "Aku ke kamar dulu pa, Bu" ucap nya pamit meninggalkan keluarga nya yang duduk bersama di ruang tamu.


Langkahnya terhenti saat masuk ke kamar, matanya menangkap sepatu mungil dari bahan rajutan berwarna putih yang ada di meja. Tangan bergetar di raihnya dan di dekap di dada. Seperi yang dua hari lalu dia beli, yang dia harapkan akan di pakai anak nya kelak.


Tubuh Kinan bergetar hebat menangis memeluk sepatu mungil itu, tubuhnya merosot dan jatuh di lantai. Tangis nya pecah. Hancur sudah hatinya bersama kepergian anak yang belum sempat dia lihat.


Setelahnya, hari-hari Kinan bak zombie. Bahkan saat Piter mengajak nya bicara, Kinan hanya diam. Sempat Piter tidak terima ketika Kinan memutuskan untuk pindah ke kamar sebelah, tapi saat Kinan mengancam untuk keluar dari rumah itu, Piter hanya pasrah apa pun yang menjadi keinginan Kinan.


Piter paham ini masa tersulit gadis itu, dan dia harus lebih bersabar menghadapinya. Melihat kesedihan Kinan juga membawa rasa sakit di hati Piter. Dia ingin menebus kesalahannya dengan membahagiakan Kinan, agar bisa lupa pada kesedihan nya, tapi Kinan dengan segala luka sudah menutup diri.


"Kinan, ini aku bawakan makanan. Keluarlah, kita makan bersama" ucap Piter mengetuk pintu kamar Kinan. Tidak ada suara.


"Nan, buka pintunya. Kau harus makan" ulang Piter mengetuk ulang pintu kamar Kinan.


Sejak keluar dari rumah sakit, Piter lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk menemani Kinan walau nyatanya gadis itu bahkan tidak mau melihat wajahnya. Piter tidak mau, kesendirian akan membuat Kinan semakin depresi.


Pagi, Piter lah yang menyiapkan sarapan. Membuat roti bakar atau roti isi sebelum berangkat kerja. Itu pun dia hanya dia hingga tiga jam di kantor, jika pekerjaan nya masih bisa di handle oleh asisten nya, maka dia akan di rumah saja.


"Nan, aku mohon. Jangan mengurung diri terus. Tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi. Kita sama Nan, aku juga sedih kehilangan anak kita"


Kalimat yang justru membakar jiwa Kinan membuat amarah wanita itu kembali bangkit.


Dasar iblis, kehilangan katanya? cuih..kau bahkan tidak mengharapkannya sejak dia ada hingga tiada..aku membenci mu Jupiter Danendra! selama nya!


Lima menit kemudian pintu di buka oleh Kinan. Kedua nya saling tatap berdiri terpaku. Tinggal bersama selama hampir tiga bulan, tapi mereka kini bak orang asing.


"Kita makan" bujuk Piter, suara nya begitu lembut dan pasti akan membuat Kinan merasa special seandainya tidak ada kejadian naas itu, tapi kini di telinga Kinan, bujukan lembut Piter sangat menjijikkan dan dia sudah tidak tahan lagi.


"Aku ga lapar. Aku ingin bicara dengan mu" sambar Kinan tegas melangkah keluar dan duduk di sofa single. Piter mengikuti langkah Kinan dan duduk di seberang, matanya tidak lepas mengamati wanita itu. Rapuh dan tetap cantik.


"Aku ingin kita bercerai!"