
"Aku akan menunggu mu datang, jadi cepatlah" pesan itu Bintang terima setengah jam lalu. Pesan yang tidak ingin disanggupinya, tapi langkahnya tetap saja membawa nya datang ke tempat wanita itu menunggunya.
"Ada apa? apa yang ingin kau bicarakan?" Bintang sudah duduk di seberang Ranika yang menatap nya dengan senyum menghiasi wajah.
"Aku merasa kau belakangan ini menjauhi ku" ucap Ranika menatap Bintang yang menyandarkan punggungnya.
"Aku tidak menghindari mu, tepatnya aku memang tidak ingin bertemu dengan mu lagi, Ran!"
Ranika menatap Bintang dengan sedih. Dia tidak memanggil dirinya Icha seperti biasanya. Dan nada Bintang tidak bersahabat.
"Kau marah padaku? aku buat salah apa?"
"Dengar Ran, aku tidak marah padamu, hanya saja kita tidak bisa bertemu berduaan seperti ini. Aku tidak mau sampai Bee tahu dan membuat nya sedih. Aku harus menjaga perasaan istri ku"
"Dan bagaimana dengan perasaan ku?" riak kesedihan itu semakin jelas terlihat.
"Ranika, aku tidak punya perasaan apa pun padamu. Coba lah mengerti. Aku sudah menikah. Dan aku hanya mencintai Bee, istri ku!"
"Aku mau menjadi istri kedua mu!"
Mata Bintang membulat. Tidak mempercayai apa yang baru saja dia dengar. Omongan sampah yang seharusnya tidak di ucapkan Ranika.
"Jangan gila. Aku tidak akan menikahi mu! jadi lupakan pikiran gila mu itu!"
"Bagaimana kalau Bee setuju? kau tahu aku hanya menuntut tanggung jawab mu!" Ranika mulai tersulut. Rasa nya niat awal untuk membujuk pria itu tidak berhasil, maka harus dengan memaksa dan menekan rasa bersalah di dalam hati Bintang lah satu-satunya cara.
"Bee tidak akan setuju. Dia akan meminta cerai, dan aku tidak mau kehilangan Bee. Dan kalau pun kau berhasil meyakinkan Bee, aku tetap tidak akan menikahi mu. Aku mohon pada mu Ranika, jangan usik rumah tangga ku.
Kecelakaan itu terjadi karena kau memang ingin menyelamatkan ku, dan aku berterima kasih karena itu. Tapi kau jangan lupa aku ada di sana juga karena menolong mu. Kau juga patut di salah kan, karena kau sendiri yang memancing Roland untuk mendekatimu!"
Bintang ingat, sifat Ranika yang sangat tidak di sukai nya adalah memberikan harapan pada pria, dan setelah menabur pesona dengan kelembutan nya, si pria mulai menaruh hati pada nya, dia akan meninggalkan pria itu tanpa kejelasan.
Kalimat Bintang berhasil membungkam mulut Ranika hingga tidak berkutik. Harapan Ranika hancur, tidak ada lagi kesempatan untuk nya mendapatkan cinta Bintang.
Dia menyesal. Apa yang dikatakan Bintang itu benar. Dia memang selalu bangga dengan kecantikannya hingga sering tanpa sengaja membuat pria salah mengerti akan perhatian dan kebaikan hatinya.
"Aku percaya, akan ada pria yang bisa menerima mu, Ran" ucap Bintang menenangkan.
***
Tidak ada yang berubah dari hubungan Bee dan Bintang walau pun Bee sudah mendengar apa yang perlu dia ketahui. Dia tidak akan merajuk, marah-marah atau pun menjauhi suaminya, itu hanya akan membuat dirinya benar-benar kehilangan Bintang.
Baginya nya apa yang di dengar nya saat itu adalah masa lalu suaminya. Jika Bintang tidak menceritakannya, Bee tidak akan mempersoalkan nya, toh itu hanya masa lalu, jauh sebelum Bintang bertemu dengan nya.
Sejak hari itu, tidak ada sikap Bintang yang berubah. Suaminya masih lembut dan penuh cinta padanya. Tidak ada yang perlu di khawatir kan. Malam-malam yang mereka habiskan bersama juga tetap panas dan penuh g*irah.
Bintang hanya miliknya. Begitu pun dirinya hanya milik pria itu.
"Halo tampan, sedang apa?" Bintang mendapati Saga yang sedang terduduk di lantai kamar bermain dengan tas tangan Bee.
Dari arah kamar mandi terdengar suara gemericik air, pertanda Bee yang sedang mandi. Bintang memang pulang cepat hari ini. Dia ingin mengajak Bee dan Saga ke rumah ibu. Wanita itu tengah sakit katanya seperti yang di kabarkan pada Bintang tadi.
Ibu sudah tahu mengenai rencana perceraian Piter dan Kinan, dan hal itu membuat ibu jatuh sakit.
Bintang duduk di samping Saga memperhatikan anak itu mengobrak-abrik isi tas Bee, lalu mata nya menangkap satu kotak berwarna putih dengan dominasi warna orange. dengan gambar siluet seorang wanita pada covernya. Penasaran Bintang mengambilnya dan membaca nya. Dia tidak terlalu mengerti. Apa kah Bee sedang sakit? tadi kenapa dia tidak menceritakan apa pun padanya? diambilnya satu papan yang berisi beberapa butir, dia akan menanyakan nya saat Bee keluar, tapi saat itu tepat ponselnya berbunyi.
"Apa? baik, kami segera ke sana"
"Ada apa kak?" tanya Bee yang baru keluar dari kamar mandi. "Ibu pingsan, kita harus segera ke sana"
Bu Salma berbaring lemah. Tangannya tidak henti menggenggam tangan Bee. Memejamkan mata berusaha untuk tidur.
"Malam ini kita tidur di sini aja kak. Temani ibu" Bintang mengangguk setuju. Bintang ingin sekali menghajar adiknya karena sudah membuat ibu jatuh sakit. Tapi bagaimana bisa dia menghadapi adiknya, sementara dirinya juga dulu melakukan hal yang sama. Hanya saja Bintang tidak ingin Piter menyesali semua nya setelah mereka berpisah nantinya.
***
Besoknya dari rumah ibu lah Bintang berangkat ke kantor. Keadaan ibu sudah lebih baik, sejak Piter datang ke rumah. Dia berjanji pada ibu, akan mempertahankan Kinan dan rumah tangga mereka hingga ibu jadi tenang.
Pukul dua siang, baru lah Bintang bisa bernafas. Banyak nya pekerjaan hari itu membuatnya makan di ruang kerjanya. Tiba-tiba dia ingat sesuatu, di rogoh nya saku jas nya, mengambil sesuatu yang dia lupa tanyakan pada Bee kemarin
Berpikir sejenak, lalu Bintang menekan telponnya nya meminta sekretaris nya untuk memanggil Riko ke ruangannya.
"Segera cek, ini obat apa" ucap nya sembari melempar satu papan obat yang sedari tadi dia amati. "Aku minta lo kerja kan sendiri. Terus lapor kan segera"
Riko mengerti dan segera mengerjakan perintah Bintang. Hati Bintang tidak karuan, gelisah menunggu hasil nya. Tidak mungkin Bee menderita suatu penyakit tetapi tidak mau diri nya tahu. Jantung nya semakin berdebar, merasa takut kehilangan wanita yang sangat dia cintai. Setengah jam kemudian baru lah Riko kembali menghadap.
"Bagaimana, obat apa ini?" desak Bintang tidak sabar. Berdiri dari kursinya menyongsong kedatangan Riko.
"Ini.."
"Apa? ngomong yang benar!" salak Bintang kesal.
"Maaf bos. Ini pil kontrasepsi. Untuk mencegah kehamilan" sahut Riko satu kali tarikan nafas. Firasat nya bilang, akan ada badai menerjang. Bos nya mendapat pil itu pasti dari istrinya, yang artinya nyonya bos nya tidak ingin hamil, sementara dia tahu bos nya berulang kali berkata ingin punya anak lagi, dan kalau bisa perempuan.
"Kau yakin?" suara Bintang terdengar menyeramkan. Di remas nya pil itu erat dalam genggamannya.