Sold

Sold
Si tukang Cemburu



"Aku datang hanya untuk liburan. Jujur, aku berharap bisa bertemu anak ini, dan Tuhan mengabulkan harapanku" ucapnya membelai puncak kepala Saga. Dari sorot matanya tampak Darren mulai menyayangi anak itu.


"Aku tidak menyangka kamu masih ingat Saga"


"Jujur, aku ingat akan anak yang aku tolong dua tahun lalu, tapi wajahnya sudah agak samar. Kalung ini lah yang membuat ku ingat pada Saga"


Darren orang yang menyenangkan. Dia sopan dan juga sangat ramah. Tipe pria sempurna di mata para gadis. Tidak terasa mereka berbincang hingga tiga jam.


"Udah sore, kami harus pulang. Kamu harus janji akan mengunjungi kami. Ini alamat rumah dan juga nomor telepon ku" ucap Bee menyerahkan secarik kertas yang tadi dia tulis.


"Pasti, sebelum pulang aku akan datang berkunjung"


"Mama..boleh kah aku ikut om Darren?" pinta Saga mendekatkan tubuhnya hingga mentok ke tubuh Darren.


"Hah? aduh, jangan sayang. Nanti kalau Saga ikut sama om Darren, papa akan cari Saga. Nanti mama di marahi papa lagi" ujarnya membentuk wajah sedih.


Saga yang tidak ingin mama yang paling dia sayang malah kena marah papa nya memilih untuk menurut ikut pulang.


Tiba di rumah, Bintang sudah menyambut mereka di depan pintu. Harus nya mereka bisa tiba lebih cepat setelah mengantar Kinan, tapi wanita itu justru minta singgah lagi membeli bebek goreng, dan harus mengantri panjang, setelah nya baru pulang.


"Kalian dari mana sih, sampe langit gelap baru tiba di rumah?"


"Sorry kak.. tadi ngantar Kinan dulu"


"Kenapa ga suami nya aja sih yang jemput?" kalau sudah ngeyel-ngeyelan begini Bee memilih untuk diam.


"Papa.." Saga merentang tangan meminta Bintang untuk menggendongnya.


"Jagoan papa, bau asem.."


"Hehehe..pa, tadi kita ketemu om Darren di mall"


Bee mengutuk kebodohannya dalam hati. Dia lupa mengatakan pada Saga untuk tidak memberitahukan mengenai pertemuan mereka dengan Darren, terlebih masalah Saga yang hampir ketabrak. Dia tahu bagaimana suaminya, pasti tidak akan suka dan akan kebakaran jenggot setiap tahu dirinya bicara dengan pria lain.


"Darren? siapa maksudnya yang?" Bintang memilih untuk duduk di dulu di ruang tamu, meminta Bee menjelaskan saat itu juga.


"Itu..pria yang nolong Saga waktu di Kaledonia baru" bisa kan di tebak, wajah Bintang langsung berubah. Sorot mata tidak suka kini menusuk ke arah Bee.


"Ngapain dia di sini? kenapa kalian bisa ketemu?" tuntut Bintang mulai tidak sabar.


"Katanya dia liburan kak. Tadi kebetulan aja ketemu"


"Iya pa. Tadi om Delen tolongin Aga pas mau tabrak mobil"


Sumpah demi apa, Bee ingin sekali menyumpel mulut bocah itu dengan kain. Bintang yang mendapat info seperti intu tentu saja langsung pasang wajah penuh tanda tanya pada nya.


"Yang?"


"Itu..itu.." tidak ada pilihan lain selain jujur pada Bintang. Apa pun konsekuensinya Bee akan terima, toh ini memang salah nya. Tapi balik lagi, Bintang mana bisa sih marah yang sampai besar sama Bee. Bintang hanya menasehati dan saat melihat wajah istrinya yang menunduk sedih, amarah nya akan luluh.


"Ya sudah, lain kali lebih hati-hati lagi yang. Kayak nya Kinan emang bawa pengaruh buruk pada mu


"Apaan sih kak, dia itu keluarga kita. Kayak ngomongin orang lain aja"


"Udah ah, malas bahas nya. Aku mau mandi" ucap Bee manyun, pergi meninggalkan Bintang, yang tidak lama mengejar sang istri untuk bisa bergabung di kamar mandi.


***


Minggu siang, seperti yang sudah di jadwalkan, Harus nya seluruh anggota keluarga Danendra akan pergi ke rumah ibu. Tapi karena ibu lagi ke Singapura dengan teman-teman sosialita nya, akhirnya memilih untuk tinggal di rumah.


Rencana diatur, kelima nya akan berkemah dikamar. Masih ada film petualangan yang belum di selesaikan mereka Minggu lalu.


Tenda sudah di dirikan, tepat saat Mira datang memberitahukan kalau ada seseorang mencari Bee dan Saga.


"Siapa Mir?" tanya Bee yang akan membuat selimut sebagai alas mereka dalam tenda.


"Tuan Smith kalau ga salah nama nya Nyah"


Ucapan Mira menjadi komando dari Bintang untuk membatalkan niat nya mengikat tali tenda. "Mau apa dia kemari?" hardik Bintang dengan wajah masam.


"Mana aku tahu kak. Mungkin pengen ketemu Saga. Ayo kita temui" ajak Bee mengulurkan tangan. Bintang menerima. Lagian ini rumahnya, dia yang berkuasa. Bisa apa pria bule itu. Langkah Bee terhenti tanpa aba-aba hingga tubuh besar Bintang menubruknya.


"Ingat kak, jangan macem-macem"


"Macem-macem gimana?" tantang Bintang namun berusaha menutup niat nya. Dia memang ingin menghardik Darren karena sudah berani mendekati Bee.


"Bersikap lah bijaksana kak. Dia tamu kita. Lagi pula, harusnya kita berterima kasih karena dia sudah menyelamatkan anak kita. Dua kali malah"


"Kak.." lanjut Bee karena Bintang masih diam tidak mau berjanji.


"Iya bawel" Bintang sadar apa yang di katakan Bee ada benarnya. Pria itu sudah dua kali menyelamat kan hidup anaknya, harusnya dia berterima kasih, bukan malah bersikap antipati.


Darren tampak duduk di ruang tamu dengan stelan jas slim fit nya. Tampang bule indo nya menjadi lebih menawan dari pada pertama kali Bee melihat nya dulu.


"Hai..maaf kalau aku sudah mengganggu waktu kalian" ucap nya berdiri tak kala melihat Bee dan Bintang mendekat.


"It"s ok Darren. Kami yang harusnya mengucap kan terima kasih karena kamu sudah mau datang ke mari" ucap Bee tulus. "Iya kan kak..?"


"Yah..makasih. Bew sudah menceritakan semua nya. Terimakasih karena sudah menyelamatkan nyawa Saga untuk kedua kalinya" ucap Bintang.


"Om Dellen..." pekik Saga gembira melihat sosok Darren ada di ruang tamu. Saga berlari menghambur dalam pelukan si pria bule.


Ternyata harapan Bee terkabul. Kedua pria itu bisa berbincang tanpa ada yang terluka atau terlibat perkelahian.Bahkan sesekali Bintang tertawa mendengar cerita Darren. Tampak nya mereka sangat cocok satu sama lain.


"Kamu nginap di hotel mana?"


"Premier hotel. Oh iya, kalau kalian mengizinkan aku ingin mengajak Saga untuk jalan-jalan. Aku ingin membuat kenangan untuk nya"


Permintaan Darren tentu saja sangat sulit di turuti Bintang atau pun Saga. Bukan tidak percaya, tapi yah..masih terselip ragu karena mereka juga baru mengenal Darren.


"Aku paham, kalau kalian takut, kalian bisa ikut atau mengutus pengawal untuk mengawasi kami" kata pria itu berharap.


"Iya..Aga mau jalan-jalan sama om Dellen pa..Aga mau main ma.."


"Begini saja, kalian boleh pergi, tapi Mira harus ikut bersama Saga" putus Bintang