Sold

Sold
Bukan om-om



Setelah semua masalah dan ketegangan yang keluarga Danendra hadapi, Bintang berinisiatif membawa keluarga kecil nya untuk liburan. Dia juga belum pernah membawa Bee dan juga Saga jalan ke luar kota untuk melepas penat.


Rencana itu di sambut gembira oleh Bee. Dia butuh refreshing, karena Minggu depan pertarungan merebut gelar akan di mulai.


"Emang kita mau kemana sih kak?" tanya Bee masih sibuk mengemas pakaian dalam koper.


"Rahasia dong" cengiran Bintang dari atas tempat tidur membuat Bee sedikit kesal hingga gadis itu memutuskan untuk bangkit dan memberi serangan pada suaminya. Bee sudah duduk di perut Bintang yang telentang, dan mulai menggelitik ketiak Bintang hingga pria itu tertawa ngakak dan minta ampun.


Bee menghentikan gerakannya kala dua tangan Bintang menahan dan membawa kepala nya untuk mendekat hingga mata mereka saling tatap mengunci satu sama lain. Selanjutnya hanya ada kemesraan dalam setiap sentuhan yang mereka lakukan.


Besok nya mereka bertolak ke airport. Hingga dalam pesawat pun, Bee belum tahu tempat tujuan mereka. Tapi Bee tidak perduli, yang terpenting bagi nya saat ini, dia liburan bersama suami dan anak nya.


Selama hampir dua belas jam di perjalanan baru lah mereka tiba di Nouméa. Senyum Bee terkembang ketika sudah mengetahui tujuan mereka. Tiba-tiba dia merangkul lengan Bintang, menciumi lengan kekar berbalut jas hangatnya. Bintang pun ikut tersenyum mengerti, mengangkat dagu Bee dan menatap mata wanita itu.


"Bahagia?"


"Sangat..Bintang Danendra adalah suami terbaik di dunia" ucap nya memamerkan deretan gigi putihnya.


Saga juga tidak kalah bersemangat nya, berlari kecil kesana-kemari hingga membuat Mira kewalahan. Bahkan adanya Riko di sana tidak juga meringankan beban Mira dalam menjaga anak yang super aktif itu.


"Kenapa saya juga harus ikut sih bos. Kalian yang mau bulan madu, kenapa ngajak-ngajak saya? mau buat saya makin nelangsa?" cicit nya pelan saat tanpa ragu Bintang mencium bibir Bee di depan mereka, menunggu mobil mewah yang akan menjemput.


"Makanya gue bawa lo, siapa tahu ada cewek bule nyantol sama lo, kan lumayan ga jomblo lagi" balasnya nyantai masih memeluk Bee.


Kaledonia baru adalah surga bumi. Jajahan sui genetis Prancis itu memiliki banyak pemandangan indah karena pulau-pulau nya yang luar biasa indah dan menjadi penarik banyak nya turis datang ke sana.


Masih satu jam di negara itu, Bee semakin terpesona akan tempat tinggal mereka yang ada di pinggir pantai.


"Ini luar biasa. Oh.. sayang, terimakasih. Dengan apa aku balas kemurahan hati mu ini?" bisik nya pada Bintang. Keduanya berdiri di dekat jendela yang memuaskan pandangan mereka pada pantai Amedee. Bahkan dari tempat mereka, sangat jelas melihat mercusuar tinggi yang menjadi ikon pantai itu.


"Tentu saja semua tidak gratis, la belle (cantik)" bisik Bintang yang terasa geli di telinga Bee hingga tanpa sadar membuat bulu kuduk nya meremang.


"I'm yours, my Lord" dan keduanya tertawa.


Agenda yang akan mereka lakukan, besok mereka akan menyelam di pantai Amedee. Dan Bee sudah tidak sabar menantikan nya.


Walau malam nya Bee sudah mengerahkan tenaganya untuk membayar hutang pada suaminya, tapi semangat Bee untuk menjelajahi alam bawah pantai, begitu menggebu-gebu. "Bangun kak, ayo nyelam. Keburu terik"


"Bentar lagi ya yang. Masih ngantuk. Kita baru tidur empat jam loh" Bintang enggan untuk membuka matanya. Masih terlena akan permainan mereka tadi malam yang katanya mencoba gaya baru.


Bintang membuka sedikit matanya. Bee sudah siap dengan dress pendeknya, menggelung rambut nya hingga tinggi, sejumput rambut terlepas membingkai wajah cantiknya. Senyum menawannya tidak lepas dari wajah yang begitu menawan hati Bintang. Pria itu tampak menghela nafas panjang. Istrinya begitu bersemangat, penuh energi padahal tadi malam berkali-kali dia menggempur gadis itu hingga menguras tenaga. Tapi melihat semangat Bee, Bintang sadar umur nya yang terpaut jauh dari Bee adalah alasannya.


Gue harus lebih sering olah raga ini.. bisa-bisa lima tahun lagi, gue udah letoy baru 5 kali naik..


"Kak, ayo. Malah bengong" hardik Bee menyadarkan Bintang.


"Iya tuan putri. Hamba sikat gigi dan cuci muka dulu"


Bee menunggu dengan sabar. Dan saat Bintang sudah keluar, dia menarik tangan pria itu, menjejaki pasir putih yang begitu halus.


Aaaaaaaaaaah... teriak Bee tiba-tiba yang berhasil membuat Bintang terperanjat dan menoleh ke samping.


"Ada apa? kamu kenapa sayang? apa yang sakit? Bintang mengecek setiap jengkal kulit Bee, memastikan sang ratu hati baik-baik saja.


"Ih..aku ga papa kak. Aku teriak hanya ingin mengungkapkan rasa gembira ku. Ga pernah terpikirkan bisa sampai di tempat seindah ini"


Setelah melepas senyum, Bee berlari meninggalkan suaminya, berlari-lari di tepi pantai dengan kaki telanjang. Bintang hanya tersenyum melihat tingkah polos istrinya, mengikuti jejak yang di tinggalkan Bee, dan memungut sendal gadis itu yang tadi di lepas dan membawa bersama nya.


Hari itu, hanya ada kegembiraan yang di rasakan Bee. Menyelam dengan Bintang. Melihat keindahan di bawah air yang sangat memukau. Setelahnya, Bee berjalan memunguti batu-batu kecil yang tampak unik di lihatnya sementara Bintang duduk santai di kursi pantai memandang istrinya. Entah untuk keberapakali nya hati Bintang memuji kecantikan istrinya. Merasa beruntung memiliki istri secantik Bee.


G*irah nya bangkit terlalu lama memandangi Bee dengan bikini two piece nya. Sempat Bintang terpikir kapan perut rata itu akan berisi putrinya. Bee tidak lagi meminum pil itu, tapi hingga kini Bee masih belum juga hamil. Akan sangat sempurna jika dirinya memiliki putri yang juga secantik mamanya.


"Hey Om. Ayo berenang" ajak Bee yang sudah mulai mendekat. Di panggil Om, wajah Bintang mendadak masam. Kalau Mira menyembunyikan tawanya susah payah, lain halnya dengan Riko yang dengan penuh berani menertawakan bosnya.


"Ayo Om, temani nyonya bos" ejek Riko yang berhasil membuat Mira yang menyuapi Saga makan buah, melepas tawanya.


"Bonus lo gue potong. Bahkan gaji lo juga, karena udah libur kerja, malah ikut liburan bareng gue" bentak Bintang bangkit dan menarik tangan Bee menjauh.


"Dasar om-om labil, dia yang ngajak, maksa gue kesini, malah nyalahin gue" cicit Riko yang di tertawa kan Mira terang-terangan.


Malam nya, Bintang tidak memberi ampun. Dua kali putaran, Bee sudah melambaikan bendera putih, lelah tidak bisa bermain kuda-kudaan lagi. Tenaga nya satu harian tadi sudah habis menyelam dan bermain di pantai, setelah malam malah harus melayani tuan muda kikir yang minta dibayar pakai jasa.


"Besok lagi dong kak, capek nih"


"Baru dua kali yang. Tadi siang aja, kamu bilang aku om-om" balas nya cemberut.


"Oh, jadi ini untuk pembuktian kalau kakak masih punya stamina kayak anak muda? iya deh, aku salah. Kakak bukan om-om"