
Duduk dengan melipat tangan di dada, Bintang enggan untuk membalas sapaan Bee. Hanya di lah yang tahu, dua jam lamanya menunggu wanita nya membuka mata adalah detik-detik yang sangat menegangkan.
Tidak henti-hentinya dia mengucap doa agar istri nya selamat dan tidak ada hal buruk yang terjadi pada bayi mereka. Tidak sedetikpun Bintang beranjak dari kursinya di sisi ranjang Bee, menanti mata indah itu terbuka dan melihat nya ada di sana.
Jadi jangan salahkan saat Bee memanggilnya, Bintang masih diam. Dia harus menstabilkan jantung nya. Dia bisa kehilangan apa pun di dunia ini, tapi tidak dengan Bee. Melihat tubuh Bee yang terbaring kaku saat tiba di rumah sakit ini, membuat jantung nya berdetak kencang. Rasa takut nya muncul lagi. Sama seperti saat di Pekanbaru waktu itu, percobaan bunuh diri Bee untuk menghindari pernikahan dengannya sungguh meninggalkan trauma. Dia tidak akan bisa menerima hidup tanpa istri nya yang acap kali memberinya serangan jantung.
"Kakak.." ulang nya lemah. Kali ini berhasil menarik perhatian Bintang.
"Apa ada yang sakit?" nada suara Bintang memang menandakan kekhawatiran yang besar pada Bee tapi sedikit pun dia tidak mau menatap istrinya itu. Apa lagi kalau buka. rasa kesal yang mengganjal dalam hatinya.
"Ga..ga ada yang sakit. Tapi kalau kakak bicara sedingin itu pada ku, hati aku yang sakit" cicit Bee menatap Bintang yang masih tidak sudi melihat ke arah nya.
Bintang tidak menjawab. Kedatangan dokter untuk memeriksa Bee menjadi penyelamat bagi Bintang. Untuk kali ini dia harus bersikap tegas pada Bee. Dia harus lebih mengerti membantu orang lain itu penting, tapi keselamatan nya dan juga anak mereka jauh lebih penting.
"Ada keluhan Bu?" tanya dokter menurunkan stetoskop nya usai memeriksa Bee. Wanita itu hanya menggeleng, melihat wajah dokter lalu beralih pada wajah dingin suaminya.
"Baik, kalau begitu ibu sudah boleh pulang. Semua baik-baik saja, bayi nya juga baik. Tapi ibu banyak istirahat dan jangan terlalu capek dulu" terang sang dokter yang sedikit banyak buat wajah Bintang menjadi lebih rileks.
***
Suasana mobil hening. Sebelum meninggalkan rumah sakit, Bintang sempat marah lagi padanya. Kali ini bukan mendiaminya justru sampai membentak Bee karena gadis itu bersikeras mengunjungi Kiki yang di rawat di kamar berbeda dengan nya. Dari Kinan, Bee mendapat kabar kalau Kiki harus di opname hari itu paling tidak untuk semalam.
"Tapi aku mau lihat Kiki dulu kak" rengek Bee.
"Aku bilang kita pulang sekarang. Kau dengar apa yang aku katakan?" hardik Bintang yang sudah habis kesabarannya.
"Ga mau, aku mau lihat Kiki dulu" suara Bee lebih tinggi lagi. Dia tahu harus menghormati suaminya, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan sahabatnya.
"Kau bisa ga sih, sekali aja nurut sama aku. Setiap apa yang aku bilang, pasti kau bantah" suara Bintang tampak datar, cara nya menekan emosinya. Kalau menyangkut kesehatan dan keselamatan Bee, Bintang memang tidak main-main, dia akan tegas walau mungkin akan menimbulkan pertengkaran diantara mereka.
"Sebentar aja kak" rengek Bee masih tetap ngotot. "Ga akan lama janji.."
"Kau akan tetap pergi walau aku tidak mengizinkan mu?" bentak nya lepas kontrol. Dia bukan dewa yang kesabaran nya tidak akan habis.
"Iya.."
Bintang tidak lagi mendebat, dia pergi keluar dari ruangan itu. Lebih bagus dia pergi menenangkan diri sesaat dari pada mereka terus berdebat dengan urat yang mengencang. Dia terlalu mengenal Bee, wanita itu tidak akan menyerah akan keinginannya.
Satu lagi alasan Bintang berat hati mengizinkan Bee ke ruangan gadis itu, karena ada abang nya di dalam sana menjaga gadis itu. Bintang masih ingat jelas pria itu berusaha mendekati istrinya. Bintang tidak ingin memberi celah pada pria itu untuk mendekati istrinya. Jangan kan mendekati, berada satu ruangan dengan istrinya pun tidak akan dia biarkan.
Hanya setengah jam Bee membiarkan Bintang menunggu di mobil, setelah melihat Kiki dan memastikan sahabatnya itu baik-baik saja, dia pamit pulang. Toh Kia juga sudah ada di sana menjaga nya.
"Makasih Bee, kalau lo gada, tau deh gimana nasib si gembul ini" ucap Kia yang masih setia duduk di ranjang Kiki. Adik tersayang nya itu masih trauma, hingga selalu menggengam tangan Kia.
"Kiki teman gue, gimana pun pasti gue tolongin. Ki, lo istirahat ya. Nanti gue telpon ya" lanjut Bee mengecup pipi kiri dan kanan Kiki sekaligus berpamitan.
Langkah Bee selalu dikawal Riko yang berjalan di belakangnya. Belum sampai di pintu keluar, Bee berhenti, dan berbalik. "Riko, tadi kak Bintang ngomong sesuatu ga sama kamu?"
Dihadang dengan pertanyaan tiba-tiba seperti itu, membuat Riko sedikit terperanjat. "Hah? eh..tidak ada nyonya"
"Apa dia marah? apa dia mengatakan tentang rencana menghukum ku atau apa gitu?"
Hanya gelengan yang di berikan Riko sebagai jawaban atas pertanyaan Bee. Riko hanya bisa mengulum bibir, menahan senyum nya. Menyadari ternyata nyonya bos nya bisa juga takut pada suaminya.
"Ish, kamu itu ya, semua yang di tanya pasti ga tahu. Kamu memang setia nya sama kak Bintang. Nyesal aku nanya" cetusnya kesal, menghentakkan kaki nya ke lantai lalu berjalan ke arah mobil.
Disinilah keduanya. Diam menikmati perjalanan yang tampak membosankan dan sepi. Bintang bersikap seperti itu juga demi kebaikan Bee tapi gadis itu sama sekali tidak menghargainya.
"Mama pulang" teriak Saga menyongsong kedatangan Bee.
"Sayang nya mama" Bee mencium pipi gembul Saga dan berganti bocah pintar itu mencium Bee di setiap jengkal wajahnya.
Kalau prediksi Bee, Bintang akan menyudahi ngambek paling lama sampai makan malam, dia terlalu mengenal suaminya, pria Itu tidak akan tahan lama mendiaminya, apalagi tidur tanpa memeluk nya.
Tapi kali ini dugaan Bee meleset. Hingga merangkak ke tempat tidur, Bintang tidak juga melepas tekukkan pada wajah nya. Jangan kan tidur sambil berpelukan, pria besarnya malah berbaring memunggungi nya.
Kenyataan yang menohok untuk Bellaetrix. Kini justru dia yang susah untuk terpejam. Dia rindu pada pria yang kini sedang dia tatap punggungnya. Dia rindu di cium, dan di peluk erat oleh Bintang.
Setetes air bening melesat dari matanya. Sudut hatinya sedih, Bintang tidak memperdulikan nya. Bahkan saat makan malam tadi, Bintang juga tidak memaksa Bee untuk menghabiskan sayur nya seperti mana biasa nya. Pria itu menunduk menikmati makanannya sendiri, setelah selesai bangkit meninggalkan Bee di sana.
Kakak, jangan cuekin aku, please..