
Pernikahan yang di jalani Kinan benar-benar di seperti di neraka. Bayangkan saja, Pada malam pernikahannya dia di seret paksa untuk kembali bersama suami brengsek nya. Mungkin itu hal yang wajar bagi orang, kalau pengantin itu kembali bersama karena ingin berdua menghabiskan malam pertama nya, tapi ini tidak. Selepas membuka passcode, melempar jas nya ke sofa dan masuk ke dalam kamar.
Sementara Kinan, masih terbengong, berdiri memegang kopernya sembari mengamati sekeliling. Apartemen itu tidak terlalu luas, tapi tidak juga kecil. Buat mereka berdua itu sudah lebih cukup.
Pengamatannya terhenti kala Piter keluar dari kamar dan sudah berganti pakaian. Tampak rapi dan juga wangi seperi biasanya.
Kinan masih menunggu pria itu akan buka suara, tapi itu hanya jadi harapan. Dengan santai Piter melenggang pergi tanpa mengatakan apa pun pada Kinan seolah dia memang tidak tampak di ruangan itu.
Blam!
Suara pintu yang tertutup menjadi penanda untuk air matanya boleh turun. Kesedihan yang sejak di hari pernikahan nya itu dia sembunyikan, kini sudah tidak tertahan. Tubuhnya jatuh bersimpuh ke lantai, menggengam handle koper nya dan menangis terisak.
Dan kini sudah sebulan sejak pernikahan itu, tidak ada yang berubah. Kedua nya tetap bak orang asing yang di tuntut untuk tinggal seatap.
Walau keduanya tidur di ranjang yang sama, tapi tidak sekalipun ada percakapan sebelum tidur. Bahkan untuk bicara setiap hari nya bisa di hitung dengan jari berapa kata yang mereka keluarkan.
Pagi nya Kinan akan berangkat ke kantor, begitu pun Piter. Di Minggu pertama, Kinan tidak memperdulikan nya, pergi begitu saja tanpa menyiapkan sarapan, begitu pun malam nya, dia tidak akan perlu repot-repot untuk memasak makan malam, karena toh Piter tidak akan pernah pulang di bawah jam sebelas malam.
Tapi masuk Minggu kedua, setelah papa nya datang berkunjung dan mengatakan begitu bahagia melihat nya sudah berkeluarga dan menjadi istri, Kinan berubah. Dengan menjadi istri yang baik, mungkin sikap Piter akan mencair, dan rumah tangga ini bisa di selamat kan demi anak mereka dan juga kebahagiaan papa nya.
Mulai lah Kinan menjalankan rutinitas. Menyiapkan sarapan dan juga mengurus pakaian yang akan di siap kan Piter.
Beruntung nya, Piter selalu menerima tanpa mengejeknya akan perubahan diri Kinan. Untuk cinta pria itu, tidak lah di harapkan Kinan karena dia pun tahu itu tidak mungkin, walau jauh di lubuk hati Kinan berharap Piter mau menganggapnya, setidaknya sebagai ibu anak nya.
"Aku pergi dulu" ucap Piter membersihkan mulut nya dengan tisu.
"Apa kau akan pulang untuk makan malam nanti?" tanya Kinan tanpa mengalihkan pandangannya pada Piter.
Pertanyaan pertama dari dua Minggu kebersamaan mereka. Piter diam untuk sesaat, lalu entah siapa yang memerintahkan nya, dia pun mengangguk lalu menyambar jas nya dan berlalu.
Samar Kinan menyunggingkan senyum di bibir nya. Mungkin jawaban atas doa nya mulai terkabul.
Setelah hari itu, setiap malam Piter akan memakan masakan Kinan walau jam berapa pun dia tiba di rumah. Dan Kinan akan dengan senang hati menemani nya bersantap.
"Kinan, kaos kaki ku mana?" teriak nya dari dalam kamar. Tapi yang di tanya tidak mendengar karena deras nya suara air yang mengalir dari keran.
Semalam, entah mengapa Piter enggan untuk singgah ke tempat Kirei dan langsung pulang. Kebetulan Piter juga memang memiliki banyak pekerjaan, harus membaca dan memeriksa berkas yang akan di jadikan bukti di pengadilan nanti.
Setelah mata nya lelah membaca, Piter beranjak menuju dapur. Rasa haus membuat nya harus menunda pekerjaan untuk sesaat. Saat ingin kembali ke ruang kerja nya, dia melihat Kinan yang telungkup menatap layar laptopnya sembari tersenyum manis. Dari suara asing yang keluar dari video yang di putar itu, Piter menebak Kinan sedang larut dalam alur drama Korea nya.
Tapi bukan itu yang menarik perhatian Piter. Tapi daster Kinan yang tersingkap ke atas memamerkan paha mulusnya. Itu saja sudah membuat nya menegang. Parah.
Tapi tidak bisa menyalahkan Piter seratus persen. Dia pria yang seminggu sekali pasti cuci baut bersama Kirei, dan kini sudah dua Minggu dia tidak melakukan pelepasan.
Aneh, tapi itu yang kini tengah dialami Piter. Pada malam pengantin nya, Piter sudah aka. melebur bersama Kirei, tapi entah mengapa ada dorongan dalam hatinya untuk segera pulang. Hal itu karena dia mengkhawatirkan Kinan yang sendiri di rumah, tapi tentu saja dia tidak mau mengakui alasan itu.
Pada Kirei, dia memberi alasan untuk segera pulang karena janji pada ibunya. Dia tidak ingin ibu mengetahui dia sudah meninggalkan Kinan pada malam pertama mereka.
Dan karena paha mulus yang terekspos itu, tadi malam Piter tanpa sadar mimpi basah yang berakibat bangun kesiangan.
"Nan, mana kaos kakiku" ulang nya semakin tidak sabar. Baru lah setelah keran air di matikan Kinan bisa mendengar suara ketukan di pintu dan segera keluar hanya dengan lilitan handuk di tubuhnya.
Keduanya diam saling tatap. Dua Minggu bersama, baru kali ini Piter melihat tubuh mulus Kinan. Berbeda dengan Kinan, pria itu bisa dengan seenaknya mondar mandir di rumah hanya mengenakan Boxer saja.
"Mana kaos kaki gue?"
"Itu dalam sepatu"
Piter memejamkan matanya. Kenapa dia tidak kepikiran kalau kaos kaki itu sudah di masukkan dalam sepatu nya. Dan yang buat Piter betah berlama-lama memejamkan matanya karena tidak tahan melihat tubu menggoda Kinan. Wangi lavender itu bahkan menarik insting ke-laki-lakian Piter untuk membebaskan tubuh Kinan dari handuk sialan itu.
"Apa lagi? kok jadi bengong gitu?" Kinan yang tidak mengerti masalah Piter berjalan menuju lemari. Membuka pintunya dan sedikit berjinjit mengambil kemeja pada rak atas.
Sial bagi Kinan tapi untung bagi Piter, handuk yang di pakai Kinan lepas dan Piter dengan puas bisa melihat tubuh mulus itu dari belakang. Susah payah Piter harus menelan Saliva nya akan apa yang tengah di suguhkan padanya.
Setelah mati Kinan malu, mengambil handuk tang jatuh di lantai, lalu memakainya kembali. Tergesa-gesa mengambil pakaiannya dan masuk kembali ke kamar mandi.
Untuk menghindari Piter, Kinan berlama-lama berdandan. Dia tidak mungkin bisa sarapan bersama tanpa timbul perasaan malu.
"Aku berangkat" teriakan itu diiringi bunyi pintu tertutup, baru lah Kinan bisa bernafas lega. Namun detak jantungnya masih belum stabil meski orang yang menyebabkan sudah pergi.