
Langkah Bee di anak tangga terakhir berhenti, saat ponselnya berdering. Tante Di..
"Iya tan?"
"Nanti pulang sekolah tante jemput, jangan kelayapan" suara tante Di benar-benar dingin tak bersahabat, dan Bee tahu alasannya.
Setelah sambungan di putus sepihak oleh tante Di, Bee melanjutkan langkahnya menuju meja makan. Seperti biasa bonus sarapan pagi nya ada di sana. Pria tampan itu begitu memukau.
Tampan banget..dan dia suami gue..eh??!
Mengusir cepat pikiran aneh nya, Bee kembali bersikap biasa. Bukannya dia tak ingat, saat adzan Maghrib berkumandang di luar sana, baru lah mereka terbangun tadi malam. Berpelukan dan masih menggunakan seragam masing-masing.
Merasa kikuk, makan malam pun, Bee memilih untuk menghabiskan nya di tempat tidur. Alasan kepala masih pening, meminta pelayan untuk membawa makan malam ke kamarnya. Tentu saja untuk menghindari Bintang. Syukur nya Bintang tak memaksanya untuk turun.
"Pagi.." sapa Bintang seperti biasa.
"Pa-gi.." Gila ya gue, masa se nervous gini?siapa dia?!
"Hari ini diantar sama supir, ga boleh bantah. Bila perlu ke sekolah kamu didampingi dokter" ucap Bintang menatap Bee.
Dahi Bee sudah berkerut duluan, menandakan aksi protesnya. "Ga bisa gitu dong kak, buat malu aja. Ga sekalian gue ke sekolah naik ambulance?"
"Ide bagus, buat jaga-jaga kalau kamu pingsan lagi" sahut Bintang menyembunyikan senyum geli nya. Kebahagiaan tersendiri yang dia dapat setiap menggoda istrinya, Bee akan memonyongkan bibirnya tanda kesal.
"Nanti tante Di jemput, mau selesaikan pemotretan dengan pihak Rain corp" ucap Bee sembari mengoles roti nya dengan sedikit selai nanas. Meminum susu diet dengan cepat.
"Kamu hanya makan itu?" Bintang masih memperhatikan setiap gerak Bee. Anggukan tanpa menoleh sudah biasa di lakukan gadis itu.
"Jadi gimana, boleh kan gue ga usah diantar?" wajah Bee begitu lucu saat mengunyah roti nya sekaligus, membuat mulut nya tampak penuh dan membuat bola matanya membulat sempurna.
"Tetap diantar. Nanti Riko hubungi tante Di biar di jemput aja sekalian sebelum ke sekolah kamu"
Hendak membuka mulut nya kembali untuk protes, Bee teringat tadi malam pembicaraan nya dengan Elang yang mengajak untuk ketemuan.
"Pulang dari pemotretan, gue mau ketemu teman, boleh?"
"Siapa?" alis Bintang menyatu. Setiap Bee ingin bertemu dengan temannya, jantung nya akan mulai berdebar cepat. Ada takut, mungkin berlebihan, tapi Bintang hanya ingin Bee untuk nya.
"Mmm...Elang.." jawab Bee ragu.
"Teman?" kembali alis Bintang naik satu tingkat.
"Kan ga lucu gue bilang pacar di depan para pelayan" rungut nya kesal karena Bintang masih saja memperjelas.
"Ga boleh!"
"Kok gitu? kan ga ada larangan buat buat ketemu Elang. Ingat kak, gue masih punya salinan kontrak" berang Bee mengepalkan tangan.
"Aku ingat semua isi dari kontrak sialan itu, tidak perlu kamu mengingat kan. Justru kamu yang lupa manis, kamu boleh ketemu dengan nya kalau seizin ku" balas nya santai.
"Jadi boleh kah hamba ketemu sama Elang ga yang mulia?" sarkas Bee melotot tajam.
Siluet senyum Bintang masih sempat di tangkap Bee, hingga membuat Bee bertambah kesal.
"Ok, boleh..asal tidak berduaan, ditemani tante Di, atau Mira, yang aku tunjuk sebagai pelayan pribadimu. Dan tidak lebih dari satu jam!" ucap mengamati reaksi Bee.
"Dasar om gila! gimana ceritanya pacaran di temani, emang lagi karya wisata?" Bee benar-benar kehabisan kesabarannya.
"Take it or leave it!" Bintang sudah berdiri beranjak menuju mobil. Bee bergegas mengekor dari belakang.
"Ok, Fine. Gue ajak Mirna, dasar brengsek!" Bee berlalu lebih dulu masuk ke dalam mobil nya menuju sekolah.
***
"Selamat ya Bella atas pernikahan mu dengan kak Bintang" ucap Sky saat mereka tinggal berdua di ruang make up.
"Kamu tahu Sky?"
Sky hanya mengangguk sembari tersenyum ke arah Bee.
"Dan pasti dari kak Bintang? dasar om mesum gila, pake acara cerita lagi, ember banget sih itu mulut" geram nya membuat Sky tertawa.
"Kamu tenang aja Bella.."
"Panggil Bee aja, biar lebih dekat.." potong Bee tersenyum.
"Kamu ga usah khawatir Bee, kami ibarat bayangan Bintang, bisa di percayai"ucap nya tersenyum.
Lama Bee menunduk. Malu. Jika Sky tahu dia dan Bintang sudah menikah, pasti Sky juga tahu kalau pernikahan mereka hanya kontrak setahun.
Wanita mana yang tidak malu menjadi istri kontrak, terlebih hanya untuk setahun. Menukar tubuhnya untuk melahirkan pewaris untuk seorang pria yang beri imbalan uang? Sejatinya harga diri Bee lah yang di beli Bintang.
"Kamu kenapa Bee?" tangan Sky menyentuh lengan Bee yang tiba-tiba tampak murung.
"Kamu juga pasti tahu, alasan kami nikah?" tanya nya lemah.
Sky hanya tersenyum, lalu mengangguk. "Kamu pasti jijik ya sama aku?"
"Kenapa harus begitu? itu hak kalian. Takdir siapa yang tahu kan?siapa tahu ternyata kalian ditakdirkan untuk bersama?" goda Sky tersenyum.
"Ga bakal deh Sky. Aku udah punya orang yang aku cintai. Setelah kontrak ini selesai, kita juga bakal cerai" Kalimat terakhir justru mendatangkan kesedihan tersendiri di hatinya yang dia sendiri tak tahu mengapa.
***
"******, kemana aja sih Lo, lama bener baru ngangkat?" Raung Bintang setelah berkali-kali menghubungi Bumi dan akhirnya diangkat.
"Santai Woi..nyolot amat! udah kayak orang seminggu ga **** aja Lo" jawab Bumi cuek.
"Diam Lo. Bee masih di sana?"
"Oh..nyariin bini nya toh..udah cabut dari tadi."
"Pemotretan nya udah kelar? lancar? dia ga sampai kelelahan kan?" cerca Bintang.
"Idih..kepo amat..gila ya, se bucin itu Lo sekarang? hahaha.." suara tawa Bumi masih menggema di seberang sana.
"Diam Lo. udah, kirimin gue file nya, buru" desak Bintang.
"Enak aja perintah gue, emang lo siapa?" balas Bumi ga mau kalah.
"Buruan nyet!" Bintang langsung menutup teleponnya. Tak lama email dari Bumi dia terima.
Hanya dengan melihat photo nya saja, Bintang sudah deg-degan. Jantung nya berdetak kencang. Tanpa sadar jemari nya membelai layar laptop nya yang menampakkan wajah cantik Bee.
Selanjutnya salah satu photo Bee sudah di set nya menjadi wallpaper di laptopnya. Cengengesan, senyum-senyum sendiri sudah kayak anak ABG jatuh cinta.
Tapi senyum itu sejurus kemudian layu, raut wajahnya seketika berubah mengingat hari ini Bee akan pergi menemui Elang. Genggaman nya mengepal di sisi tubuhnya.
Segera dia menghubungi anak buah nya, menanyakan keberadaan Bee.
"Ikuti terus. Jika ada kontak fisik, walau hanya pegangan tangan, langsung bereskan!"