
Sisa masa skors di habis kan Bee di rumah. Dia ingin jadi gadis penurut yang tidak ingin membangkitkan kembali amarah Bintang. (Untuk saat ini).
Apa lagi karena selama tiga hari ini juga Bintang mendiaminya. Sepatah kata pun tak terdengar suara Bintang di rumah. Pria itu setiap hari nya pulang larut. Jika pada pagi hari Bee akan sengaja bangun pagi, berniat menemaninya sarapan, memakai pakaian menggoda, tetap saja Bintang tak meliriknya. Sarapan dengan diam. Hanya lima menit setelah Bee duduk di sebelahnya, pria itu akan langsung bangkit pergi ke kantor tanpa mengatakan apa pun.
Bee kesal. Dia tak menyangka Bintang berhasil menghukum nya lebih sakit dari hukuman fisik.
"Jalan yok, ga bosan Lo di rumah terus?" tanya Kiki lewat telpon.
"Gue lagi di hukum, ga boleh keluar rumah" jawab Bee. Dia memang tak ingin keluar, yang pasti nya membuat Bintang semakin marah.
"Sama Tante Di?"
"Sama suam..iya lah tante Di" ralat Bee cepat. Jantung nya berdebar dengan sangat kencang karena kepeleset ngomong.
Aduh..bibir gue kalau ngomong..Kiki ngeh ga yah?
"Kok gue dengarnya suam? suam apa?" susul Kiki.
"Salah dengar Lo. Gue bilang tante Di kok. Btw Lo kok telponin gue? bukan nya sekarang lagi belajar?" Bee melirik jam dinding besar di kamar nya. Pukul 11 siang.
"Gue cabut. Malas gue Lo ga ada. Lo tahu sendiri teman gue cuma sebiji. Ya Lo ini"
"So sweet..ok beibeh..tunggu besok gue datang ya. Sekarang lo dimana?"
"Gramed"
"Baca buku?" Bee seolah tak percaya, sahabat nya itu cabut dan milih nongkrong di toko buku. Kiki dan buku itu ibarat air dan minyak, susah bersatu nya.
"Ngadem lah..gue butuh tempat sepi" terdengar suara sedih diseberang sana. Bee bisa menebak, gadis itu pasti sedang ada masalah.
***
Bee sudah menunggu kepulangan Bintang sejak satu jam lalu, tapi hingga saat ini pria itu belum juga muncul. Dengan gelisah gadis itu kembali melirik jam yang berdiri tegak di sudut ruangan. Pukul sembilan malam.
"Mau dia apa sih, kok jam segini belum pulang? apa dia ga tahu kalau gue mau ngomong serius sama dia?" cicitnya kesal. Saat mandi sore tadi, Bee sudah memutuskan untuk bicara pada Bintang. Dia ga tahan harus didiaminya terus begini. Bee kesepian. Bee rindu suara pria itu. Nah kan...
"Nya, makan dulu. Udah jam sembilan nyonya belum makan" ucap Mira yang dengan setia menemani Bee ber gelisah- ria.
Majikannya gelisah menanti sang suami, pelayannya gelisah takut tuan nya marah kalau sampai tahu nyonya muda nya belum makan malam sampai saat ini.
Bintang memang mendiaminya, tapi setiap detail gerakan gadis itu terus di pantau. Melihat tingkah gadis itu yang suka memasang wajah aneh dan lucu menjadi hiburan tersendiri bagi Bintang. Dia tak mau lagi kecolongan, tanpa sepengetahuan Bee, pria itu suka mengamati segala kegiatannya lewat cctv yang langsung di sambungkan ke ponselnya.
Belum juga membuat Mira menjadi boneka manekin nya. Mendandani wajah dan memakai kan pakaian dirinya pada Mira. Wajah pelayannya itu hanya bisa pasrah di jadikan bahan praktek. Walau geli melihat tingkah bos nya yang bucin parah hingga harus men stalking sang istri, namun yang dia sadari bos nya begitu bahagia dengan pernikahannya ini, dan Riko juga ikut senang.
Dan kini. Bintang masih senyum-senyum melihat ke layar ponselnya. Melihat gadis itu mondar-mandir di ruang tamu. Bintang tahu, istrinya menunggunya. Dia juga tahu kalau selama tiga hari ini, Bee sedang cari cara untuk mengajaknya bicara.
Jangan lupakan tingkah menggoda Bee padanya. Tidak biasanya gadis itu turun untuk makan malam dengan menggunakan gaun indah dengan belahan panjang di dada hingga menuju perutnya, memamerkan dua gundukan indah nya.
Panas dingin Bintang menahan diri untuk tidak menarik gadis itu ke kamar, lalu menelanjangi nya dan memasuki tubuh gadis itu. Itu lah sebabnya, setiap mereka berdua duduk di meja makan, Bintang akan langsung pergi. Dia ingin Bee datang padanya dengan suka rela.
Rindu untuk menyentuh gadis itu menyerangnya setiap saat. Terlebih tadi pagi, Bintang tahu kalau itu isyarat buatnya, namun gadis itu menggunakan Mira sebagai alat baginya menyampaikan pesan.
"Mir, setelah bersih haid kok aku pengen makan eskrim vanila ya?" ucapnya melirik tipis ke arah Bintang dengan menekan kan pada kalimat yang menyatakan dia sudah selesai datang bulan. Goda an yang membakar jiwa mesum Bintang.
Sikap cuek Bintang yang ditunjukkan seolah tak perduli, membuat Bee berang. Selepas Bintang pergi, gadis itu tidak menyelesaikan makannya, melempar sendok dengan kesal ke atas meja, dan berlari menaiki tangga kamarnya.
Ingin sekali Bintang segera pulang. Menerima ajakan perdamaian gadis itu. Semangat empat lima, Bintang keluar dari ruangan nya menuju lift. Riko juga ikut beranjak dari duduknya yang sedari tadi sudah menunggu sang tuan muda di meja FO.
"Kenapa belum pulang?" tanya Bintang masuk ke dalam lift yang sudah terbuka di susul Riko.
Tak perlu menjawab hanya dengan senyuman dan Bintang tahu alasannya. Asistennya itu terlalu setia padanya. Mana mungkin Riko pulang kalau Bintang juga belum pulang.
Di tengah perjalanan, Ryan menelponnya mengajak bertemu karena ada hal penting yang ingin di bahas, mengenai Bumi. Belakangan sahabat nya itu sedang ada masalah dengan rumah tangga nya.
Terpaksa Bintang harus menunda kepulangannya ke rumah untuk bertemu istrinya.
Pukul dua belas malam lewat lima belas, baru Bintang menjejakkan kaki di rumah. Pak Jarwo menyambutnya kedatangan tuan muda di teras rumah. Penerangan ruangan itu sedikit temaram, karena hanya lampu hias yang dihidupkan. Hingga saat melewati sofa di ruang tamu, Bintang tidak melihat Bee yang tertidur di sana.
"Nyony-a" pekik pak Jarwo tertahan. Tidak menyangka nyonya muda nya tidur di sana. Bintang pasti tidak suka melihat hal itu, dan pasti akan menegur mereka, yang lalai mengurus istri keras kepalanya.
"Sejak kapan dia kalian biarkan tidur di sini? kenapa tidak membangunkan nya. Mana Mira?" ucap nya tertahan, tak ingin membangunkan Bee.
Orang yang di cari akhirnya dengan sendirinya keluar dengan tergopoh-gopoh. "Maaf tuan, saya tadi ke toilet" ucap nya takut, menunduk kepala tak berani beradu tatap dengan majikan nya yang seram.
"Kenapa tidak kamu bangunkan dia?"
"Saya udah bujuk nyonya untuk tidur di kamar, tapi katanya, ingin menunggu tuan pulang"
Tak ingin berdebat dengan para pelayan, Bintang perlahan menggendong tubuh Bee ke kamar. Meletakkannya di atas kasur dan menyelimuti.
"Kenapa cinta ku begitu besar padamu? sementara sepersepuluh dari perasaan ku pun tidak ada kau miliki. Mencintai mu adalah kesalahan termanis yang aku lakukan" bisik Bintang sebelum berlalu dari sana.