Sold

Sold
Dijodohkan



Bee begitu gembira, rasa ya semua jalan untuk bersama dengan pujaan hatinya begitu terbuka lebar. Dengan suka cita Bee melangkah masuk ke dalam rumahnya, setelah bayangan Elang menghilang bersama motornya di balik tikungan.


"Dari mana saja kau?jam berapa ini ?" hardik Hutomo dengan wajah marah.


"Papa..maaf, tadi aku jalan dengan Elang, hanya makan nongkrong menemaninya nya nge band pa" sahut Bee sedikit ketakutan. Semenjak datang hingga sudah seminggu di sini, Bee sama sekali tidak merasakan kasih papa nya. Tak ada rasa gembira akan kedatangannya, justru selalu marah padanya tanpa sebab.


"Jawab papa, apa yang papa dengar itu benar?kamu pacaran sama Elang?" salak papa yang membuat jantung Bee berdegub kencang.


"I-iya pa.."


"Putuskan dia sekarang juga, dan jangan pernah berfikir kau bisa bersama nya" amarah papa masih di peringkat pertama. Bee juga bisa mencium bau alkohol yang sudah biasa dia cium saat di dekat papanya.


"Kenapa pa? aku mencintai Elang pa" kini Bee sudah mulai punya keberanian. Permintaan untuk berpisah dengan Elang tentu saja membuatnya berang. Dia sudah sejauh ini, dan sekarang setelah mendapatkan pria idamannya justru papa nya meminta untuk meninggalkan Elang? demi apa pun dia tak Sudi!


"Jangan banyak tanya. Pokonya putuskan hubungan mu dengan si br*ngsek itu!" gelegar suara papa seperti petir yang menyambar.


"Tapi apa alasannya papa?" air mata Bee sudah meleleh di pipinya.


"Kau sudah ku jodohkan dengan seseorang. Dan kau akan menikah dengannya!"


Duar!


Rasanya seperti mimpi. Ya..ini mimpi. Nanti juga kalau bangun, semua akan baik-baik saja. Bee terduduk di lantai. Mencoba mempertahankan kesadarannya. Memilah setiap ucapan papa yang baru saja merajam hati nya.


"Pa.." banyak yang ingin dia ucapkan, banyak pertanyaan yang berseliweran di kepalanya, tapi lidah nya keluh. Tak tahu yang mana harus di ucapkan nya lebih dulu.


"Jangan banyak tanya lagi Bee. Itu yang saat ini perlu kau ketahui. Putuskan Elang, lupakan pria itu. Dan persiapkan dirimu, menyambut calon suamimu"


Bee ingin menjerit, memaki, membuat kegaduhan, membakar rumah itu jika perlu, tapi yang dia lakukan hanya menunduk, dan terus menangis. Mengunci rapat mulutnya.


***


Dua hari kemudian tante Di datang ke Pekanbaru atas permintaan Hutomo. Lama keduanya berbicara di ruang kerja papanya, tanpa mengikutkan Bee, yang memang gadis itu tak perduli akan apa yang dia bahas.


Sudah dua hari juga Bee mengurung diri dikamar. Hanya bisa menangis dan meratap sedih. Pada teman-teman nya yang mengajak jalan, Bee minta maaf dengan alasan pergi dengan papanya ke kebun mereka, Bee tak bisa ikut jalan bersama mereka.


Pun dengan Elang yang terus menghubungi nya, mempertanyakan kenapa gadis itu seolah menghindarinya.


"Kamu sakit Bee?" tanya Elang saat gadis itu sudah mau menjawab telponnya.


"Iya Lang, maaf kemarin batalin janji tiba-tiba"


"Ga papa, sekarang keadaan kamu gimana?aku ke rumah kamu sekarang ya?" pinta Elang.


"Ja-jangan ga usah Lang"


"Tapi aku khawatir banget sama kamu Be. Aku juga kangen banget sama kamu. Pengen ketemu kamu" desak Elang.


Berfikir sejenak, Bee akhirnya memutuskan memenuhi permintaan pria itu.


"Ya udah, aku aja yang nemuin kamu, kita ketemu di tempat kemarin ya" ucap nya menutup telpon.


"Bee..akhirnya kamu datang" Elang menarik tangan gadis itu untuk duduk di dekatnya.


"Ada yang mau aku omongin serius sama kamu Lang" ucapnya dengan suara sedih. Dalam semalam kebahagiaan nya hancur berkeping-keping, meninggalkan duka dan air mata.


Elang menuntun Bee ke tempat yang lebih sepi, di belakang ruko itu ada lahan kosong. Ada bangku yang terbuat dari tong yang di belah dua.


"Lang, aku bingung harus mulai dari mana. Tapi sebelum aku menceritakan semua nya padamu. Aku ingin kepastian. Lang..kamu benar kan cinta sama ku?"


"Tentu saja Bee, sebenarnya ada apa?"


"Kamu serius kan sama aku?"


"Ayo lah Bee, jangan main rahasia-rahasia gini, langsung ngomong dong, aku penasaran nih" desak Elang menatap gadis itu, nampak raut sedih dan putus asa tergambar di wajah cantik yang biasa nya ceria.


"Lang..ayo kita nikah sekarang juga"


Hampir saja Elang tertawa, mengira ucapan Bee hanya lelucon yang ingin menggodanya. Namun tak jadi tertawa, karena air mata Bee sudah menetes di pipi mulus itu.


"Ada apa sebenarnya Bee?"


"Papa menjodohkan ku dengan pria lain!" Isak nya.


"Dengan siapa? kamu bahkan baru seminggu di sini. Siapa yang melamar mu Bee?kamu bahkan belum tamat sekolah Bee. Lelucon apa ini?" ujarnya bingung. Kalau Bee ingin mempermainkannya, tidak mungkin gadis itu sampai meneteskan air matanya.


"Aku ga tahu Lang..aku bahkan ga kenal. Papa hanya menyuruhku untuk putus dengan mu, karena sudah di jodohkan dan akan segera di nikahkan!" suara Bee tercekat, meratapi nasib nya yang di begitu menyediakan.


"Udah Bee, jangan nangis lagi. Mungkin ini hanya ucapan asal papa mu, agar kamu ga pacaran dulu, biar serius dengan sekolah dan karier model mu" ucap nya lembut menenangkan.


Sejenak Bee berfikir, bisa jadi apa yang dikatakan Elang benar. Ini hanya gertakan papa. Tapi kalau ternyata benar gimana?


"Tapi Lang, kalau benar gimana?atau kita tunangan aja dulu. Kamu tunjukkan keseriusan mu pada papa?"


Elang dengan berat hati harus mengangguk. Menyetujui permintaan Bee. Dia adalah pria yang memegang ucapannya, lagi pula dia juga sudah menyukai gadis itu.


"Baik, sampaikan pada papa mu, besok aku bersama keluarga ku untuk melamar mu" ucap Elang yang akhirnya berhasil menerbitkan senyuman Bee kembali.


Setelah itu, kedua nya kembali menghabis kan satu hari itu bersama. Menemani Elang untuk tampil mengisi acara di Mall Pekanbaru, hingga tak terasa langit sudah gelap.


"Aku singgah ya" pinta Elang saat mereka sudah tiba di depan rumah Bee.


"Ga usah ya Lang. Biar malam ini aku omongin dulu sama papa tentang kedatangan kalian besok"


Elang mengangguk. Menyetujui permintaan gadisnya. Setelah mencium puncak kepala Bee, Elang pamit pulang. Dengan perasaan sedikit gamang, Bee melangkah masuk. Suasana sepi. Hanya bi Jum yang dia lihat sedang mencuci alat makan.


"Tante Di dan papa mana bi?"


"Ada di ruang kerja tuan, non" segera Bee menuju ruang kerja papa nya. Dia tak ingin menunda lagi, dia harus membujuk papa nya untuk menyetujui hubungan mereka dan menerima lamaran keluarga Elang yang akan datang besok.