
Tak sekalipun Elang akan menduga hari itu akan datang. Hari dimana dia merasa dilema. Untuk menerima sudah pasti dia tak sudi, menolak, maka hati Bee akan kecewa padanya.
"Maksud kamu apa sih Bee? aku ga paham" ucap Elang mematikan rokoknya yang masih tinggal setengah.
"Maksud aku, Kalau kamu bisa terima aku, maka kamu juga harus bisa terima Saga" Bee mengigit bibir bawahnya. Takut kalau apa yang dia ucapkan akan membuat Elang marah padanya.
"Kau sudah gila ya. Kamu bicara omong kosong apa?" hardik Elang mulai tersulut emosi.
"Aku ga gila Lang. Aku udah coba untuk menjaga jarak pada bayi itu, untuk tidak sayang padanya, nyatanya aku ga bisa! bahkan saat aku di Malang, walau hanya dua hari, aku bahkan seperti kehilangan gairah hidupku..Aku ga bisa lepas dari Saga Lang" wajah Bee memucat. Rahang pria itu mengeras.
"Ga bisa. Aku ga bisa terima anak itu bersama kita. Lagian apa kamu pikir pria itu akan meyerahkan anak itu?" Elang menendang kaleng minuman yang menggelinding ke arahnya.
"Aku akan bujuk Bintang. Aku yakin dia akan izin kan. Atau paling tidak sampai anak itu besar, lima tahun.. hanya sampai umur nya lima tahun Lang..aku mohon" ucap Bee memelas. Mendekat pada Elang, menarik tangan pria itu lalu membawa ke dadanya.
Perlakuan Elang justru membuat Bee semakin sedih. Dengan kasar Elang menarik tangan nya dan mendorong tubuh Bee kasar. Mengambil botol minuman di dalam kulkas lalu menenggaknya kasar.
"Lang.."
"Ga bisa. Pokoknya aku ga setuju kamu bawa anak itu. Kamu mikir dong. Melihat wajah anak itu aku bakal ingat sama bapaknya. Kau tahu sendiri aku sangat benci pria bedebah itu!"
"Kamu egois Lang. Kau bilang kamu sayang sama ku, harus nya kau juga bisa menerima anak ku. Jangan lupa, kau jadi seperti sekarang ini juga berkat kehadiran Saga. Tidak bisa kah sedikit saja kau memberi hati?" seru Bee berani. Dia sudah tidak perduli. Dia tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan nya dengan anaknya.
"Kalau aku tetap tidak setuju?" pancing Elang ingin melihat reaksi Bee.
"Kalau begitu, sebaik nya kita berpisah" ucap Bee menunggu reaksi Elang. Suaranya boleh tegas, tapi hatinya berdoa semoga Elang tidak mengiyakan gertakannya.
Elang tak menggubris. Diam, tidak mengiyakan atau pun menolak. Dia pergi meninggalkan Bee sendiri di sana. Tak lama dari samping, terdengar suara motor.
Bodohnya Bee, hampir satu jam dia masih menunggu kedatangan Elang, tapi pria itu hilang tak berbekas.
Mengingat Saga, Bee memutuskan pulang. Menyerahkan semua nya pada takdir nya.
Sementara jauh di sudut bagian dunia sana, seorang pria yang dengan gagah duduk di kursi kerjanya. Memandang layar ponsel, dengan satu tangan mengepal menahan amarah.
Sejak Bee bergerak meninggalkan kediaman mereka, anak buah Bintang kembali mengikuti Bee. Selanjutnya memberikan kabar menyertakan bukti photo pada Bintang.
Wanita itu sudah membuat kesabaran diambang batas. Berulang kali melanggar perjanjian yang dulu mereka sepakati.
Luka hati Bintang karena Bee seolah tak menganggap nya. Tak seujung kuku pun menghargainya.
Merasa sudah tidak akan ada guna untuk di pertahankan, Bintang menghubungi Riko.
"Tuan.." kehadiran Riko menyadarkan Bintang akan pemikirannya. Dimana hanya ada dia dan Saga.
"Segera selesaikan surat perceraian ku dengan Bee. Aku mau surat itu ada di mejaku dalam Minggu ini" perintah nya dingin. Pikirannya berkecamuk. Masa suram itu akan segera datang. Tapi apa guna untuk tetap berjalan di dalam terang, namun hati merasa kelam?
"Bagaimana masalah harta gono-gini tuan?"
"Berikan apa pun yang dia minta. Aku tak ingin kelak ada orang yang mengatakan tidak berbelas hati pada janda ku" umpat nya mengingat kembali status itu.
Hingga pukul sembilan malam Bintang tak juga pulang. Hati Bee semakin tenang sebelum dia membicarakan soal hak asuh pada Bintang. Sejak pulang dari basecamp Elang, Bee sudah memutuskan akan memohon bahkan melakukan apa pun agar Bintang memberikan hak asuh Saga padanya walau hanya sampai umur anak itu lima tahun.
Katakan lah Bee serakah. Dalam perjanjian dulu, memang di wajibkan setelah melahirkan putra bagi Bintang, maka mereka akan bercerai dan hak asuh jatuh pada Saga. Bee bahkan tidak boleh mengakui dirinya sebagai ibu Saga. Tapi gini, setelah melahirkan anak itu, melihat mata nya saat menatap Bee, dan saat Bee mengasihi, rasa nya luar biasa. Seolah dia sanggup melakukan apa pun di dunia ini demi Saga.
Tapi orang yang di tunggu tak kunjung datang. Bahkan sudah dua hari Bintang tidak pulang. Bee sudah mencoba menghubungi, tapi Bintang tak menjawab.
Itu lah yang kini di lakukan pria itu. Menjauh. Belajar untuk bisa bernafas tanpa ada Bee di sisi nya. Sulit memang, tapi dia tidak punya pilihan lain kan?
Sudah dua hari Apartemen menjadi tujuan akhir nya tiap malam untuk mengistirahatkan tubuhnya. Walau hanya berhasil terpejam empat jam setiap malam nya. Dan itu pun harus di bantu oleh minuman.
"Mir..gimana? kamu udah tanya PJ, kemana Bintang? kenapa dia tidak pulang selama dua hari ini?" tanya Bee setelah Mira sampai di kamarnya.
"Sudah saya korek informasi, tapi PJ juga ga tahu kemana tuan"
"Dasar brengsek. Pasti dia lagi bersama wanita itu" geram nya yang hanya bisa di dengar nya sendiri.
"Mir, kemarin pas aku ke Malang, kemana Bintang membawa mu dan Saga? apa menemui wanita itu?" Mira tentu saja tahu maksud majikannya.
"Bukan Nyah. Yang saya dengar, hari itu nyonya besar bilang mau datang. Kangen sama tuan muda katanya. Tapi tuan Bintang melarang nyonya besar kemari, dan berkata kalau tuan Bintang beserta nyonya yang akan datang ke rumah nyonya besar" terang Mira.
Hari itu memang bu Salma menghubungi Bintang, mengatakan akan datang dan menginap di rumah mereka. Tapi Bintang yang tidak ingin ibu nya tahu bahwa Bee sedang di luar kota, meninggalkan anak mereka yang masih kecil demi pekerjaan. Bintang tidak ingin, Bee buruk di mata Ibu nya, jadi memutuskan untuk datang menemui bu Salma.
Dan saat bu Salma bertanya keberadaan Bee, Bintang mantap menjawab istrinya sedang tidak enak badan, hingga tidak bisa ikut serta. Syukurnya, bu Salma percaya.
Tapi waktu Bee meminta penjelasan kemana mereka pergi, Bintang yang sudah marah mengetahui Elang menemui Bee di Malang, tidak berniat untuk menjelaskan.
Bee terdiam, setelah mendengar penjelasan panjang lebar Mira. Hatinya merasa bersalah sudah menduga Bintang yang tidak-tidak.
Dia hanya bisa berharap, ayah anak nya itu segera pulang, dan mereka bisa memulai perdebatan baru.