Sold

Sold
Pengantin ngambek-an



Seketika wajah Bintang pucat setelah dibisikkan oleh Herman, bahwa Bee tak ingin datang ke hotel, tempat diadakannya pernikahan mereka.


"Kenapa bisa begitu?apa alasannya?" erang nya mengepalkan tinju.


"Maaf Tuan, tapi saya tidak tahu. Tante Di dan tuan Hutomo juga mengetuk pintu, memaksa non Bee keluar, tapi tidak berhasil.


Wajah lelah Bintang begitu terlihat dan kini ditambah berita yang tidak mengenakkan ini membuat emosinya semakin tersulut.


Pagi ini dia tiba di Pekanbaru, setelah kemarin pagi berangkat ke Jakarta untuk mengurus perusahaan yang akan di tipu oleh investor gadungan, namun akhirnya bisa dia selesaikan dengan baik, dan segera kembali ke Pekanbaru hari ini.


Selama di pesawat, Bintang tak sedetikpun bisa terpejam. Rasa lelah nya tak bisa mengalahkan kebahagiaan menjelang hari pernikahan nya. Waktu yang membosankan itu dia habis kan dengan membayangkan wajah calon pengantinnya. Bahkan apa yang mereka lakukan malam terakhir bertemu, membuat inti nya mengeras.


"Herman, Kau urus semua yang ada di sini. Para tamu dan yang lainnya, aku sendiri yang akan menjemput pengantin ku. Riko, ikut gue!" putus Bintang pada kedua asistennya.


Kedatangan Bintang di kediaman Hutomo di sambut tante Di dengan panik, wanita itu bahkan meremas jari-jarinya, karena ulah ponakannya itu.


"Dimana dia tante?" seru Bintang mengontrol emosinya.


"Ada di atas. Tapi Bintang, tante mohon, jangan bersikap kasar padanya. Kata orang tua pamali, di hari pernikahan, calon pengantin ribut, jauh dari kebahagiaan nantinya" ucap tante Di menyentuh lembut pundak pria itu.


Langkah Bintang yang panjang, menaiki anak tangga sekali dua, hanya untuk bisa cepat sampai di depan kamar Bee. Hutomo ada di sana, masih mencoba membujuk putrinya untuk membuka pintu.


"Papa mohon Bee, jangan buat malu papa dan keluarga kita. Kamu kan yang mau menikah dengan Bintang?" seru papa yang tak menyadari calon menantunya sudah berdiri di belakangnya.


"Biar aku.." suara bariton itu menggema.


"Bee, buka pintunya, apa pun yang ingin kamu sampaikan, ayo kita bicarakan. Kalau memang kamu ga mau menikah hari ini, ya udah ga papa, kita batalkan. Tolong buka pintu nya Bee"Bintang masih berusaha tenang. Omongan tante Di benar-benar dia pegang. Bintang takut, rumah tangganya nanti jauh dari kebahagiaan.


Tak ada suara.


"Bee, buka. Aku mohon kamu dewasa, ayo kita bicara. Aku bisa saja mendobrak bahkan membakar rumah ini, tapi aku minta dengan baik-baik, tolong buka pintu nya Bee"


Tak lama terdengar suara kunci pintu yang di putar.


"Tinggalkan kami, jangan ada yang mendekat" perintah Bintang tajam, lebih ke Hutomo.


Gadis itu duduk di tepi tempat tidur, dengan piyamanya.


Bintang duduk di samping gadis itu yang mengerutkan wajah nya. sedetik dua detik..masih diam.


"Apa aku melakukan kesalahan? seingat ku kamu yang datang pada ku untuk mengajak ku menikah" Bintang memulai percakapan. Suara nya begitu tenang. Amarahnya tadi sirna setelah melihat wajah cantik yang akan dia nikahi nya itu.


"Kalau kamu diam, masalah ga akan selesai Bee.." Bintang sudah menyerongkan tubuh nya agar menghadap Bee.


"Kita jadi nikah kan hari ini?" suara memohon Bintang mampu membuat Bee menatapnya.


"Iya, kesal kenapa dulu? aku ada buat salah apa lagi kali ini?"


"Ga tahu, Bodo amat!" salaknya menyandarkan dagunya dengan tangan sebagai penopang.


"Jangan gitu dong, kalau ada yang salah kita bicarakan, jangan di bawa diam" Bintang masih sabar meladeni kekesalan Bee.


"Kemana aja dari kemarin? kenapa baru muncul sekarang? di telpon ga bisa. Ga menghargai gue banget! lo pergi sama sahabat gue Lala, pokok nya gue benci sama elo, gue ga mau nikah sama lo" suara bergetar gadis itu menandakan sebentar lagi dia akan menangis.


Paham lah Bintang kini. Sebaris senyum samar melengkung di wajahnya. Gadis nya cemburu.


Tanpa aba-aba, Bintang sudah menarik tubuh Bee ke pelukannya. Dan benar kan..tangis Bee pecah. Gadis itu dengan tidak malu-malu menangis terisak. Antara lega dan kesal yang dia rasakan pada Bintang.


Lega karena pria itu ada di sini, yang artinya dia ga kawan lari sama Lala seperti dugaannya. Dan kesal karena Bintang hilang tanpa kabar.


"Maafkan aku cantik, aku salah. Harus nya aku mengabari mu lagi. Tapi kesibukanku membuat ku lupa, karena ponsel milik ku juga di pegang Riko, asistenku"


"Pagi sebelum aku berangkat ke Jakarta, aku datang ke sini, meminta tante Di membangunkan mu, karena aku ingin pamit padamu, tapi tante Di bilang kamu susah di bangunin, sudah beberapa kali membangun kan putri tidur ini, tapi tetap ga mau bangun" terang Bintang, mencubit pelan ujung hidung Bee.


"Lalu aku hanya menyampaikan pesan pada tante Di, untuk mengurus pekerjaan ku ke Jakarta" terangnya.


"Tapi tante Di ga ngasih tahu" ucap Bee di sela isakan nya.


Bintang hanya tersenyum melihat tingkah gadis nya yang manja itu.


"Lalu masalah Lala, aku memang pergi dengannya.."


Mendengar kalimat Bintang, Bee melerai pelukannya, melempar tatapan marah.


"Dengar dulu, kami memang pergi bersama, tapi bukan hanya berdua, ada Tya, dan Caca. Aku hanya mengantar mereka ke hotel, kan mereka nanti jadi pagar ayu nya.


Wajah Bee seketika berubah kembali cerah. Tak ada lagi keresahan yang tadi terpancar di matanya. "Jadi, gimana? nikah apa ga nih?" goda Bintang tersenyum.


Hanya melihat senyum pria itu, mampu membuat jantung nya berdebar.


Gila, jantung gue maraton lagi, gimana nanti tiap hari bakal ketemu cowok ini? struk dong gue!


"Kok diam Bee? udah pada nungguin loh, kamu juga belum mandi kan" Bintang masih tetap menggoda Bee, dengan pura-pura mengendus tubuh gadis itu


"Iya, jadi. Udah sana keluar, aku mau mandi" ucap nya melepas genggaman tangan Bintang. Sebelum gadis itu beranjak, Bintang menyempatkan mencium kening Bee. Lama. Hanya pria itu yang tahu, saat itu dia sedang berikrar pada Tuhan, akan selalu mencintai, menjaga dan membahagiakan gadis itu. Dan semoga cinta untuk nya akan segera tumbuh di hati Bee.


Karena menurut tante Di, pengantin pria tidak boleh bertemu sebelum resmi jadi suami istri, maka Bintang di minta lebih dulu pergi ke hotel, sementara Bee menyusul.


Setelah selesai mandi, dengan wajah cemberut nya, tante Di menarik Bee masuk mobil menuju hotel untuk di rias. Pakaian dan semua yang di butuhkan gadis itu, sudah lebih dulu di kirim ke kamar hotel tempatnya di rias. Bee langsung di pegang oleh dua MUA agar makeup gadis itu bisa di selesaikan dengan cepat. Tak ada waktu, gadis itu harus siap dalam setengah jam ke depan.