Sold

Sold
Sang penyelamat



Hari berikutnya, mereka pindah ke pantai Yejele. Pantai yang menjadi salah satu destinasi wisata favorit para pelancong di Kaledonia Baru. Pantai ini mempunyai perairan pirus yang menawan dan hamparan pantai berpasir yang mengesankan.


Entah dari mana Bintang tahu tempat mempesona ini, yang pasti Bee tidak akan melupakan keindahan tempat ini. Pantai Yejele terletak di pulau Mare.


Pantai ini di padati orang dari berbagai negara yang ingin menikmati hidup atau sekedar melepas penat akan rutinitas mereka.


Dan lagi-lagi Bee terpesona akan tempat mewah yang menjadi tempat tinggal mereka di pantai itu. Di sana juga terdapat tempat-tempat yang menawarkan berbagai layanan pijit untuk wisatawan lengkap dengan bir dingin dan jenis makanan yang menemani yang di pastikan enak-enak, dan jangan lupakan berbagai produk kerajinan tangan yang pasti akan di borong Bee nanti untuk semua kerabat di Jakarta.


Bee begitu betah di sana. Bahkan ini sudah hari ke empat mereka menetap. Bintang mengajak untuk menelusuri pantai dan tempat indah lainnya di Kaledonia baru, tapi Bee menolak. Masih ingin di sini. Bukan tanpa alasan, karena di tempat itu banyak masyarakat nya yang berbahasa Jawa dan tidak sedikit yang masih fasih berbahasa Indonesia.


Tidak heran, karena suku Jawa dulu di bawa ke sini sebagai pekerja. Lambat laun menetap dan beranak cucu di sini hingga membuat tempat ini seolah menjadi tanah kelahiran mereka. Menikah dengan bule warga negara Prancis atau negara lainnya juga banyak. Tinggal di sana membuat Bee nyaman seolah dia ada di negaranya saat mendengar percakapan masyarakat setempat.


"Kak, ayo berenang" ajak Bee setelah Bintang selesai mengoleskan sunblock ke tubuh istrinya. "Nanti aja ya yang, aku ngantuk."


Bee hanya tersenyum. Tadi malam Bintang kembali melakukan aksinya. Mereka main kuda-kudaan hingga subuh yang membuat Bintang kehabisan tenaga. Tidak ada kata tawar, dia ingin pulang dari liburan, Bee harus sudah hamil, jadi mereka harus lebih sering berusaha.


"Ya udah, aku ke sana ya." tunjuk nya ke arah orang-orang yang ramai berenang. Bintang hanya mengangguk. "Titip Saga juga ya kak" ujarnya sebelum berlari dengan Mira menuju pantai.


Bintang melirik ke arah Saga yang tengah dengan santainya menggenjot dodot nya. Bintang tersenyum pada Saga, mencubit pipi bocah itu sebelum kembali menyandarkan punggungnya di kursi lipat pantai. Di balik kaca mata hitamnya dia kembali memejamkan mata, mencoba untuk tidur hingga nanti malam punya tenaga membajak sawah milik Bee.


Tampak nya Bintang benar-benar ketiduran hingga tidak sadar, Saga sudah berjalan meninggalkan nya menuju tempat ramai yang tadi di tuju oleh mama nya.


Setapak demi setapak, Saga menyusuri bibir pantai. Namun saat melihat ada bola yang mengapung di pantai, dia berniat untuk mengambilnya. sedikit demi sedikit dia masuk ke dalam air menggapai bola itu. Ujung jarinya sudah menyentuh permukaan bola namun ternyata kakinya semakin dalam masuk ke dalam air hingga batas telinganya. Dan benar saja bocah itu masuk dan kelelep di dalam air. Tangannya berusaha menggapai permukaan berharap bisa naik untuk mengambil udara.


Semua orang yang ada di situ tidak ada yang memperhatikan, bising nya suara musik dari salah satu cafe juga membuat orang tidak menaruh perhatian pada bocah yang diambang Kematian itu.


Ironis nya, Bee ada di dekat sana. Berenang dengan Mira penuh gembira. Nasib baik seorang pria yang baru saja keluar dari cottage nya tengah melintas, di sana. Melihat seorang anak yang sudah megap-megap hampir mati tenggelam. Buru-buru pria itu mengangkat sang bocah yang sudah penuh sesak oleh air yang masuk ke hidung dan mulutnya.


Kalau orang lain sudah mulai bisa tenang melihat Saga yang sudah sadar, tidak dengan pria itu. Dengan telaten dia mengorek isi mulut Saga agar anak itu muntah. Saat itu lah Bee masuk dalam kerumunan orang yang tampak membentuk lingkaran.


"Saga..."jeritnya terduduk di pasir di samping Saga yang tubuhnya sudah di balikkan kembali oleh sang penyelamat.


"Saga.." Bee sudah tampak pucat, air mata nya menetes melihat anak nya yang sudah lemas. Di perhatikan pakaian Saga basah, berarti anak nya sempat tenggelam.


Sang penyelamat itu memperhatikan Bee yang menarik Saga dan menggendongnya, mendekat bayi itu ke dadanya. Pria itu terus mengamati Bee dari atas ke bawah, dia menyimpulkan wanita itu adalah wanita Asia, dan bisa ditebak, wanita itu dari Indonesia.


"Kamu kenal anak ini?" tanya nya menatap wajah Bee. Dengan penuh air matanya Bee mengangguk sambil tetap mendekap Saga yang terus menangis ketakutan. Mungkin juga anak itu mengalami trauma.


"Segera bawa dia ke klinik terdekat di sini" kembali Bee mengangguk, menggendong Saga mengikuti arah klinik yang di tunjuk orang-orang yang menyaksikan kejadian itu.


"Tunggu, pakai ini" pria itu memberikan kemeja nya yang baru dia lepas dari tubuh kekarnya pada Bee. Sekilas Bee memandang ke arah pria itu tidak mengerti.


"Tidak mungkin kau membawanya ke sana dengan memakai bikini basah seperti itu. Berikan anak itu, biar aku gendong" tanpa menunggu persetujuan atau bantahan Bee, pria asing itu sudah menggendong Saga kembali. Bee tidak punya pilihan, apa yang di katakan pria itu benar. Dia memakai dengan cepat kemeja pria itu yang tercium wangi parfum.


Mereka berjalan, keluar dari area pantai menuju klinik yang ada di seberang jalan. Bee tidak perduli dengan rasa sakit di telapak kaki karena tidak mengenakan alas kaki, baginya keselamatan Saga di atas segalanya.


Mira juga tidak hentinya menangis, mengikuti kemana pun Bee pergi. Aneh nya, Saga sudah berhenti menangis di pelukan pria itu. Bee bisa lihat anaknya memeluk leher pria itu dengan erat, membenamkan wajahnya di ceruk leher pria asing yang sudah menyelamatkan nyawanya.


Mungkin karena pria ini yang diingat Saga menolongnya, membuat Saga terus memeluk pria ini. Maafin mama nak. Mama salah sudah meninggalkan mu..


Tiba-tiba Bee ingat pada Bintang. Rahangnya mengeras mengingat Bintang yang sudah teledor menjaga Saga.


"Mir, kamu ingat jalan kembali ke pantai? cari kak Bintang, kasih tahu masalah ini" Mira hanya mengangguk dan pergi membawa kabar pada bos nya. Kabar yang akan mendatangkan awal mula nya bencana.