
Tujuan pertama mereka adalah toko buku berbesar. Bee memerlukan bank soal terbaru untuk di bahas di rumah. UAN sudah dekat, dan dia tak punya waktu untuk bersantai.
Walau guru privat yang mengajarinya tiga kali seminggu sudah di datangkan Bintang ke rumah, tapi Bee juga perlu melatih kemampuan nya dengan menyelesaikan contoh soal dari UAN tahun lalu. Dia kan juga ingin masuk perguruan tinggi yang keren di kota ini. Ketiga temannya juga ingin masuk di kampus yang sama dengannya.
Setelah beberapa buku diambil, dan tentu saja Bintang yang jadi kurir nya, Bee melangkah ke lorong berisi rak komik dan sasarannya adalah komik detektif.
"Emang masih sempat baca itu? kan tiga bulan lagi ujian loh" ucap Bintang menatap wajah Bee yang serius membaca beberapa judul komik yang ada di rak.
"Sempat dong. Kan bosan juga kalau setiap detik aku belajar" cibirnya.
Setelah puas belanja buku dan cemilan, tempat kedua yang ingin di kunjungi Bee adalah SeaWorld.
"Sepi amat.." ucap nya sembari menyalakan radio. Bintang hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu. Paha mulusnya terpampang karena kini dia duduk dengan melipat ke dua kakinya di atas jok mobil.
Perlahan terdengar suara kicauan penyiar radio yang ternyata tengah mewawancarai grup band baru. Dan saat penyiar wanita itu menyebut nama band itu DERAGO, Bee terpekik gembira. "Yeee.. single Elang jadi chart nomor satu di tangga lagu terbanyak di dengar saat ini" teriak Bee mengulang apa yang dikatakan sang penyiar.
Raut wajah Bintang berubah. Aura kebahagiaan seperti baru di hisap oleh Dementor, makhluk menyeramkan yang ada di film Harry Potter.
Dengan bersemangat, Bee mendengar tanya jawab itu. Senyum bahagia tak pernah lepas dari bibirnya. Akhirnya kerja kerasa Elang dan teman-temannya terbayar sudah. Mereka sudah rekaman, dan saat ini sedang tour keliling Indonesia bersama grup band besar lainnya.
Rona merah di pipi Bee tiba-tiba muncul saat Elang menjawab pertanyaan si penyiar. "Sebagai vokalis, pasti banyak di gilai para fans wanita, apa pacar kamu ga marah?"
"Tidak, pacar ku gadis yang luar biasa baik. Dan dia mengerti tentang dunia yang ku jalani saat ini" jawab Elang dengan suara khas yang membuat Bee merindukannya.
"Ada pesan untuk sang pujaan hati?" lanjut si penyiar.
"Bee sayang..aku merindukanmu. Baik-baik di sana. Kita pasti akan segera bersama"
Perasaan Bee melambung. Dia hampir menangis terharu. Namun decitan ban mobil yang tiba-tiba mengerem mendadak membuat nya hampir terjerembab ke dashboard mobil.
"Kakak... apa-apaan sih?" rungut nya
"Sorry, tadi ada anak kucing melintas" ucap Bintang berbohong. Hati nya panas melihat Bee begitu bahagia dengan ucapan pria itu. Setelah beberapa bulan kebersamaan mereka, Bee masih menyimpan erat Elang dalam hatinya.
Mencoba menenangkan hatinya, Bintang kembali menjalankan mobilnya. Mood nya kini yang berubah buruk. Tak sampai di situ, Bintang harus lebih banyak bersabar hati itu. Karena tak lama, Bee sudah memulai percakapan dengan Elang melalui telepon, dengan sejuta kata sayang dan mesra yang mereka lempar satu sama lain.
Gadis itu sama sekali tak memperdulikan Bintang di sisinya. Cuek mengobrol dengan Elang, mana pakai kata sayang lagi yang berhasil semakin membuat Bintang panas.
Menuruti egonya, dia ingin mengambil ponsel itu dan melemparnya melalui kaca mobil, tapi dia tak melakukannya. Dia tak ingin Bee sedih setelahnya, dan hubungan mereka memburuk lagi.
Bucin emang gitu. Tak mengapa sakit dan tersiksa, asal orang yang di sayangi dapat dilihat bahagia. Akhirnya mereka sampai. Bintang sudah memarkirkan mobilnya.
"Ayo turun" ucap Bintang datar.
"Udah dulu ya sayang. Aku udah sampai. Nanti malam kita telponan lagi. Bye.." Bee menutup ponselnya dan membuka seatbelt nya. Bintang hanya melirik lewat kaca spion. Ini bukan dirinya. Lihatlah betapa bersabar nya dia. Bak pria tanpa harga diri di perlakukan begitu oleh istrinya sendiri.
Bintang sudah keluar, menunggu di luar mobil. Pintu mobil sudah di buka Bee, tapi merasa ada yang aneh di inti miliknya, Bee memeriksa dan dugaannya tepat.
"Kakak.." ulang nya sedikit lebih kuat. Bintang mendekat, sangat dekat hingga hidung mereka hampir saling bersentuhan.
Tampak keduanya jadi gugup bersamaan.
"Ehem..ada apa?" tanya Bintang lebih dulu menguasai diri
"Ini.." Bee sesaat ragu untuk mengatakannya. Tapi dia tak punya pilihan lain. Rasanya tidak nyaman.
"Kak..aku bocor. Belikan pembalut ya.." dengan wajah memerah Bee terpaksa memberitahukan pada Bintang.
"Hah? pembalut. Aduh Bee, aku mana ngerti beli begituan" tolak Bintang. Jangan kan membeli, memegang saja rasanya geli.
"Ga mau? ya udah, kita pulang aja. Aku gini aja terus. Biar jok mobil kakak merah semua" rungut nya kesal. Perutnya kembali sakit. Pantesan dari pagi perutnya mules, ternyata dia datang bulan.
"Ya udah, kita cari indom*rt dekat sini ya. Adakan jual begitu di sana?" Bintang kembali masuk ke dalam mobil dan segera melajukan secepat yang dia bisa.
"Kenapa?" tanya nya lagi melihat wajah kesakitan Bee yang terus memegangi perutnya.
"Keram kak, perutku. Aku biasa gini kalau lagi haid" ucap nya meringis.
"Ya..produksi dedek bayi nya gagal deh kalau kamu datang bulan. Harus lebih sering nih buat ya, biar kemungkinan jadi nya lebih pasti" goda Bintang. Berharap Bee bisa melupakan rasa sakitnya walau sedikit.
Dia tahu, kalau wanita haid itu pasti sakit. Terlebih hari pertama. Beberapa mantan nya bahkan harus sampai meminum obat pereda nyeri.
Mart yang di tuju sudah ketemu. Bintang bergegas turun. "Kamu tunggu di sini ya, aku beli dulu" ucap Bintang membuka pintu mobil. Tapi suara Bee menahan langkahnya keluar.
"Ingat kak, yang bersayap, dan bungkusnya warna merah. Merk nya ch*rm ya"
"Ok..nanti aku tanyain sama penjaga toko nya"
"Satu lagi, cel*na dalam nya ukuran M ya kak, jangan norak warna nya. pilih yang putih, cream atau hitam sekalian" sambung Bee yang kini menyenderkan kepalanya di dashboard mobil.
"Cel*na dalam? aduh.." ucap Bintang menggaruk kepalanya.
"Kenapa? ga mau? egois! jangan mau pake isinya aja dong, beli bungkusnya ga mau!" umpat nya membuang muka ke arah berlawanan.
Sudah begitu keadaannya, tak mungkin Bintang protes. Gila, kalau sahabatnya tahu, dia beli pembalut, dia pasti di bully, ini di tambah beli pakaian dalam untuk Bee. Tapi benar kata Bee, ini tanggung jawabnya saat istrinya merasa sakit.
Dengan percaya diri Bintang masuk ke toko itu. Lalu berjalan menyusuri setiap rak, hingga tiba di tempat pembalut. Petunjuk yang di berikan Bee memudahkan nya untuk mendapatkan pesanan sang istri. Kini tinggal pakaian dalam.
Setelah memilih yang dia rasa paling bagus, Bintang mengambil satu. Tak punya pilihan banyak. Model yang disediakan di tempat itu hanya model yang standar, jadi dengan cepat Bintang mengambil satu dan segera ke kasir.
Tatapan geli sang kasir membuat nya malu setengah mati. Syukur syukur tidak dianggap maniak yang suka bermain dengan barang milik wanita.