Sold

Sold
Rencana



Masalah yang tengah melanda PT Kinanti, ternyata Bintang juga baru mengetahuinya hari ini. Karena kabar perusahaan itu akan di jual sudah sampai di telinga Bintang. Bahkan salah satu relasi Bintang sempat menghubungi, apakah berminat mengambil alih perusahaan itu, tapi Bintang belum memberi jawaban, karena ingin mempelajari masalah perusahaan itu dulu.


"Jadi memang kena tipe om Setiawan nya kak?" tanya Bee yang sejak tadi mendengar percakapan Bintang dan Piter dengan antusias.


"Iya, teman baik nya malah"


"Kasihan Kinan" ucap Bee menatap kosong ke depan. Saat ini gadis itu pasti merasa sangat sedih atas apa yang menimpa papa nya.


"Kamu ga mau ke sana ter, melihat keadaan Kinan?" lanjut Bee mengalihkan pandangannya pada Piter yang sejak tadi diam setelah mendengar penuturan Abang nya.


"Belum saat nya Bee.. Bang, berapa harga jual perusahaan itu saat ini?"


Bintang menyelidik wajah Piter yang tampak serius menanyakan masalah ini. "Lo tertarik jadi pengusaha sekarang? kalau lo mau kenapa mesti beli itu, perusahaan lo urus, biar ga gue semua yang handle, lo enak tinggal nikmati doang, tiap bulan rekening lo menggendut"


"Bukan gitu, gue mau ngambil kasus ini"


"Nah, itu keren Ter. Kalau kamu bisa menyelesaikan masalah ini, aku percaya om Setiawan akan merestui hubungan kalian" Bee mengembangkan senyum, sangat bersemangat mendukung Kinan dan Piter bersatu kembali.


***


Selasa pagi, Piter mendatangi kantor Setiawan. Setelah memastikan pria tua itu ada di sana, Piter datang dengan membawa segala data yang bisa dia kumpulkan.


Oleh sekretaris Setiawan, Piter dan Aspri nya dibawa masuk keruangan Setiawan. Pria itu sudah menunggu nya di ruang tamu.


"Apa yang membawa mu datang ke mari" tanya Setiawan masih tidak bersahabat.


"Aku ingin menolong om. Aku sudah dengar masalah penipuan yang om alami. Kalau om mau menuntut orang itu, aku bersedia membantu"


Setiawan tampak tercengang. Dia kira kedatangan Piter kali ini masih berhubungan dengan permohonan nya untuk diizinkan mendekati Kinan.


"Kenapa kau mau menolong ku? agar aku bersimpati dan mengizinkan mu bersama Kinan kembai?" hardik nya coba menebak isi pikiran Piter.


Hanya sebuah senyuman yang di berikan Piter untuk jawaban dari pertanyaan orang tua angkuh itu. "Aku mencintai putri anda, itu kebenaran. Tapi aku juga tahu, anda tidak menyukaiku, tidak menginginkan ku bersama Kinan, dan itu kenyataan. Aku juga tahu, Kinan akan menikah bulan depan atas perjodohan yang anda lakukan, dan saya tidak bisa apa" Piter berhenti sesaat. Menghirup udara yang tampak menyekat di tenggorokannya.


"Seandainya Kinan mau berjuang dengan ku, tidak menyerah pada hubungan kami, aku pasti akan merebutnya dari anda, apa pun resikonya. Tapi dia memilih untuk menyenangkan hatimu, dan aku memilih untuk mundur. Jadi aku melepas Kinan bukan karena takut pada mu, tapi karena aku sangat m mencintai Kinan. Tidak ingin membuatnya bimbang dan sedih karena memilih antara aku dan om"


Semua kalimat itu bisa di cerna Setiawan dengan baik. Dia mendengar dalam sikap diamnya.


Satu hal yang dia sadari, Piter ternyata belum tahu kalau Kinan tidak akan jadi menikah dengan Kevin. Setelah masalah goncangan pada perusahaan miliknya, orang tua Kevin menjauh. Bahkan waktu yang sudah di sepakati untuk melangsungkan acara pertunangan, Kevin dan keluarga nya tidak datang.


Yang lebih menyakitkan nya lagi, Sam, ayah nya Kevin memutuskan rencana perjodohan anak mereka lewat telepon.


"Baik lah tuan Danendra. Aku akan membuat laporan besok. Semua informasi dan berkas yang kau butuhkan bisa kau dapatkan pada asisten ku. Tapi aku ingin tahu, berapa harga yang harus ku bayar untuk memakai jasa pengacara terkenal seperti mu?"


Kasus itu ternyata tidak sesimpel itu karena si pelaku penipuan itu tidak lagi ada di Indonesia. Bahkan semua saham dan dana yang ada sudah di alihkan nya atas nama orang lain karena saat di lakukan pengecekan taksiran harta dan kekayaan yang di miliki pelaku, sudah tidak ada lagi.


Tugas Piter adalah mencari kemana aliran sumber dana itu di pindah tangan kan. Dua Minggu berlalu belum ada tanda-tanda Piter menemukan jejak pelaku kedua.


Pagi ini Piter bangun, ini awal bulan. Dia memang tidak tahu tanggal berapa tepatnya Kinan akan menikah, tapi yang dia ingat dari wanita itu, hanya mengatakan bulan depan, yang artinya bulan ini.


Kegundahan Piter semakin menjadi, tubuhnya sangat malas untuk melakukan apa pun. Nada dering dari ponselnya berhasil menyentak lamunannya. "Ya kakak ipar tercantik sedunia, ada apa?"


"Bisa kah kamu kemari Ter, aku ada perlu dengan ibu, tapi tidak ada yang menjaga Saga" ucap Bee dari seberang.


"Ok, aku akan datang ke rumah ibu"


***


"Akhirnya kau datang anak muda, jadi lah berguna" ucap ibu menepuk pundaknya. Mereka tampak sudah bersiap-siap untuk pergi. Bee tampak cantik berdiri di samping ibu.


"Mau kemana para Srikandi Danendra ini?" ucap nya malas, menggendong Saga dan meletakkan di pundak nya hingga bocah itu tertawa gembira.


"Kita mau ke salon, bye" sahut ibu melangkah masuk ke dalam mobil.


"Saga baik-baik sama om Piter ya. Jangan nakal" ucap Bee mencium kening Saga setelah Piter merendahkan tubuhnya.


"Ok, mama..dada.."


Setelah Bee dan ibu pergi, Piter dengan enggan menemani Saga bermain, namun setelah lelah bermain bola di halaman, Piter merasa kelelahan, kaos nya sudah basah oleh keringat, dengan cepat Piter melepas kaosnya dan merebahkan tubuh di sofa yang empuk.


"Om ngantuk?"


"Yes boy. Apa kamu ga capek setelah kita lari-larian dan bermain bola tadi?" ucap Piter menutup matanya.


Piter tidaj mendengar lagi, apa pun yang di katakan anak itu. Hembusan udara dari alat pendingin itu begitu segar menyentuh kulit nya dan mampu membuainya ke alam mimpi, hingga tidak butuh lama, suara dengkuran halus Piter sudah terdengar.


Saga yang melihat om nya sudah tertidur memutuskan untuk pergi naik ke kamar orang papa nya, meninggalkan Piter di ruang depan.


Setengah jam kemudian, oleh permintaan Bee, Kinan datang ke rumah ibu untuk di mintai tolong menjaga Saga sebentar karena dia lagi di luar.


Tanpa merasa curiga, Kinan datang. Dia juga ingin bertemu bocah pintar itu, karena memang sudah lama mereka tidaj bertemu. Kinan bahkan membawa mainan untuk Saga yang disempatkannya untuk membeli di toko mainan yang dia lewati tadi.


Yanti yang membukakan pintu bagi Kinan, lalu pamit masuk ke dalam karena Kinan memang sudah biasa datang ke rumah itu. Perlahan Kinan memasuki rumah, dan tepat masuk dalam ruang tamu, dia melihat pria yang sangat dia rindukan itu ada di sana, tidur dengan lelapnya. Bahkan setelah menyadari nya mata Kinan membulat saat melihat dada bidang dan perut kotak-kotak pria itu.