
Dengan pelan Bintang membaringkan gadis itu di tempat tidur, membuka sepatunya lalu menyelimuti tubuh Bee.
Bintang masih duduk di sisi tempat tidur, mengamati gadis itu dalam tidurnya.
"Sihir apa yang kamu berikan padaku, hingga aku begitu menginginkan mu?" cicit nya pelan. Setelah mengusap kepala Bee, Bintang berinisiatif untuk keluar kamar, tapi tangan nya di tarik oleh Bee.
"Jangan pergi" ucap nya dengan mata masih terpejam. Sesaat Bintang pikir gadis itu sedang bermimpi, tapi setelah menyentak kembali tangan Bintang dengan kuat, gadis itu tidak tidur, tapi rasa ngantuk nya telah menawan dirinya untuk terpejam.
"Kenapa? kamu mau ke kamar mandi?"
Bee menggeleng.
"Mau minum?" gelengan lagi. Bintang sempat ge-er merasa dirinya ditahan Bee untuk di minta tidur bersama Bee di kamar gadis itu.
"Lalu apa sayang?" bisik nya menunduk menatap ke arah wajah Bee yang cantik.
"Pe-er matematika gue belum selesai. Bantuin kerjakan kak. Gue ngantuk..ga sanggup ngerjain" ucap Bee lalu diam, merajut mimpi nya lagi.
Sial. Gue kira dia minta gue meluk dia tidur. Bintang..Bintang, apes amat nasib lo..
"Halaman berapa Bee?" ucap Bintang penuh sayang, membelai wajah mulus itu. Lalau dengan tangannya menelusuri garis wajah Bee hingga berakhir di lekuk bibirnya.
"Lihat di agenda kak..udah jangan ganggu gue" Bee sudah membalikkan tubuhnya, merangkul guling nya untuk tidur nyamannya.
Hufff..desahan nafas Bintang yang berat menemani langkah nya menuju tas sekolah gadis itu di atas meja belajar. Dua jam lama nya bagi Bintang berkutat dengan LKS matematika Bee. Mengingat kembali pelajaran SMA pada usia nya saat ini, agak susah untuk di mengerti, walau akhirnya dia ingat kembali rumusnya.
Dia bisa saja meminta bantuan siapa saja anak buahnya, tapi ini milik Bee. Dia ingin menyelesaikan sendiri tugas sekolah istrinya, karena Bee tanggung jawabnya.
Selesai merapikan alat tulis dan buku ke dalam tas, Bintang kembali mendekati Bee. Membenarkan selimut gadis itu yang dia tunjang hingga jatuh ke lantai.
"Tidur yang nyenyak sayang" cup..
Ciuman mesra hangat dan penuh kasih, Bintang berikan di kening Bee sebelum mematikan lampu dan keluar dari kamar gadis itu.
***
Senyum cantik nya merekah saat Bee sudah berhasil mengumpulkan nyawanya pagi ini. Bangun dengan tubuh terasa segar membawa mood yang baik bagi nya. Tidurnya lelap dan mimpi indah, tapi dia sendiri lupa mimpi apa. Pasti nya indah, karena terbukti dia bisa bangun dengan penuh semangat.
Sambil bernyanyi kecil Bee mengoles kan serum ke wajah, setelah melihat penampilannya di cermin terlihat cantik, dia tersenyum untuk kesekian kalinya sebelum melangkah pergi.
Bee meremat kemeja nya pada bagian dada. Gugup iya, deg-deg an iya. Tugas sekolah nya sudah di selesaikan oleh Bintang, dan dia ingin mengucapkan terimakasih.
Dia bermaksud akan bersikap manis saat bertemu dengan Bintang nanti di meja makan. Berbagai menu sarapan sudah tersaji di hadapannya. Tapi yang biasa duduk di kursi kepala itu tidak ada. Kosong. Celingak-celinguk melihat sekitar, tapi sosok Bintang tak juga terlihat. "Apa gue ke siangan ya?" gumam nya melirik jam tangannya.
"Pas kok, masih jam setengah 7 kurang malah"
"Mir..sini" Bee memanggil asisten pribadinya yang tepat melintas di hadapannya.
"Iya Nya?"
"Jangan panggil nyonya, panggil Bee aja. Lagian kita seumuran kok, cuma beda setahun kan? Mmm..Bintang mana?" tanya nya memelankan suara.
"Oh, tuan sudah berangkat sejak tadi Ny..non"
"Takut, nanti tuan marah kalau saya panggil nama" jawab Mira.
Mira gadis ramah dan sopan yang Bee kenal. Seusia nya menjadi pelayan di rumah Bintang khusus untuk mengurusnya.
Baru tahun lalu Mira tamat SMA dan kini sudah hampir lima bulan bekerja di rumah itu. Bee sering bercerita dengan Mira saat bosan menerjangnya.
Hal yang membuat Bee semakin kesal dengan Bintang, Bee tak lagi di izinkan untuk bimbingan keluar rumah, tutor sengaja di datang kan ke rumah untuk mengajarinya, mempersiapkan untuk ujian akhir yang tinggal beberapa bulan lagi.
"Ga usah takut. Malah aku ga akan mau berteman sama kamu, kalau kamu ga manggil nama aku. Udah, temani aku sarapan"
***
Ada yang aneh dengan sikap Kiki. Sepanjang pelajaran gadis itu hanya diam. Bee menduga mungkin terjadi masalah lagi di rumah nya.
"Kenapa Lo? manyun terus?"
"Gue patah hati!"
"Hah? serius Lo? sama siapa? kok gue ga tahu Lo udah punya cowok?" seru Bee sedikit terkejut. Pasalnya, setahu Bee, Kiki sama sekali tidan punya pacar.
"Ya kali Lo tahu, Lo aja ga perduli sama gue! Suka menghilang tiba-tiba, gue nge Bolang sendiri" sungut Kiki cutek, merebahkan kepalanya menghadap meja.
"Sorry deh Ki, gue benar-benar sibuk belakang ini. Cerita deh sama gue, Lo kenapa? kok tiba-tiba udah patah hati aja?" Bee menghadap Kiki, membelai puncak kepala Kiki agar gadis itu mau cerita.
"Ingat cowok yang gue ceritain kemarin?"
"Yang mana?" tanya Bee serius lupa sama titik akhir cerita Kiki. Pasalnya Kiki tipe gadis yang cepat jatuh hati sama cowok. Kan Bee jadi lupa, cowok yang mana lagi kali ini.
"Iih..Lo teman gue bukan sih?" Kiki benar-benar mati kesal.
"Iya..sorry..gue lupa yang mana"
"Kalau gue ga sayang sama elo, benar deh, gue musuhi Lo!" salak Kiki. Untung semua anak udah pada bubar ke kantin hingga hanya mereka berdua yang tinggal di kelas.
"Cowok yang gue ketemu pas di mall, nolong gue, malah gue tuduh copet"
"Oh..gue ingat. Lo ketemu lagi sama dia? terus emang udah pacaran? kok bisa patah hati? nama nya siapa? anak mana?"
"Woi..satu satu kek! pertanyaan Lo udah kayak buat BAP tau ga" seru Kiki melotot.
"Sorry, gue penasaran banget"
Jadi Kiki pun mengalah. Menceritakan semua, mulai pertemuan kedua hingga dia main ke kantor si cowok yang bernama Erick.
"Gue ikut sedih ya Ki, ya mungkin cowok seumuran dia, pengennya dapat cewek yang udah matang, udah kerja, bukan ABG kayak kita" Bee berusaha menenangkan sahabatnya yang kini udah mulai menangis.
"Tapi gue sedih banget Bee. Gue udah jatuh cinta sama dia. Kali ini beda, gue serius pengen sama dia, ga mau yang lain"
Ikut prihatin, Bee menarik tubuh Kiki, saling berpelukan. Bee bisa merasakan kalau kali ini Kiki benar-benar jatuh cinta.
Bagaimana saat ini perasaan Kiki, Bee benar-benar mengerti, karena dulu dia pernah ada di posisi itu. Mengejar Elang, mencampakkan harga dirinya, bahkan di cap gadis genit karena mengejar Elang. Tapi kini perjuangan nya berakhir. Dia dan Elang sudah bersama, saling mencintai. Benarkah Bee mencintai Elang saat ini?