
Dua jam tertidur, Bintang terbangun. Perutnya lapar, hingga pria itu memutuskan untuk bangun. Sadar akan kepolosan tubuh nya, Bintang memutuskan membersihkan tubuhnya. Pada cermin di kamar mandi, Bintang dengan jelas dapat melihat bekas tanda cinta Bee di dada dan juga lehernya. Sebaris senyum mengembang di wajahnya.
Bagaimana wajah Bee yang juga terbakar api gairah meliuk-liuk di atas tubuhnya terus terbayang di wajah Bintang. Dia tidak sabar lagi untuk mengarungi samudra gairah itu nanti malam.
Makan siang yang sudah sangat terlambat itu dihabiskan Bintang dengan sangat cepat. Dia ingin menunggu Bee pulang di teras rumah. "Loh, Mira, kamu di sini? Saga mana?"
"Maaf tuan. Tuan Saga bermain di taman komplek. Saya tadi bersama nya, tapi dia minta saya meninggalkan nya dan akan diantar oleh tante teman nya" ucap Mira takut. Bagaimana pun harus nya dia tidak meninggalkan anak majikannya. Tapi perut Mira mules dan buru-buru pulang.
"Nanti saya akan ke sana lagi tuan setelah selesai dari toilet"
"Kamu urus aja perut kamu. Biar saya yang jemput saya"
Bintang menyusuri jalanan menunju taman tempat yang dia datangi bersama Saga kemarin. Tiba di bangku yang beberapa hari lalu dia duduki, Bintang menemukan sosok yang dia cari, sedang bermain bersama teman-temannya. Namun yang menarik pandangannya adalah sosok anggun yang berdiri mengamati Saga dan ketiga temannya yang lain bermain.
Setapak demi setapak Bintang menyebrangi taman menuju tempat mereka. Hana sadar akan kedatangan Bintang dan menanti di tempatnya dengan senyum manis dan di balas Bintang tak kalah manis.
"Papa.."teriak Saga gembira.
"Hati-hati mainnya, jangan main dorong-dorongan" ucap Bintang, lalu menoleh pada Hana penuh senyum.
"Hai.." sapa gadis itu mengangguk kan kepalanya tanda hormat.
"Hai.." momen yang tercipta sedikit kaku, tidak seperti awal mereka bertemu.
Mengurangi rasa kikuk nya, Bintang memilih untuk duduk lebih dulu di bangku kayu itu. Tidak lama Hana pun mengikuti langkah pria itu untuk duduk di sampingnya.
"Kata Saga kamu mencari ku tempo hari, ada apa?" Bintang membuka percakapan demi mengurangi rasa canggung.
"Oh..iya. Eh..maksud aku bukan apa-apa. Hanya sekedar bertanya" ucap nya malu. Pipinya memerah menahan malu.
Lalu perbincangan pun mengalir begitu saja. Diselingi tawa dan kadang wajah Hana akan berubah serius mendengarkan Bintang bicara. Kharisma Bintang begitu memikat. Pembahasan mereka pun beragam, mengenai kultur di Inggris dan juga di Indonesia.
Obrolan mereka terhenti ketika Saga meminta untuk pulang, karena tadi sudah berjanji pada Bee akan pulang sebelum maghrib.
"Kami pulang dulu" ucap Bintang.
Hana hanya mengangguk, tapi saat Bintang melangkah, wanita itu memanggil nya kembali. "Tang, boleh aku minta nomor telepon mu?" suara itu terdengar ragu-ragu tapi percayalah itu yang Hana harapkan. Hanya karena terbentur akan norma kesopanan seorang lady lah, dia menahan hasrat nya untuk meminta pada Bintang.
"Buat apa?" tanya Bintang. Bukan apa dia memang tidak pernah memberikan nomor telepon pribadi nya pada siapa pun. Selama ini keperluan nya selalu di urus oleh Riko, baik bisnis atau pun saat ingin mengencani para gadis. Kalau pun Bintang pernah tertarik pada seorang gadis, maka dia akan memberikan nomor teleponnya Riko, yang akan menjadi perantara dan mengurus semua nya.
"Mmm..siapa tahu aku ada perlu ingin bicara dengan mu" ucap nya bertambah malu, Karen Hana pikir begitu Bintang meminta nomor nya, maka pria itu akan dengan senang hati memberikan nya.
"Maaf Hana, aku tidak pernah memberikan nomor telepon pribadi ku pada siapa pun. Kami permisi dulu" Bintang mengangguk lalu menggendong Saga untuk pulang.
Suara tawa Bapak dan anak itu menggema pertanda mereka sudah tiba di rumah. "Lama banget pulang main. Dari mana aja kalian berdua?" hardik Bee melipat tangan di dada.
"Main ma..Soli ma kita lama pulang" ucap Saga berlari ke arah ibunya dan merentangkan tangan minta di peluk.
"Mmm..kok bau asem gini anak ganteng mama?" Bee menciumi sekujur tubuh Saga membuat anak itu tergelak geli.
Besok hari nya seperti biasa, Bee akan sibuk dengan rutinitas nya mengurus ketiga anak nya. Saga dengan menikmati kegiatan menggambar nya di karpet sementara Bee mengasihi ana kembarnya bergantian.
"Mama, kalisma itu apa?" tiba-tiba Saga nyeletuk yang menarik perhatian Bee.
"Kalisma? maksud abang karisma?" Saga pun mengangguk dan bangkit dari rebahan nya.
"Karisma itu bakat atau kemampuan yang luar biasa dalam hal kepemimpinan seseorang, yang buat kita kagum sama dia" Melihat Saga yang mengerutkan kening tidak mengerti Bee hanya tersenyum. Di letakkan nya Siena yang sudah tertidur seperti Siera dengan perut kenyang. Bee mendekat pada Saga, duduk di sebelahnya.
"Saga ga ngerti ya?" kembali anak itu mengangguk.
"Gini.." Bee mengangkat anak itu dan mendudukkan di pangkuan nya. "Kayak papa, banyak orang, termasuk mama melihat papa itu punya karisma, papa bertanggung jawab, dia pintar, dan menyenangkan, makanya mama sayang sama papa"
Mendengar penjelasan Bee yang di ucapkan dengan lembut dan pelan, sedikit banyak membuat Saga mengerti. "Oh..berarti tante Hana itu sayang sama papa dong? Aga dengar tante Hana bilang papa belkalisma"
Berganti, kali ini dahi Bee yang berkerut. Dia mengira dirinya salah mendengar ucapan Saga. Perasaan Bee tidak mengenal gadis bernama Hana. "Siapa tante Hana?"
"Itu tante nya Geona, yang rumah nya di ujung sana" ucap Saga cuek.
"Memang tante Hana kenal sama papa?" Bee menduga kemungkinan Saga yang saat itu bermain dengan teman-teman nya membicarakan sosok orang tua masingmasing hingga melalui gambaran Saga akan papanya membuat Hana, atau siapa pun dia mengatakan pada Saga bahwa Bintang berkarisma.
"Kenal dong ma. Papa kan seling ngomong di taman kalau jagain Aga"
Bee terdiam. Anak nya tidak mungkin bohong atau berkata asal. Jika Saga mengatakan hal itu berarti Bintang memang bertemu dengan Hana.
"Ya udah, sekarang abang mandi ya"
***
Sekali lagi Bee menatap tampilan di cermin. Dia sudah memakai gaun rumahnya dan memaki kalung yang dulu pernah Bintang berikan padanya saat ulang tahun nya untuk pertama kali.
Biasanya dia hanya akan menunggu di kamar, tapi kali ini, setelah urusan mengurus anak selesai, Bee menunggu di ruang keluarga sembari menikmati acara televisi. Sepintas muncul teman-temannya model di layar kaca. Salah satu nya Hera yang kini sedang naik daun sebagai bintang sabun mandi terkenal. Dia juga rindu tampil lagi, tapi dia sadar, keluarga lebih utama, terlebih kali ini profesi nya sebagai dokter gigi menuntut nya untuk siap setiap waktu di klinik.
Suara deru mobil memasuki halaman rumah membuat Bee bersiap menyongsong kedatangan Bintang.