
Dua jam menunggu di ruang tamu, tapi sosok Bee belum muncul juga. Dia pikir Bee akan langsung pulang setelah dari studio tadi, itu lah mengapa Bintang pamit undur diri dari rencana Kinan makan bersama kru dan model lainnya.
Untuk ketiga kalinya, Bintang memukul pegangan sofa dengan kepalan tangan penuh. geram. "Kemana sih gadis ini?" geram nya melirik jam tangannya. Langkah nya mendekat ke arah jendela, menatap jalanan yang sudah mulai sepi. Satu jam lalu, Bintang sudah menyelimuti Saga yang tertidur setelah mereka puas bermain.
Suara mesin mobil yang berhenti di depan rumah menarik perhatian Bintang untuk menyibak gorden berwarna gold itu.
Bee keluar dengan langkah lesu, setelah Kia membukakan pintu baginya. "Sok gentleman" umpat nya seolah Kia bisa mendengar.
Sungguh menggelikan, karena nyatanya tindakan Kia yang di cibir nya tadi, dia lakukan juga saat ini. Membuka pintu untuk Bee masuk.
"Kamu di sini" ucap nya basa-basi tak ada minat, lalu terus berjalan menuju ruang tengah.
"Kita harus bicara Bee. Aku mohon dengar kan aku sayang.." pinta Bintang menghalangi langkah gadis itu.
"Pulang lah kak. Aku lelah. Aku mau istirahat"
"Tapi aku ga tenang Bee. Aku mohon dengarkan penjelasan ku"
Bee sempat berpikir sejenak. Benar. Ini waktu nya mereka bicara. Karena dalam hatinya juga tersiksa harus di gantung seperti ini.
"Baik lah kak" Bee melangkah duduk di sofa meletakkan tas tangannya di atas meja kaca.
Suasana berubah kaku di antara mereka. Kalau tadi Bintang menggebu-gebu ingin bicara pada Bee, ini malah seolah lidahnya keluh, kata-kata yang sudah dia susun sedari tadi hilang seketika.
"Kak.." Bee buka suara. Semakin lama dalam diam bersama pria ini, sudut hati nya sakit. Dia rindu. Ingin memeluk pria ini yang akan segera menjadi milik orang lain.
Nada suara sendu Bee sudah menyiratkan pertanda buruk. Suara itu menyimpan kepedihan.
"Bee..masalah dengan ibu..kamu udah dengar?"
Dengan lemah Bee mengangguk. Mengingat percakapan yang tanpa sengaja dia dengar kala itu membuat hatinya sakit. Dia tidak benci pada ibu, karena sebagai seorang ibu, Bu Salma hanya menginginkan yang terbaik bagi hidup anak nya.
"Aku mohon, kamu jangan tersinggung, apa lagi benci sama ibu. Dia hanya belum tahu tentang hubungan kita" Bintang menggenggam tangan Bee. Tak sedikit pun Bee menolak. Dia ingin menikmati momen bersama dengan Bintang, kalau memang ini untuk yang terakhir.
"Bagiamana mungkin aku benci sama ibu kak? aku justru sangat menyayangi beliau" sekali kedip, air mata yang sedari tadi Bee tahan pasti akan menetes di pipinya.
"Tapi aku ga mau hal itu membuat kita jauh lagi. Justru aku datang malam ini ingin meminta kami berikan waktu untuk ku menyelesaikan masalah ini" ucap Bintang memohon dari hatinya yang paling dalam.
"Untuk apa kak? aku mau tanya, apa kau sudah bicara dengan mbak Kinan? memperjelas status kalian?"
Kepala Bintang tertunduk. Benar dia pengecut. Bukan, hanya saja hati nya tidak tega menyakiti hati tuan Setiawan, terlebih sambutan hangat yang dia berikan pada Bintang.
Pria itu sudah memikirkan, setelah launching produk kerja sama mereka, Bintang akan bicara pada ibu nya, membujuk wa Ita itu untuk bisa menerima Bee kembali. Setelah nya baru lah dia akan bicara pada ayah Kinan.
Semua tampak serba salah padanya. Dia seakan terdakwa yang dari sudut mana pun dianggap bersalah. Dia punya pemikiran sendiri, mengatur waktu yang tepat untuk menyelesaikan satu persatu. Kini yang dia butuhkan hanya waktu dan kesabaran dari Bee.
"Dengar kan aku kak, mungkin kau tidak akan suka dengan apa yang aku katakan, tapi coba lah memahaminya" ada jeda, memberikan waktu pada mereka berdua menghirup nafas membuang sesak dan perih dalam hati.
"Aku minta tetap lah bersama Mbak Kinan seperti sebelum kita memutuskan untuk kembali bersama"
Reaksi Bintang sudah dapat dia prediksi. Sorot mata pria itu penuh amarah. Hati nya bahkan terluka mendengar gadis yang ingin dia perjuangan justru meminta nya menyerah.
"Apa kau sudah tidak waras, meminta hal itu padaku? jangan coba mempermainkan ku Bee. Kau tahu betul aku tidak akan bisa bersama siapa pun selain dirimu" salaknya memutar tubuhnya agar bisa menghadap wajah Bee.
"Dulu juga kau sudah bersama dia kak? kenapa sekarang tidak bisa? kau ga perlu menjaga perasaan ku!"
"Aku bersama nya tapi tanpa status dan tanpa cinta! tidak, aku tidak akan mengikuti kemauan gila mu!"
Bee menahan Bintang yang hendak pergi, malam ini pembicaraan mereka harus tuntas, agar besok saat mentari pagi menyapa, harus sudah mulai belajar ikhlas.
"Kak..aku mohon.."
"Jangan sampai aku memukul mu Bee. Aku tidak akan mau menikahi Kinan. Kepikiran saja tidak pernah. Soal ibu, aku akan bicara malam ini juga"
Putar otak, Bee cari alasan agar Bintang mau memenuhi keinginan ibu. Dia pun terluka dan tidak rela. Tapi dia juga tidak akan sanggup merenggut kebahagiaan dan harapan ibu. Semenjak tidak memiliki ibu lagi, Bee tidak pernah merasakan kasih sayang ibu selain dari tante Di.
Lalu lewat pernikahan nya dengan Bintang dia mengenal Bu Salma yang sangat menyayangi nya sepenuh hati dan menganggap nya anak. Lalu pantaskah dia durhaka pada ibu?
"Lakukan demi ibu kak.."
Bintang masih tidak setuju. kepala nya menggeleng, tidak terima. Kenapa Bee tidak bisa mempercayai bahwa dia bisa membuat ibu mengerti akan hubungan mereka?
"Terserah, pokonya aku ga mau rujuk sama mu. Aku juga ga perduli kau akan menikahi Kinan atau tidak" Bee memberanikan diri mengangkat wajahnya menatap Bintang. Ingin memuaskan matanya menatap wajah tampan pria itu untuk terakhir kalinya dari jarak sedekat ini.
"Ini alasan mu saja kan? kau memang tidak mencintaiku! Kau ingin bersama pria itu kan? aku melihat mu diantar oleh nya. Kemana kalian hingga jam segini, hah?" pikiran Bintang jadi kacau, Se kacau tiap kalimat yang menyakitkan dia muntah kan dari mulut nya.
Pertanyaan itu justru di manfaatkan oleh Bee. Jika alasan demi ibu dia mundur dari hubungan mereka Bintang tidak menerima, menggunakan Kia sebagai alasan, mungkin akan berhasil.
"Kau benar kak. Aku tidak bisa bersama mu karena aku ternyata mencintai Kia" Bee mengigit bibirnya, setelah kalimat itu terucap. Tidak ada kata yang kuat dari Bintang. Pria itu hanya diam sambil menatap nya.
Terluka, terhina, dan hancur. Itu lah arti tatapan Bintang padanya. Dia pun hancur, hati nya berdenyut seperti kena cubit, sakit.
Maaf kak..aku harus bohong sama kakak..
Masih dalam diamnya, Bintang berdiri, menendang meja kaca hingga terbalik, dan pecah, lalu pergi meninggalkan Bee yang terkejut dengan segenap kehancuran hatinya.