
Kedua masih berjuang merauk udara sebanyak-banyaknya untuk bisa bertahan hidup. Jantung masih berdetak cepat.
Bagi kedua nya ini adalah pengalaman pertama mereka. Bee pertama kali berhubungan, dan Bintang pertama kali membobol perawan.
Kalau di tanya pada mereka, gimana rasanya? pasti keduanya kompak mengatakan..ah..mantap!
Setelah debar jantung sudah normal, terbitlah rasa malu. Perlahan Bee menarik selimut hingga bagian leher, dan berbalik hendak membelakangi Bintang.
Akhirnya gue udah jadi wanita seutuhnya..
Ada setitik air mata di sudut mata Bee. Semua sudah terjadi, walau bukan dengan Elang yang pertama, justru di hati nya tak ada penyesalan telah melakukan dengan Bintang.
Tadi begitu indah buat Bee. Dia yang belum pernah melakukan nya, ini yang pertama dan begitu berkesan di hati nya. Seperti ada sesuatu beterbangan di dalam perutnya, sakit di awal, namun kemudian rasa sakit itu hilang berganti nikmat, ingin lagi..dan lagi. Betapa tidak tahu malu nya dirinya.
Pria itu tahu, Bee malu atas apa yang telah mereka lakukan baru saja. Tapi tangan Bintang menahannya, justru membawa Bee masuk ke dalam pelukannya.
Gadis itu hanya diam, menurut tanpa ada perlawanan. Kenyataan memang pelukan Bintang begitu nyaman untuk nya saat itu. Terbukti begitu Bintang mengelus punggung telanjang nya, Bee sudah jatuh terbuai dalam mimpinya.
***
Sinar mentari pagi yang menerobos masuk kaca kamarnya, sedikit mengganggu tidurnya. Inginnya bisa terlelap lagi, tapi dorongan untuk buang air kecil lebih memaksa untuk nya bangkit.
Berat tangan yang ada di perutnya membuat susah untuk bangkit. Bintang masih di sana, berbaring di sisinya dengan memeluk erat tubuhnya yang terasa linu.
Tak ingin membangunkan Bintang, Bee perlahan mengangkat tangan suaminya, menggeser sedikit tubuhnya agar bisa bergerak untuk sekedar turun dari tempat tidur.
Ringis an kecil yang keluar dari bibirnya membuatnya mengumpat dalam hati sembari memicingkan sebelah matanya.
"Au.. perih.."cicitnya. Namun dia bukan gadis lemah kan? tertatih dia tetap bergerak, menutup pintu kamar mandi, tak lama bunyi shower terdengar.
Niat awal hanya untuk pipis, Bee akhirnya memutuskan untuk mandi. Hal itu mungkin sangat dia butuhkan saat ini mengingat setiap jengkal kulit nya lengket dan saat dia buang air kecil, sisa lendir itu masih terasa di kulit nya.
"Ga benar nih" cicitnya menampung air di bathtub dan menuang essential oil.
Hampir setengah jam Bee berendam dengan mendengar kan lagu favorit nya. Selama ini juga bayangan pertarungan mereka tadi malam terus berkelebat dalam pikirannya. Kadang dia tersenyum, tak jarang juga mengerucut kan bibirnya.
Kalau dalam film yang dia tonton, sang pria akan memperlakukan wanita nya kasar, mendorong dan meminta gaya ini itu, Bintang berbeda. Malam itu dia memperlakukan Bee begitu lembut, seolah dia adalah porselen yang mudah pecah jika di sentak kuat.
Berendam ternyata tak hanya membuat tubuhnya segar, tapi juga membuat mood nya kembali bersemangat.
Pria itu masih di sana. Tidur telentang memamerkan tubuh liatnya. Selimut hanya menggantung menutup pinggul hingga sepuluh senti paha nya.
Terpukau menatap Bintang, Bee bahkan lupa caranya untuk berjalan menjauh dari sana. Pria itu bak lukisan dewa Yunani, dengan tubuh yang membuat jantungnya kembali bertalu cepat.
Tubuhnya masih di lilit handuk. Harusnya dia berlalu sebelum kedapatan memperhatikan Bintang dengan sorot mata buasnya. Telat!
Sang empunya tubuh sudah bangun. Memijat kepalanya, berusaha mengumpulkan nyawanya. Bee tersentak, lalu pergi ke arah walk in closet nya, berdiam di sana untuk menenangkan debar jantungnya.
Hotpants hitam berbahan katun dengan atasan pink baby menjadi pilihannya pagi ini. Well sebenarnya ini sudah tidak pagi lagi. Jarum jam sudah menunjukkan angka 11.
"Pagi tuan putri, kamu udah mandi?" sapa Bintang yang sudah menyandarkan punggungnya pada head bed tempat tidur, semetara tangannya sibuk mengutak atik ponselnya.
Merasa tak ada jawaban, Bintang menoleh kembali pada objek cantik yang masih tak bergeming di sana. Tatapan mereka sekilas bertemu sebelum Bee berjalan ke arah nakas untuk mengambil ponselnya. Masih dengan jantung berdebar.
Cara jalan Bee yang sedikit berbeda menjadi perhatian Bintang. "Masih sakit Bee?"
Rasanya jantungnya jatuh hingga ke dasar perut. Bintang masih mengungkit sesuatu hal yang berhubungan dengan apa yang mereka lakukan semalam. Bee tahu apa maksud Bintang, karena tatapan pria itu sudah fokus pada segitiga pada bagian tubuhnya.
"Perih, kalau pipis.."
"Sini" Bintang menepuk tepi tempat tidur di sampingnya. Ragu untuk melangkah ke sana, tapi sorot mata lembut pria itu seolah menghipnotis dirinya, dan bergerak maju perlahan.
Masih dalam rangkulan, Bee di di kejutkan kan oleh tangan Bintang yang membelai miliknya. Risih dan efeknya membuat jantung Bee belingsatan, entah suaminya bisa mendengar.
"Maaf ya sayang, sudah membuat mu sakit..dan terimakasih sudah mempersembahkan milik mu yang paling berharga untuk ku" bisik nya dengan suara parau di ceruk leher Bee
Bulu kuduk nya spontan meremang. Jantung nya apa lagi, bisa kena serangan jantung dia kalau terus begini. Ga bisa, lama-lama dia bisa terbuai oleh pesona suaminya ini.
"Lepasin kak. Kakak ga ke kantor, udah siang ini" mencoba melepas pelukan Bintang yang justru semakin erat.
"Ga ah..aku mau nemenin kamu satu hari ini"
"Gue ga perlu di temenin" suara nya terdengar tercekat. Bintang sedang menggodanya, sengaja mengendus leher nya dan mencium daun telinganya.
"Tapi aku yang pengen. Istri aku udah melayani aku tadi malam, jadi pagi ini aku yang akan melayani kamu, sayang"
"Apaan sih..gaje deh, on mesum!" balas nya mencubit lengan Bintang. Bukan kesakitan, Bintang justru tertawa puas.
"Aku sudah hubungi Riko, minta dia handle hari ini. Kamu besok udah mulai masuk sekolah?"
Diingat kan hari esok, Bee baru sadar kalau masa liburannya sudah habis. Dan hari ini Tante Di pulang, dia ingin bertemu, sekalian mengambil barang-barang nya yang dia butuhkan.
Teringat komik Piter yang juga belum dia kembalikan.
Apa gue minta ketemuan aja ya sama Piter, buat mengembalikan komiknya? Lagian sekalian cari angin di luar. Besok udah fokus sekolah..
"Hari ini rencana nya mau ngapain?" tanya Bintang. Masih sama, menggosok-gosok kan hidungnya di leher mulus gadis itu.
"Aku mau kerumah Tante Di, mau ngambil barang yang aku perlukan, setelah itu mau ketemu teman ku, mau mengembalikan milik nya yang aku pinjam kemarin"
Bintang sudah memutar tubuhnya Bee agar bisa menghadap dirinya. "Teman? siapa? pria atau wanita?"