
"Aku menangis karena begitu gembira karena sejauh perjalanan hidup ku hingga saat ini, ternyata tangan mu lah yang aku genggam" Bee menarik nafas, menjeda kalimatnya.
"Aku menyadari sejak dulu aku sudah begitu jahat pada mu, mengabaikan perasaan mu, bahkan terang-terangan menghancurkan harga dirimu demi pria lain yang ku pikir adalah orang yang aku cintai. Perjalanan kisah kita itu menyadarkan ku, bahwa aku bersyukur saat itu papa menjual ku padamu" ucap nya menyelipkan senyum di bibirnya. Senyum yang tidak bisa di lihat Bintang.
"Jika saja aku tahu kalau menikah dengan mu akan sebahagia ini, sejak awal aku pasti langsung berlari ke pelukan mu" lanjutnya kembali tersenyum.
Ungkapan perasaannya itu terasa geli di telinganya. Dia merasa malu, tapi masa bodoh, dia tidak perduli. Dia hanya mengungkapkan rasa cinta nya pada suaminya.
Saat Bee lengah, Bintang berhasil melepas pelukan mereka. Kini kedua nya saling tatap. Tersihir oleh cinta yang terpancar di bola mata mereka.
"Aku lebih beruntung, memiliki istri yang luar biasa seperti mu. Kau mengubah ku menjadi pria yang bisa merasakan cinta. Hidupku sangat berwarna sejak kehadiranmu. Kadang kala kau akan mendatangkan tawa, amarah bahkan acap kali air. Tapi rasa cintaku yang besar membuatku ingin berjuang mendapatkan cintamu, karena ku sadari aku tidak akan bisa hidup tanpa mu Bee"
"Sebelum mengenalmu, aku adalah pria kosong, yang menjalani hidup tanpa gairah, seperti orang mati. Dari mu aku mengenal kata berjuang, bersabar bahkan menjelma menjadi orang yang kehilangan kewarasan saat menghadapi sikap tengil mu. Bahkan aku seorang Bintang Danendra bisa rela melepas orang yang paling ku cintai hanya untuk melihat nya bahagia, melihatnya berhenti menangis. Saat itu aku pikir, jika memang yang bisa membuatmu tertawa adalah pria itu, maka aku akan melepas mu, walau aku akan mati setelahnya"
Air mata Bee merembes di pipinya. Sesunggukan nya kembali terdengar. Bintang menangkup wajah Bee, mengecup kedua kelopak mata Bee, lalu ke pipi dan kening nya.
"Jangan menangis sayang. Jangan ada lagi air mata, biarlah sisa hidup kita, akan di penuhi dengan cinta dan kebahagiaan" bisik Bintang di atas bibir Bee.
"Aku mencintai mu, Bintang Danendra. Sangat mencintaimu, bahkan aku tidak akan bisa hidup tanpa mu" ucap Bee mengungkapkan isi hatinya yang terdalam sembari terus menangis.
Dia benci dengan dirinya yang sangat cengeng saat ini. Air mata nya seolah tidak bisa melihat situasi, saat momen romantis ini justru dia merembes di pipinya terus dan terus.
"Aku lebih mencintai mu sayang.." mungkin Bintang masih punya sambungan dari kalimat nya tadi, tapi tidak jadi soal apa pun itu karena Bee pasti akan paham. Kalimat Bintang melebur dengan ciuman hangat dari Bee pada bibir Bintang.
Gadis itu melupakan rasa malunya. Berusaha memberi tahukan besar nya rasa cintanya pada pria itu dengan terus mel*mat bibir Bintang. Mengh*sap dan membelai dengan lidah nya.
Ciuman itu berubah panas hingga Bee tercekat merasakan kekurangan oksigen di paru-paru nya. Membuat nya terpaksa melepas reli panjang itu.
"Makasih" bisik Bintang menarik Bee masuk dalam pelukannya.
"Kak.." ucap Bee lalu menarik wajah Bee hingga dia bisa membisikkan sesuatu di telinganya Bintang. Pria itu hanya tersenyum mendengar permintaan Bee.
"As your wish, my Queen"
Malam itu jadi peleburan rasa cinta mereka. Menyatu dalam hasrat dan cinta. Kamar gadis kecil yang tumbuh sendiri dan hingga kini menemukan pangerannya menjadi saksi betapa besar nya rasa cinta yang mereka miliki.
***
Bintang yang mendapat penjelasan Herman tadi sudah meminta anak buah Herman mencari orang yang sudah menghasut para penduduk itu.
"Baiklah, saya selaku pemilik perkebunan Indosawit, menyetujui permintaan bapak ibu sekalian"
Bintang mengalah, menuruti keinginan para penduduk setempat. Hitung-hitung sebagai hadiah untuk mereka sebagai ungkapan syukur nya atas perasaan cinta yang tadi malam Bee ungkapkan padanya.
Menyelesaikan masalah itu dengan cepat, berarti bisa lebih awal pulang. Dia ingin mengajak Bee dan Saga jalan-jalan sebelum besok pulang ke Jakarta. Setelah pertarungan mereka tadi malam, Bintang semakin posesif pada Bee, ingin tiap detik berada di sisi wanita itu.
Agenda mereka hari ini mengelilingi tempat bermain yang membuat Saga bergembira. Setiap gerakannya, tidak hentinya Hutomo menemani cucu kesayangan. Bee ingin mandi di sungai yang mereka datangi itu, tapi Bintang melarang nya. Dia tidak ingin tubuh Bee di lihat orang-orang yang mandi di sana. Lagi pula airnya juga sangat kotor.
Puas bermain air, mereka melanjutkan berkeliling dan terakhir menikmati makan malam di salah satu mall tertua di kota itu.
Dulu saat remaja, mall itu jadi salah satu tempat Bee dan geng nya menghabiskan waktu sepulang sekolah.
Puas belanja cendramata, mereka pulang ke rumah. Rasa lelah pada tubuh mereka tidak terasa, hilang digantikan rasa gembira. Bee sudah selesai membersihkan diri, begitu pun Bintang. Duduk bercengkrama di bersama Hutomo. Bee merasa malas untuk mengikuti pembicaraan para pria itu yang membahas seputar sawit dan para pekerja. Bee merebahkan kepalanya di pundak Bintang hingga lama kelamaan gadis itu jatuh tertidur.
Melihat hal itu Hutomo hanya tersenyum. Meminta Bintang untuk membawa Bee ke kamar dan agar beristirahat.
Pagi nya, sebelum pulang ke Jakarta, Bintang harus mengurus dokumen ke kantor nya bersama Herman.
Membunuh kebosanan, Bee membuka lemari nya, dan mengeluarkan semua barang-barang nya sewaktu sekolah. Banyak kenangan berupa curhatan hati nya mengenai Elang tersimpan di sana. Bee merasa tidak pantas lagi menyimpan benda itu lagi. Itu hanya masa lalunya, masa remaja yang dibutakan oleh rasa kesepian dan ambisi. Setelah di usia nya kini baru lah Bee sadar itu bukan cinta.
Ketukan di pintu menyentaknya keluar dari lamunan panjang nya.
"Masuk.."
"Non, ada tamu nyariin nona"
"Siapa bi? ya sudah lah, aku akan segera turun"
Siapa pun dia Bee yakin adalah orang sini. Salah satu tetangga nya atau pun teman nya bermain dulu. Dia memang rindu bertemu orang-orang tumbuh bersama nya di kota ini. Ketiga teman masa kecilnya, semua ada di kota, jadi pasti yang datang bukan lah salah satu dari mereka.
Tubuh Bee kaku saat melihat tamu yang datang mencari nya ternyata adalah Elang!