Sold

Sold
Sepasang anting



Satu atap, tapi tidak saling sapa. Keadaan yang terjadi pada Piter dan Kinan. Malam itu terjadi pertengkaran hebat, amarah Piter yang tidak pernah Kinan lihat selama mengenal pria itu harus di saksikan saat menolak permintaan Kinan untuk bercerai.


"Jangan bercanda, kata itu tabu untuk di ucapkan oleh suami istri"


"Aku ga bercanda, aku serius" Kinan melewati Piter diambang pintu untuk berjalan ke ruang tengah. Semua sudah Kinan pikirkan. Tidak ada alasan mempertahankan pernikahan mereka. Dulu mereka menikah karena terpaksa, ada bayi yang butuh tanggung jawab, tapi kini semua nya tidak perlu lagi.


"Aku ga mau bercerai!" nada suara Piter sudah semakin tinggi.


"Ayo lah, bukan kah ini yang kau ingin kan? dulu juga kau setengah mati mengelak dari pernikahan ini. Tidak perlu kau sembunyikan, aku tahu kau senang jika kita bercerai"


Piter menatap Kinan. Ingin rasanya mencekik wanita itu karena punya pikiran seperti itu. Justru setelah insiden keguguran Kinan, Piter semakin ingin bersama Kinan, ingin melindungi wanita itu.


"Buang pikiran itu jauh-jauh. Ayo lah Nan, bukan karena kita baru kehilangan calon anak hingga harus bercerai. Kita masih muda, masih bisa punya anak lagi. Kau mau berapa? dua? empat? enam? aku sanggup memberikannya" ujar nya duduk di meja agar bisa saling berhadapan dengan Kinan. Tangan mereka saling bersentuhan hingga membuat Kinan menatap jengah pada pria itu. Kinan bahkan bersandar pada sofa agar diantara mereka mempunya ruang.


"Entah itu perkataan dari hati atau sekedar dari mulut mu saja, tapi aku tidak perduli. Aku tetap ingin bercerai" Kinan sudah berdiri meninggalkan Piter yang duduk menunduk.


Satu Minggu berlalu, kedua nya tampak semakin asing, walau yang lebih menjaga jarak adalah Kinan. Piter mengikuti keinginan Kinan untuk saling diam hanya karena pria itu ingin memberikan waktu untuk wanita itu tenang sebelum kembali membujuk dan membahas masalah mereka. Apa pun yang terjadi, Piter tidak akan mau melepaskan Kinan.


Terlalu dini untuk mengatakan kalau Piter sudah jatuh cinta pada gadis itu. Bagaimana pun rasa nya mencintai seseorang pun dia tidak tahu, karena belum pernah, tapi yang jelas Piter tidak ingin kehilangan gadis itu, dan mengikatnya dalam ikatan pernikahan adalah jalan satu-satunya.


***


Kinan baru keluar dari lift dan berjalan ke arah lobby kantor saat ponselnya berbunyi.


"Halo Bu" sapa nya penuh hormat.


"Kamu apa kabar? kamu sehat nak? kami lagi dimana Kinan?" pertanyaan mertuanya bertubi-tubi. Sudah seminggu sejak dia keluar dari rumah sakit, itu adalah terakhir kali dia bertemu dengan mertuanya. Walau hampir setiap hari Bu Salma selalu menyuruh orang untuk mengantar jamu dan rempah-rempah untuk Kinan.


"Aku baik Bu. Ini baru mau pulang ke rumah, masih di lobby kantor. Ibu apa kabar?"


Percakapan lewat telpon terus saja berlanjut hingga Kinan sampai di apartemen. Lima puluh persen dari pembahasan mereka adalah wejangan dan nasihat buat Kinan, harus bersabar dan ikhlas melepas calon bayi nya.


"Iya Bu, nanti saya sampaikan" ucap Kinan meyakinkan mertuanya. Baru membuka pintu rumah, Kinan sudah bisa mencium wangi masakan yang mampu membuat nya menelan saliva. Dorongan untuk mencari sumber wangi itu membuat Kinan sampai di ambang pintu dapur. Di sana seorang pria tampan menggunakan celemek memunggunginya sedang sibuk dengan wajan dan masakannya.


Ada getar halus melihat hal itu. Selama mereka bersama ini kali pertama Kinan melihat Piter masak di dapur. Senandung kecil dari bibir pria itu pun mampu menarik bibir Kinan untuk melengkungkan senyum.


"Eh, kamu sudah pulang" ucap Piter yang saat berbalik melihat Kinan yang tengah berdiri memperhatikan nya.


"Sedang apa?"


"Masak lah. Aku buat untuk mu" ucap nya mengangkat piring yang berisi ikan bakar lengkap sambal dabu-dabu.


"Emang nya kamu ga kerja?" Kinan mengikuti ajakan Piter untuk duduk di meja makan.


"Cuma setengah hari. Persidangan di tunda hingga Minggu depan"


Kinan mengamati bagaimana pria itu menyendok nasi ke dalam piring dan menghidangkan untuk nya. Perutnya yang memang tidak di isi siang tadi berbunyi hingga di dengar oleh Piter yang berhasil membuat pria itu mengulum bibir.


"Ayo makan.." ucap nya menyerahkan sendok ke tangan Kinan. Masakan Piter enak. Dia bahkan menyukainya. Tanpa sadar Kinan mengangkat wajah menatap Piter yang juga sedang melihatnya.


"Makan dong, udah lama kita ga makan bersama" Piter mengisi piring nya dan mulai ikut makan.


"Ibu tadi telpon, kita di minta ke sana besok. Ibu ulang tahun" ucap Kinan yang membuat Piter menghentikan niat nya menyendok nasi ke mulut.


"Kenapa aku bisa lupa hari ulang tahun ibu ya? kalau begitu kita ngasih kado apa?" tanya Piter berpikir. Dia sudah tahu ibu nya ulang tahun, karena Bu Salma juga menelpon sebelum menghubungi Kinan. Piter yang merasa jika dia yang mengajak Kinan, maka gadis itu akan menolak hingga meminta ibu lah yang mengabari Kinan. Piter yakin kalau ibu yang minta, Kinan tidak akan menolak.


"Aku juga ga tahu. Kabar dari ibu mendadak sih"


"Gini aja, habis ini kita ke mall cari kado buat ibu" usul Piter.


Beberapa toko pakaian branded sudah mereka jelajahi, niat awalnya ingin memberi tas, tapi setelah di lihat lagi, Kinan merasa kurang pas. Lalu menuju jam tangan, tapi beragam koleksi jam tangan mewah itu juga urung mereka pilih. Hingga melewati toko perhiasan.


Tatapan Kinan berhenti pada sepasang anting cantik berwarna putih yang terbuat dari berlian. Kinan bisa membaca nama anting cantik itu Cartier Nouvelle Vague Earrings.


Dari nama anting yang menyematkan nama brand perhiasan ternama, Cartier, Kinan sudah menebak harga nya pasti mahal.


Menurut pramuniaga nya, Sepasang anting yang indah ini dibuat di kota paling romantis di dunia yaitu Paris. Anting ini terbuat dari emas putih dengan berlian sebagai perhiasan utama.


"Bagus kan?" tanya Kinan melihat Piter.


"Bagus, kamu pasti cantik memakainya"


"Bukan untuk aku, tapi untuk hadiah ibu" sungut nya memanyunkan bibirnya.


"Oh..tapi aku juga mau beli ini untuk mu" ucap Piter melihat jenis rancangan Cartier lainnya.


"Barapa harga nya mbak?" bisik Kinan pada pramuniaga itu.


"Rp 1 miliar, nyonya" kerongkongan Kinan tercekat. Wajar sih harga anting se-fantastis itu. Barang nya juga bagus.


"Kenapa?" tanya Piter hendak menguping bisik-bisik Kinan dan sang penjaga toko.


"Ga papa"


"Mbak, saya juga mau satu lagi. Saya pilih yang di sebelahnya" ucap Piter santai. Justru Kinan yang tersentak mendengar ucapan Piter.


"Bentar mbak.." Kinan menyeret Piter menjauh dari penjaga toko.


"Apa-apaan sih mau pesan dua. Satu aja. Kalau masih kurang, mending beli gelang, masa dua pasang anting buat hadiah ibu" sergahnya.


"Siapa bilang buat ibu dua-duanya? satu buat kamu"


"Jangan asal deh. Itu satu nya 1miliar loh"


"Terus kenapa? kamu bahkan lebih pantas mendapatkan yang lebih dari itu"