
Senyum Bintang tak hentinya lepas dari wajah nya ketika mengamati Bee yang begitu cantik mengenakan baju pengantinnya. Warna peach adalah yang pertama kali dia coba.
"Gimana kak?"
"Kau sempurna sayang. Cantik sekali" puji nya mengatakan yang sebenarnya. Bee menunduk malu, setiap pujian dan cara Bintang menatap nya selalu berhasil membuat nya tersipu malu dan menimbulkan getar di dadanya. Rasa yang selalu membuat nya bisa merasakan kebahagiaan.
"Jadi yang mana, yang peach apa yang baby pink kak?"
Bintang berdiri dari duduk nya, berjalan mendekat pada Bee. "Kau lebih cantik kalau tanpa menggunakan sehelai pun!" bisik nya mesum. Sontak pipi Bee memerah, bahkan pelayan toko itu pun ikut malu karena bisa mendengar ucapan Bintang.
Segera pelayan itu undur diri karena tahu, saat ini keduanya ingin privasi.
"Itu bukannya pengusaha sukses Bintang Danendra?" tanya pelayan yang lain pada wanita yang membantu Bee tadi.
"Iya, dan itu calon istrinya. Gila, tuan Bintang cakep banget, lebih cakep dari yang kita lihat di teve" sahutnya menenangkan debar jantung nya. Sudah satu jam menemani calon istri Bintang memilih gaun, dan selama itu juga Wati, nama gadis itu, melirik ke arah Bintang, mengagumi pria yang begitu di puja banyak kaum hawa di negeri ini.
"Tapi bukan nya tuan Bintang di kabarkan dekat dengan model cantik Stella Orion?" timpal wanita yang lainnya.
"Biasalah, kaum selebriti. Nyatanya tuan Bintang nikah nya sama nona Bellaetrix. Cantik, anggun dan juga ramah. Ga sombong, dia juga kan model dan bintang iklan" puji Wati, yang
diangguk yang lain.
Warna gaun pengantin yang jadi pilihan Bee akhirnya bukan berwarna pink atau pun peach, melainkan warna biru.
Itu pun dari saran Seba yang buru-buru minta maaf, karena sudah terlambat sampai di butiknya sendiri.
Saat Riko menghubungi dan mengatakan kalau Bintang akan datang ke studio sekaligus butiknya, Seba masih ada di Bandung, menghabiskan liburannya dengan pria kesayangannya.
Seba sudah mendengar kalau pernikahan Bintang dan Bee akan di adakan beberapa hari lagi, tapi harus nya fitting baju pengantin bukan hari ini, tapi besok. Itu lah alasan nya mengapa Seba masih di Bandung.
"Maaf bos, Eike terlambat"
"Bosan hidup lo?" hardik Bintang, yang langsung mendapat cubitan pelan di pinggang nya dari Bee yang duduk di sampingnya.
"Kakak, jangan marahi kak Seba. Dia juga udah buru-buru dari Bandung. Janjinya juga kita fitting besok, kan?"
"Thanks sweetie, jelaskan sama laki lo, gue juga punya lekong yang mau gue senengin" ucap nya membelai wajah Bee tanda terimakasih nya. Kini Seba tidak perlu takut lagi kalau mau buka suara. Selama ada Bee, dia aman.
"Iya sayang. Aku cuma ga sabar lihat kamu pakai gaun pengantin pilihan mu"
"Jadi fix ya nek, ini yang yei pilih, cucok sih" ucap Seba memperhatikan kain yang di pilih Bee.
"Beneran bagus kan kak? ga terlalu berani, gitu?" sahut Bee menggigit bibir bawahnya. Dia kalau gugup dan bimbang selalu begitu.
"Sayang, jangan gigit bibir mu, itu tugas ku. Nanti berdarah. Ini lebih nikmat di em*t" ucap Bintang menutup aksi protes yang coba Bee ucapkan. Mel*mat bibir itu bergantian, atas dan bawah hingga deru nafas Bee bisa dia rasakan.
"Nih, dengar ya cantik. Warna biru mengingatkan pada langit dan lautan menandakan ketenangan dan kedamaian. Warna ini juga merupakan simbol kemurnian dan awal sebuah perjalanan" terang Seba yang benar-benar di simak Bee.
"Ini aja kak. Ini sebagai simbol kalau aku dan kak Bintang akan memulai perjalanan baru kami" ucap Bee menatap Bintang penuh cinta. Dan tatapan itu berhasil membuat jantung Bintang maraton dan nafas nya tercekat hanya dengan menatap wajah cantik dengan tatapan memukau itu.
"Seba, bisa siap kan kami ruangan, untuk dua jam ke depan?" ucap nya membelai tengkuk Bee dengan lembut. Belaian itu berhasil membuat bulu kuduk Bee meremang.
"Dasar pasangan gila. Ok, kalian bisa pake ruang istirahat gue di belakang" ucap Seba mengambil kain pilihan Bee dan akan segera mulai mengerjakan gaun gadis itu.
"Iih, ga kak Seba. Kakak, apaan sih. Ga ingat kata ibu?"
"Tapi di sini ga ada ibu, Bee. Aku menginginkan mu. Udah berapa lama aku puasa Bee, semenjak kita cerai, aku puasa, paling sabun mandi yang membantu ku" bisik nya kesakitan. Celana nya juga tampak membengkak dengan bangun nya senjatanya di bawah sana.
"Sabar kak. Dua Minggu lagi juga kita halal ngelakuin itu" ucap Bee membelai wajah Bintang. Tapi itu bukan membantu justru membuat Bintang semakin belingsatan.
"Aku ke kamar mandi dulu yang"
"Mau di buang?" mata Bee membulat.
"Mau gimana lagi, sakit yang. Dari kemarin sudah di ubun-ubun" sahut nya berdiri dari duduknya.
"Sayang dong. Gimana kalau itu ternyata calon jendral?" goda Bee yang lucu melihat wajah tersiksa Bintang tapi kasihan juga melihat cinta nya tersiksa begitu.
"Tenang aja, masih banyak stok Jendral, dokter, pengusaha, dan juga ilmuan dari sini" ucap nya melangkah pergi.
Mobil sudah berhenti di depan gerbang. Tapi tawa tertahan Bee belum juga sirna. Sepanjang jalan dia tidak berhasil menghalau pikirannya.
"Udah dong sayang ketawain aku. Bukan nya kasihan" rungut Bintang manyun.
"Iya kasihan. Nanti malam nerusin, kita puas puasin ya kak. Sampai pagi, pakai segala macam gaya, dari depan hayuk, dari belakang oke" ucap Bee masih menahan tawa.
"Ga usah mancing deh Bee. Nanti aku lupa diri. Mobil ini bergoyang loh nanti aku buat" ancam nya berusaha menghalau pikirannya yang justru membayangkan perkataan Bee.
"Iya, maaf. Udah pulang sana"
"Masih kangen yang"
"Nanti si gembul bangun lagi loh" goda Bee tertawa puas, membuka seatbelt nya.
Penyiksaan menunggu dua Minggu itu begitu sakit. Kalau bisa memilih, Bintang mau di tukar dengan beberapa persen saham nya asal besok bisa langsung menikahi Bee.
Dia memang sudah di penuhi kegilaan pada Bee. Seolah wanita itu adalah udara untuk nya agar bisa bernafas. Setiap hari harus mendengar suara wanita itu. Bintang takut, kalau pada suatu pagi, dan menghubungi Bee, gadis itu tidak tiba di hubungi dan malah sudah pergi dari nya.
Kekhawatiran yang tidak beralasan memang. Tapi rasa cinta yang begitu besar membuat nya tidak sanggup kehilangan gadis itu lagi.