Sold

Sold
Masih marah



Pagi menyapa, Bee rasanya enggan untuk bangun. Kepalanya sakit seperti baru di hantam benda keras. Kenyataannya dia memang baru tiga jam jatuh dalam buaian mimpi, namun saat Saga naik ke tempat tidur, dan meminta perhatian, Bee terpaksa memaksa kelopak matanya untuk terbuka.


Awal nya dia menduga ciuman di tiap inci wajahnya adalah pemberian Bintang, tapi saat tangan mungil itu membelai pipinya dan mengeluarkan celotehan nya, baru lah Bee sadar, Bintang masih marah padanya. Hal itu di kuatkan bagian di samping nya sudah kosong. Perlahan di raba,terasa dingin yang berarti Bintang sudah lama bangun.


"Bangun ma, hali ini kita ke lumah Oma Di. Ingat kan?"


"Ouuh..iya sayang, sebentar ya" jawab Bee dengan suara serak. Kepalanya masih terasa berputar, pusing yang amat sangat kuat.


"Papa mana?"


"Udah pelgi kelja" sahut Saga cuek, ikut berbaring, dan masuk ke dalam selimut mamanya. Bee melirik jam pukul delapan. Suaminya berangkat kerja tanpa membangun kan dirinya. Kembali lagi kesedihan menyapanya pagi ini. Mungkin karena selama ini Bintang memanjakan nya, selalu memaafkan kesalahan apa pun yang dia lakukan, dan ketika saat ini dia di cuekin perasaannya begitu sedih.


Setengah hati Bee turun, di atas meja makan sudah ada makanan yang menunggunya. Kalau tidak mengingat anak dalam kandungan, Bee pasti memilih untuk mengabaikan sarapannya.


Dengan malas Bee mulai menyuap nasi goreng ke mulutnya. Pikirannya saat ini berpusat pada masalah yang kini dia hadapi. Memikirkan cara membujuk Bintang. Pada suapan ke tiga Bee baru menyadari rasa nasi goreng itu begitu enak. Bee menyuap untuk kesekian kali dan kembali bola mata nya membulat menatap nasi goreng itu. Rasa nya sangat familiar. Tapi karena otak nya sedang tidak bisa bekerja dengan baik, jadi tidak menyadari apa pun. Bee menghabiskan semua suapan nasi goreng hingga tidak bersisa lalu mengakhiri dengan segelas susu hamil yang biasa di buat Bintang.


***


"Cucu Oma..aduh..Oma kangen banget sama Saga" tante Di sumringah melihat kedatangan mereka. Sudah dari seminggu lalu tante nadi meminta nya untuk datang.


"Gimana kandungan kamu? baik?"


"He-eh" gumam nya sembari mengangguk. Mulutnya sibuk mengunyah cake yang baru saja diangkat dari oven.


"Pelan-pelan makan nya" tante Di tersenyum melihat Bee yang makan dengan lahap. Di letakkan nya tiga toples kue nastar di atas meja yang di sambut senyum lebar Bee.


"Banyak amat Tan?"


"Biar kamu puas makan nya. Biar ga bisa berbagi dengan Bintang juga"


Raut wajah Bee berubah mendengar nama suaminya di sebut. Saat mau pergi tadi, dia sudah mencoba menghubungi suaminya untuk meminta izin sekaligus meminta untuk menjemput mereka pulang, tapi sampai tiba di rumah tante Di, tidak diangkat. Bahkan samapi saat ini Bintang juga tidak menghubungi mereka lagi.


"Kenapa raut wajah mu sedih gitu? jangan bilang kamu lagi marahan dengan Bintang" tembak tante Di mengunci Bee. Gadis itu tidak bisa mengelak lagi hingga menceritakan kejadian yang menimpanya kemarin.


"Astaga Bee..kamu itu ya, suka banget bertindak tanpa memikirkan kesehatan dan keselamatan kamu"


Dan satu jam ke depan, Bee mendapat dakwah dari tante Di yang tentu saja menyalahkan Bee dan berada satu barisan dengan Bintang.


Sekeras apa pun Bee membela diri, tetap saja di salahkan oleh tante Di. "Kamu itu harus nurut apa kata suami. Jangan karena suami kamu baik, sampai-sampai kamu ga menghargai dia" wejangan demi wejangan mengalir dari mulut tante Di. "Kamu ga takut suami kamu jadi muak dengan sikap mu, terus kamu di tinggal? amit..amit.." ucap tante Di mengetuk pelan kepalanya.


" Tapi Kiki itu teman ku, ga mungkin aku biarin dia hampir di culik orang loh tan" tante Di diam, tidak ingin mengatakan apa pun, karena dia tahu ponakannya akan selalu punya jawaban.


Dua jam kemudian, Bee pamit pulang. Sudah pukul dua siang, tapi Bintang tidak juga memberi kabar.


"Biar diantar sama supir" ujar tante Di mengemas semua jenis makanan ke dalam tas.


"Ga usah tan. Aku bawa mobil kan. Lagian Saga minta beli mainan"


Saga mengambil dua mainan dari lima yang dia minta. Bee tidak mengizinkan karena dia ingin mengajarkan Saga berhemat. Membeli apa yang dia butuhkan bukan yang di inginkan.


"Lagi dimana Bee? boleh ketemu ga? gue udah pulang dari rumah sakit"


"Syukurlah kalau lo udah pulang ke rumah. Ok deh, gue ke rumah lo sekarang"


***


Kedua nya berpelukan erat melepas rasa rindu. Kemarin saat di rumah sakit mereka tidak bisa leluasa dan berlama-lama melepas rindu.


"Duh, cakep nya ini anak lo?" Kiki mencium pipi dan mengelus puncak kepala Saga.


"Halo tante, aku Aga" bocah pintar itu pun menarik tangan Kiki dan mencium punggung tangannya.


"Pinter nya. Lo harus cerita semua ke gue, Lo nikah ga ada ngabarin gue, dan parahnya lagi, suami lo ternyata pacar khayalan gue ya" ujar nya menarik tangan Bee untuk duduk di tepi tempat tidur, sementara Saga memilih untuk duduk tenang di sofa memutar lagu di YouTube.


"Lo benar-benar udah ga papa? udah baikan?" Bee mengalihkan rentetan pertanyaan Kiki


"Iya Bee. Aku malah ga nyaman lama di rumah sakit"


Obrolan mereka di jeda saat mama nya Kiki masuk membawa minuman dan cemilan untuk mereka. "Tante, lama ga ketemu" Bee tersenyum memeluk mama nya Kiki.


"Iya, udah lama. Sejak kalian udah pada lulus"


"Iya Tan."


"Ya udah, tante tinggal dulu"


Kini keduanya bisa leluasa bercerita. Kiki tetap menuntut agar Bee menceritakan semuanya. Wajah Kiki terperangah tidak percaya mendengar kisah Bee, dan yang paling mengejutkan Kiki, sahabatnya itu sudah menikah saat mereka masih duduk di bangku Sekolah.


"Gue doain lo bahagia selalu sama Bintang ya"


Terdengar ketukan pintu. Seraut wajah yang asing namun Bee yakin pernah melihat nya muncul di balik pintu kamar Kiki.


"Oh, kamu lagi ada tamu" ucap pria itu menoleh ke arah Bee lalu pada Kiki.


"Iya, pa. Ini Bee, teman SMA aku"


"Ok deh, lanjut aja"


Bee menyimpan tanya yang sudah bisa Kiki mengerti. "Itu bokap. Udah balik lagi ke rumah. Nyokap ngasih kesempatan, karena melihat keseriusannya minta maaf dan udah ninggalin pec*n itu" terang Kiki. Ada nada lega sekaligus rasa bahagia akan keadaan keluarganya saat ini.


"Gue ikut senang. Terus sama Kia, udah akur juga?"


"Udah Bee. Makanya gue pulang. Gue bersyukur keluarga gue udah lengkap, udah kembali kayak dulu lagi" ucap Kiki sempat menghapus air mata yang lolos di pipinya.


*Hai semua kesayangan, sembari menunggu lanjutan sold, mampir lagi yuk di novel keren ini, pasti suka..makasih😘😘