
Ruangan Bintang berubah menyeramkan. Hawa panas dari amarah Bee terasa menyelimuti seluruh sudut ruangan.
"Katakan.." tantang Bintang. Dia tidak sanggup melihat pedih dimata gadis itu terlalu lama. Ada penyesalan, kenapa Bee harus melihat nya bersama Stella di ruangan ini. Belum lagi kelakukan Stella yang sudah lancang mencium bibirnya tepat di depan Bee.
Tak ada lagi yang mungkin bisa di perbaiki. Rumah tangga nya sudah diambang kehancuran. Apa yang terjadi, biarlah terjadi. Nyatanya mereka adalah dua orang yang tidak di takdir bersama.
"Kapan surat cerai itu dapat aku tanda tangani?" delik nya mengabaikan tangan Bintang yang meminta nya untuk duduk.
"Rupanya kau sudah tidak sabar ya?" senyum sinis tergambar di wajah tampan Bintang.
"Katakan lah seperti itu"
"Pria itu mendesak mu? sudah tidak sabar untuk kembali padanya, hah?" kembali senyum mengejek untuk Bee.
"Setidaknya aku punya rasa malu. Untuk menghormati pernikahan ini dengan menjaga diriku dari orang lain" nada suara Bee naik. Amarah nya mulai kembali terpancing mengingat kemesraan mereka tadi.
"Benarkah? ayolah Bee jangan jadi orang yang munafik. Kau mungkin bisa membohongi dirimu, tapi tidak dengan ku"
"Maksud mu apa?" Bee merasa kesal di permainkan pria itu.
"Sudah lah. Aku malas untuk membahasnya. Kau ingin bercerai, ku siapkan berkasnya. Besok surat itu bisa kau tanda tangani. Kalau proses nya lancar, bulan depan kau sudah menyandang status baru mu. Janda muda..!"
Gadis itu tahu, Bintang sedang memprovokasi nya, tapi dirinya malas untuk menyambar siraman bensin dari pria itu. Ruangan mendadak sepi. Suara ponsel Bintang lah yang membuat kedua nya kembali pada kesadaran masing-masing.
"Ya..ada apa lagi? tidak, kau tidak perlu kemari lagi Stella. Ya aku tahu tempatnya"
Bee meremas jemari nya. Geram melihat Stella yang terus menghubungi Bintang. Tapi pria itu pun keterlaluan, memelihara gadis itu di sisinya sementara dirinya masih memiliki istri.
"Apakah kau tidak bisa menunggu sampai kita bercerai?" hardik Bee sesaat setelah panggilan itu usai.
Dahi Bintang mengkerut, tidak mengerti, tapi sejurus kemudian wajah tidak senang Bee membuatnya mengerti.
"Apa kau sekarang tertarik dengan siapa aku berbagi waktu?" balas Bintang santai.
"Terserah..aku tidak perduli. Kau sama menjijikkan dengan wanita itu. Lupakan, aku kemari ingin meminta sesuatu padamu"
"Katakan jumlahnya" sambar Bintang.
Tak percaya Bintang akan mengatakan hal itu padanya. Apa dia kira hanya masalah uang yang membawanya pada pria itu. Bee hanya mengulum bibirnya bentuk ungkapan kekesalan pada kebodohan pemikiran pria itu.
"Aku ga butuh uang mu"
"Benarkah? lalu apa?"
"Aku mau minta kesudianmu membiarkan aku merawat Saga setelah kita berpisah. Biarkan Saga tinggal bersama ku" ucap nya memohon membuang ego dan harga dirinya.
Bintang beranggapan mungkin telinga nya salah dengar, atau Bee yang salah ngomong. "Apa maksud mu?"
"Dan apa kau lupa perjanjian kita? apa yang mengubahmu ingin merawatnya? bukan kah kau dulu bahkan membenci kehadirannya? kau mengandung nya hanya demi mendapatkan uang untuk pria brengsek itu!"
Semua yang di ucap kan Bintang benar. Bee sadar dirinya tidak punya hak. Tapi memikirkan jauh dari Saga membuat nya sesak. Perlahan dia mendekat pada Bintang, lalu setelah tepat di hadapan pria itu, gadis itu menjatuhkan lututnya, memohon pada Bintang.
"Aku mohon kak. Izin kan aku merawatnya. Paling tidak sampai umurnya lima tahun dan dia siap berpisah dengan ku" ucap nya tiba-tiba.
"Aku tidak setuju. Saga akan tetap bersamaku" ucap nya tanpa ekspresi.
"Kak..aku mohon. Aku tidak sanggup berpisah dengan Saga. Batin ku sudah menyatu pada anak itu. Kasihanilah aku kak.."
"Kalau begitu jangan pergi. Tetap lah bersama ku.." wajah Bee terangkat menatap Bintang. Pilihan yang di buat pria itu seolah dirinya tidak menginginkan perpisahan mereka. Untuk apa di pertahankan sementara dirinya juga sudah bermain di belakangnya.
"Tidak, aku tidak bisa bersamamu" sahut nya. Membayangkan mereka tetap jadi suami istri sementara di belakangnya Bintang nanti akan diam-diam atau terang-terangan menemui Stella. Tidak, dia tidak ingin kehidupan yang seperti itu. Lagi pula ada Elang yang menunggu nya.
Hati nya hanya untuk Elang, yang setia menunggunya. Bukan jenis pria yang tidak betah dengan satu wanita.
"Terserah padamu. Kalau kau tidak mau, jangan pernah lagi bahas masalah ini. Saga milik ku, anak ku, dia hanya akan tinggal bersama ku" putus Bintang.
Langkah yang lesu dan tak berdaya membawa Bee pulang ke rumah. Usahanya gagal. Hingga detik terakhir pun, Bintang tak bergeming. Tetap pada pendiriannya.
Nyut-nyut yang tadi bergelayut di kepala nya kini sedikit berkurang setelah Bee selesai mandi. Dipandangi nya wajah damai Saga yang tertidur pulas setelah tadi mandi dan menyusu.
Ada bulir hangat mengalir di pipinya. Mungkin jika hari ini dia tidak melihat apa yang di lakukan Bintang bersama Stella, dan pria itu meminta nya untuk tinggal selama nya bersama nya, melupakan perjanjian terkutuk itu, mungkin Bee akan melakukannya. Memilih untuk bersama demi Saga. Melupakan Elang. Tapi kini hati dan kepercayaan sudah di rusak. Tak ada jalan lain, selain perpisahan.
***
Sesuai apa yang di katakan Bintang, surat perceraian itu kini ada di hadapannya yang di bawa oleh pengacara Bintang.
Bee tidak mengerti secara keseluruhan, tapi dari apa yang di terangkan pria awal lima puluhan itu, Bintang tetap menafkahi nya tiap bulan, dengan jumlah yang sangat fantastis.
Merasa terhina, Bee menolak isi surat itu dan meminta untuk merevisinya. Dia ingin berpisah tanpa uang tunjangan atau pun harta yang dibagi Bintang berupa rumah, mobil dan tanah. Sepeserpun dia tak ingin membawa apa pun dari pria itu.
Pengacara itu pun akhirnya pulang. Esok nya pria itu datang kembali, tapi karena Bee sedang berada di kampus, akhirnya harus menunggu Bee pulang.
Setelah membaca surat itu, Bee setuju dan menandatangani surat itu. Tinggal menunggu panggilan dari pengadilan.
Hari Minggu nya, Bintang datang melihat Saga. Saat dia tiba, Bee bermain dengan bayi itu di taman rumah. Saga tampak semakin gendut dan sehat.
"Halo anak papa, lagi apa?" sapa nya berlutut di hadapan Bee.
Tak ada jawaban yang tentu saja karena Saga belum bicara, tapi wajah Bee yang masam melihat Bintang membuat pria itu berdiri, menatap gadis itu. Masih sama. Ada rindu untuknya.
"Kenapa kamu tidak menerima semua yang aku tawar kan? aku tidak ingin orang mengatakan aku begitu pelit pada mantan istri ku" ujar Bintang duduk di hadapan Bee.
"Terimakasih atas niat baik mu. Tapi maaf, aku tidak membutuhkannya. Dan setelah kita resmi bercerai, aku akan pergi dari rumah ini"