Sold

Sold
Mantan yang masih berharap



"Maaf kak, aku tidak bisa menikah dengan mu tanpa restu papa ku" ucap Bee menatap Bintang. Semua orang yang ada di ruangan itu menatap Bee tak percaya. Mereka pikir Bee pasti akan memilih Bintang.


"Ayo nak" ucap Hutomo merangkul Bee, namun gadis itu melepas rangkulan tangan Hutomo sebelum mereka berbalik.


"Papa, aku salah karena sudah merahasiakan biduk rumah tangga ku, hingga berujung perceraian. Dan aku juga minta maaf karena ingin kembali pada mantan suamiku tanpa bicara terlebih dulu pada papa"


Bee menahan laju air matanya. Menarik dua tiga tarikan nafas sebelum melanjutkan ucapannya.


"Tapi satu hal yang papa perlu tahu, jika papa tidak mengizinkan ku menikahi kak Bintang, aku akan menurut, tapi saat papa membawa ku keluar dari ruangan ini, saat itu pula lah aku, Bellaetrix, putri papa satu-satunya sudah mati. Aku tidak akan pernah menatap kebahagiaan lagi dalam sisa umur ku kecuali bersama pria itu. Hanya dengan dia aku bisa bahagia papa. Aku hanya mencintai pria itu..ayah dari anak ku.." ucap Bee menarik tersedu-sedu, bahkan bahunya sampai terguncang menahan perih tangis nya. Tak kuasa menahan tubuhnya dengan sisa tenaga yang ada, Bee menjatuhkan diri terduduk di lantai, sujud di hadapan papa nya.


Semua menyaksikan hal itu, menjadi saksi dan perjuangan cinta mereka. Bintang bahkan menghapus air matanya yang turun di pipi ta mendengar lantunan indah kalimat Bee.


Dia tergoda untuk merengkuh tubuh gadisnya, tapi Hutomo lebih dulu mengangkat Bee dari duduknya.


"Kebahagiaan mu yang paling utama, putriku. Jika pria itu yang bisa memberikan nya padamu, maka pergi lah, restu ku bersama mu" ucap Hutomo ikut menangis. Bee begitu terharu, menghambur pada pelukan papanya.


"Kau, jaga putriku. Jangan sakiti dia. Pria yang pertama kali dia cintai bukan kau, tapi aku. Pria yang pertama kali menangkap nya saat terjatuh, bukan kau tapi aku. Dan aku tidak ingin kau menyakiti hatinya. Jika kelak dia berubah, atau pun kau tidak lagi mencintai, kau cukup menghubungi ku, aku akan datang menjemputnya, dan kau boleh melanjutkan hidup mu lagi. Mungkin kau akan jadi suami ya, tapi selama nya dia adalah putri yang ku kasihi.."Bee semakin larut dalam tangisnya.


Terimakasih papa..


Bee hanya tersenyum mengingat rangkaian kejadian mengharukan itu. "Kenapa senyum?"


"Ga. Aku cuma membayangkan, bagaimana kalau sampai detik terakhir, papa tetap tidak mengizinkan kita pergi?" ucap Bee mengikuti gerakan kaki Bintang di lantai dansa.


"Aku akan menculik mu. Membawa mu ke pulau terpencil, hidup berdua saja dengan mu hingga tua dan mati bersama" sahut Bintang tak melepaskan tatapannya dari bola mata indah itu. Dia sendiri begitu tidak mengerti sejak kapan cinta nya sebesar itu pada gadis ini. Yang dia tahu, dia tidak bisa hidup tanpanya.


"Lalu Saga?"


"Ada nenek nya"


"Perusahaan?"


"Ada Piter" sahut Bintang cepat. Tidak ada yang lebih berarti dari Bee dalam hidupnya.


"Aku mencintai" bisik Bee mengungkap semua isi hatinya.


"Aku lebih mencintaimu" Bintang menutup kalimat nya dengan ciuman panjang dan dalam di depan ratusan pasang mata yang tengah memandang mereka di lantai dansa seiring musik berhenti. Terdengar tepuk tangan riuh menyelamati mereka.


"Kenapa wajah mu tersipu? jangan menunduk. Tegak kan wajahmu. Kalau kau bersikap seperti itu, seolah kau malu bersanding bersama ku" ucap Bintang tersenyum.


Ucapan yang meminta Bee untuk berani mengklaim statusnya kini sebagai nyonya Danendra. Menyandang nama itu di belakang nama nya memiliki arti tersendiri dan jujur saja sedikit beban untuk Bee.


"Ibu, harus berapa lama lagi kami berdiri di sini? aku sudah ingin sekali membantu Bee melepas pakaian nya yang tampak berat dan menyusahkan nya"


Ucapan gamblang dan terkesan tidak tahu malu Bintang membuat wajah Bee kembali memerah malu. Dia hanya bisa mengutuk suaminya yang mesum itu.


"Eh..benar Bu. Aku masih mau di sini" ucap nya menyelamatkan diri. Dia tidak perduli dengan tatapan suaminya yang tampak kecewa sang istri tidak bisa di ajak bekerjasama.


"Selamat ya" suasana tiba-tiba menegang saat Stella datang bersama teman-teman model lainnya, menyalami dan mengucapkan selamat pada pengantin. Pada Bee, Stella hanya tersenyum, tidak ingin sedikitpun menyalami wanita itu, kontras sekali pada Bintang. Stella mencium pipi Bintang seraya membisikkan kata selamat yang tidak tulus.


Sang ular masih menabur bisa nya, berharap suatu hari Bintang akan jenuh pada pernikahan dan mencari kesenangan dengan dirinya.


Bee sempat melihat tingkah genit Stella, tapi cepat di alihkan nya pada tamu undangan lainnya yang ada di depannya. Hingga Stella turun panggung, Bee masih diam.


"Yang, kenapa diam? kamu capek? kita cabut yok ke kamar" tawar Bintang yang langsung di sambut Bee tidak bersahabat.


"Ga, aku masih mau di sini, sampai semua tamu pulang"


Bintang yang tidak paham alasan ngambek Bee hanya bisa menarik nafas. Baru juga beberapa jam nikah, istrinya udah ngambek.


"Hei, lo cantik banget. Selamat buat pernikahanmu" ucap Seseorang yang berhasil membuat mood Bee naik.


"Kya...Aaa..makasih lo udah datang" ujar Bee gembira.


"Kado nya nyusul ya. Tadi gue ga mau datang sebenarnya, tapi gue pikir lagi, kenapa ga datang aja, siapa tahu di detik terakhir lo nyesal udah nikah sama dia, dan mau gue ajak kabur" ucap nya tertawa.


"Iih, Kya apaan sih lo!" Bee akhirnya tertawa.


Eheem..


Keduanya tersadar oleh dehem-an Bintang yang sangat jelas mendengar semua.


"Selamat ya, untuk sekarang lo udah berhasil" ucap Kia beranjak ke depan Bintang, menyalami pria itu.


"Untuk sekarang? maksud Lo?" tanya Bintang tidak senang. Siapa yang sudah mengundang pria br*ngsek ini? yang berpotensi menjadi pebinor dalam rumah tangga nya.


"Iya, gue masih berharap dapatkan cinta Bee. Jadi, lo coba aja sia-siakan dia, biar gue rebut" ucap nya tanpa bersalah menepuk-nepuk pundak Bintang dan berlalu. Kia bahkan masih sempat mendengar makian dari Bintang yang membuat nya semakin tertawa.


"Yang, kenapa sih dia di undang?"


"Loh, emang kenapa? dia kan teman aku" sahut Bee cuek.


"Tapi kan kamu tahu dia suka sama mu"


"Itu Stella juga kakak tahu dia suka sama kakak tapi tetap kakak undang juga" dan Bintang mati kamus. Mana mungkin bisa menang lawan nyonya Danendra.


Berdoa saja Bintang, semoga malam pertama, bukan malam nerusin mu nanti tidak di pending oleh sang permaisuri!